MEDIARETORIKA.com–Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI (UPI) Sumenep menyampaikan berbagai tanggapan usai diumumkannya penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
Pasalnya, jumlah mahasiswa yang dinyatakan lolos dinilai tidak sebanding dengan total pendaftar yang membludak. Kondisi tersebut memicu kekecewaan di kalangan mahasiswa, terutama di sejumlah Program Studi (Prodi).
Ketimpangan itu terlihat jelas di beberapa prodi, seperti Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Pendidikan Matematika (PMTK), dan Bimbingan Konseling (BK). Dari total 97 pendaftar di tiga prodi tersebut, hanya 11 mahasiswa yang dinyatakan lolos sebagai penerima KIP Kuliah.
Berita Terkait: Penyerapan KIP di PJKR UPI Sumenep Tak Capai 10 Persen, Sejumlah Mahasiswa Diminta Berhenti Kuliah
Berdasarkan data yang berhasil Mediaretorika.com himpun, berikut rincian persentase pendaftar dan penerima KIP di tiga prodi tersebut:
PBSI: 12,7 persen dari 55 pendaftar (7 penerima)
PMTK: 11,7 persen dari 17 pendaftar (2 penerima)
BK: 8 persen dari 25 pendaftar (2 penerima)
Jika dikalkulasikan, total penyerapan KIP di tiga prodi tersebut mencapai 11,3 persen. Secara akumulatif, angka ini hanya menyumbang sekitar 2 persen dibandingkan dengan total pendaftar dari seluruh prodi di UPI Sumenep.
Salah satu mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Dewi Ana Maufiro, menyayangkan sikap kampus yang dinilai kerap menunda pengumuman hasil seleksi.
“Kampus selalu menunda pengumuman. Seharusnya diumumkan September, tetapi diulur hingga Desember. Ini membuat mahasiswa terlalu berharap,” ujarnya.
Menurut Dewi, penundaan tersebut berpotensi mengecewakan mahasiswa, terlebih bagi mereka yang menggantungkan keberlanjutan studi pada bantuan KIP.
“Tidak sedikit teman saya yang mengeluh. Kalau tidak dapat KIP, kemungkinan akan putus kuliah dan memilih bekerja,” ungkapnya.
Hal serupa dirasakan Livrina Cahyani, mahasiswi Prodi PBSI. Setelah kehilangan ayah sebagai tulang punggung keluarga, KIP menjadi satu-satunya harapan untuk meringankan beban sang ibu.
“Ibu saya sempat meminta saya berhenti kuliah ketika KIP tidak cair. Sakit rasanya mendengar itu, karena saya masih sangat ingin lanjut kuliah. Tapi di sisi lain, saya tidak ingin menambah beban ibu,” keluhnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak kampus belum memberikan keterangan resmi terkait keterbatasan kuota maupun keterlambatan pengumuman penerima KIP Kuliah.
Reporter: Ridho
Editor: Dita












