
MEDIARETORIKA.com–Dua mahasiswa pertukaran mahasiswa merdeka (PMM) angkatan 3 dari STKIP PGRI Sumenep merasa terkesima. Sebab, perguruan tinggi yang mereka tempati sangat indah, begitupun dengan masyarakatnya.
Diketahui, kedua mahasiswa itu adalah Moh. Nurul Hidayat di Universitas Baiturrahman, dan Sofwanul Haqiqi di Universitas Adzkia Kuranji. Dua universitas tersebut sama-sama bertempat di Kota Padang, Sumatera Barat.
Meski PMM sudah berjalan sekitar dua bulan, Moh. Nurul Hidayat begitu betah. Hal tersebut disebabkan keberagaman budaya dan peninggalan sejarahnya. Ditambah warga setempat sangat ramah.
“Ada banyak arti kehidupan yang cukup dalam, mulai dari penyambutan yang hangat dari perguruan tinggi,” sampainya, Rabu (15/11/23).
Dayat menambahkan, falsafah budaya minang dapat dijadikan pedoman, seperti “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (Adat berdasarkan syariat, syariat berdasarkan Al-Quran).
“Hal itu merupakan salah satu filosofi hidup yang menjadikan islam sebagai landasan utama dalam tata pola perilaku dalam nilai-nilai kehidupan,” imbuhnya.

Tidak beda jauh dari Dayat, Sofwanul Haqiqi mengatakan bahwa program ini mengesankan. Sebab dirinya sekarang mengetahui sedikit bahasa minang, seperti “dima bumi di pijak, di sinan langik dijunjung”. Karena ini, Haqiqi maju dan berkiprah di segala sektor.
Dirinya juga menceritakan, terdapat banyak program yang diikuti. Seperti program pamungkas modul Nusantara, kolaborasi dengan PMM Pusat, serta kegiatan non akademik, seperti diskusi dengan BEM.
“Bahkan saya pernah menjadi panitia pada acara training legislatif yang di adakan oleh majelis permusyawaratan mahasiswa Universitas Adzkia,” pungkasnya.
Reporter: Zainuddin
Editor: Iqbal











