Emak-emak Bergelar Doktor: Kisah Inspiratif Suhartatik Menyeimbangkan Dapur, Keluarga, dan Disertasi

0
571
Ilustrasi by Mediaretorika.com

MEDIARETORIKA.com–Siapa sangka sosok perempuan yang penuh carut-marut kehidupan rumah tangga, hari ini dapat berdiri tegak, dikenal oleh kaum muda, mahasiswa-mahasiswi, hingga menjadi elemen penting di masyarakat.

***

Suhartatik dengan nama pena Tika merupakan seorang ibu rumah tangga. Layaknya ibu-ibu komplek pada umumnya, Tika juga sering berkesibukan.

Namun bedanya, kesibukannya bukan hanya di dapur atau di sudut-sudut rumah yang berantakan, bukan juga di PKK; melainkan di dunia akademis. Perempuan yang akrab disapa Tika atau Suhartatik kini menyandang gelar doktor. Atau, kita sebut saja sebagai: Emak-emak Bergelar Doktor.

Julukan itu sesuai dengan proses yang dijalani Tika untuk memperoleh gelar itu. Seperti harus menyeimbangkan tugasnya sebagai ibu rumah tangga sembari menyiapkan data-data penelitian demi kebutuhan disertasi.

“Perjalanannya tentu tidak mudah. Saya menempuh pendidikan sambil tetap mengajar, mengasuh keluarga, bahkan harus menyelesaikan disertasi di tengah keterbatasan sumberdaya,” ungkap Tika dengan semangat menggebu-gebu.

Tak heran, jika dulu ia sempat dikenal sebagai mahasiswi dengan lulusan tercepat. Lulus dalam waktu 2 tahun 7 bulan dan memperoleh IPK 3,97.

“Ini merupakan hal yang tak pernah saya sangka sebelumnya,” ungkapnya.

Tak segampang itu, Tika bercerita, ia dilahirkan di keluarga yang sederhana. Ayah dan Ibunya merupakan seorang petani yang jauh dari dunia akademik.

Pada masa kanaknya, jika mau mendapatkan uang saku, Tika biasanya harus membawa pikulan dengan dua jerigen terisi air yang tergantung di pundaknya untuk menyirami tanaman orang tuanya. Dari situlah Tika bisa mendapatkan uang.

“Kalau tidak nyiram tembakau, ya membantu usaha tetangga. Dari itu saya dapat uang,” beber Tika.

Ikuti dan aktifkan notifikasi Saluran WhatsApp Mediaretorika.com

Meski demikian, Tika tak merarasa berkecil hati. Ia menegaskan, penyebab kesuksesannya kini, karena tekad kuat yang dimilikinya untuk bertahan dan melangkah.

“Perempuan bisa berpikir besar dan melangkah jauh,” ucapnya.

Saat ini, Tika atau Suhartatik juga dikenal sebagai Kepala Prodi (Kaprodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) di kampus STKIP PGRI Sumenep yang sekarang bertransformasi menjadi Universitas PGRI (UPI) Sumenep.

Sebagai Kaprodi, Tika telah menorehkan prestasi gemilang bagi kampusnya. Bahkan mencatatkan sejarah baru, yakni: Prodi PBSI terakreditasi Unggul pertama yang ada di pulau Madura.

Tak berhenti di situ, “Emak-emak Bergelar Doktor” ini juga masih eksis di komunitas-komunitas literasi. Semangatnya itu didorong oleh motivasi yang ia pegang: belajar sepanjang hayat.

“Motivasi terbesar saya yaitu keinginan untuk terus belajar dan menjadi bagian dari perubahan,” jelas Tika.

Tika sedikit membocorkan resep kegemilangannya yang ia kantongi selama ini. Dimulai dari disiplin, goal yang jelas, serta memanfaatkan setiap peluang untuk produktif. Baginya, waktu adalah kunci.

“Saya belajar mendisiplinkan diri, menyusun strategi, dan memanfaatkan setiap celah waktu untuk produktif. Kuncinya adalah jangan menunda, karena penundaan adalah awal dari kekalahan,” ungkap perempuan itu.

Tika juga menyampaikan dukungannya kepada sesama perempuan untuk tidak gampang berkecil hati. Menurutnya, semua orang punya potensi yang harus digali, termasuk kaum perempuan.

“Jangan ragu untuk bermimpi setinggi langit, karena langit pun bisa kalian tapaki jika terus melangkah,” tegas Tika.

Reporter: Dita

Editor: Miftah

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here