Oleh: Nadif
Bayangkan sebuah skenario yang terdengar seperti fiksi, namun nyata terjadi di depan mata kita. Kita tinggal di sebuah wilayah sempit, dengan aroma opor ayam sudah menyeruak dari dapur tetangga sebelah kanan pada hari Rabu. Di saat yang sama, masjid di sebelah kiri baru mengumandangkan takbir pada Kamis malam. Sementara itu, kita sendiri baru akan mengenakan baju koko untuk Salat Id di hari Sabtu.
Fenomena “Satu Wilayah, Tiga Lebaran” ini seolah kita hidup di dunia Multiverse. Ada tim Pemerintah, tim Ormas, hingga tim Tradisi Lokal yang menciptakan keunikan namun tidak jarang menyisakan kebingungan yang menggelitik baik di logika kalender maupun di urusan perut.
Bagi kita yang masih berpuasa di saat tetangga sudah merayakan kemenangan, godaan imannya sungguh luar biasa. Rasanya lebih berat daripada melihat mantan jalan dengan orang baru–Hiperbolis–Mendengar suara takbir di saat perut masih keroncongan menciptakan rasa canggung yang nyata padahal tanah yang kita pijak tetap sama.
Namun, di balik aroma opor yang menggoda itu, kebingungan ini sebenarnya adalah sebuah cermin yang berceletuk kepada kita: “Apakah lebaranmu itu hanya sebatas ketetapan tanggal, atau berupa ketenangan hati?”
Kita sering kali terjebak dalam perdebatan matematis yang melelahkan. Kita sibuk menghitung derajat hilal di ufuk, tapi lupa menghitung derajat kesabaran kita dalam menghadapi perbedaan. Kita khawatir Salat kita tidak sah karena beda hari, tapi kita jarang khawatir jika tali silaturahmi putus hanya karena merasa paling benar sendiri.
Jika kita bicara logika, perbedaan ini memang bikin “hang”. Secara matematis, jika 1 Syawal saja sudah berbeda, maka tanggal-tanggal setelahnya akan ikut bergeser. Bayangkan keribetannya saat kita ingin janjian atau istilah kata reunian di tanggal 15 Syawal. Satunya pakai versi A, satunya versi B. Bisa-bisa saat kita sampai di lokasi, acaranya sudah bubar atau malah belum mulai. Kalender di dinding akhirnya hanya menjadi pajangan estetika tanpa fungsi sinkronisasi yang pasti.
Namun, bukankah Islam itu simpel? Jika tahun ini wilayah kita punya tiga hari lebaran, anggaplah itu sebagai tiga pintu maaf yang terbuka lebih lama. Bagi mahasiswa dengan dompet kritis, tiga hari lebaran berarti tiga hari kesempatan untuk “perbaikan gizi” melalui jamuan di rumah-rumah warga, inilah hikmah ekonomi dan sosial di balik perbedaan ini.
Kita harus sadar bahwa Islam datang tidak untuk menyeragamkan hitungan angka, Islam hadir menyatukan detak jantung manusia. Perbedaan ini jangan dijadikan bahan debat kusir yang merusak grup WhatsApp keluarga.
Apapun pilihan hari rayamu, entah Selasa, Rabu, atau Kamis mantapkanlah hati. Esensi Idul Fitri tidak terletak pada seberapa akurat kalender yang kita gantung di tembok. Pemaknaan di sini seberapa lapang dada yang kita bawa saat bersalaman dengan sesama. Karena di hadapan Tuhan, yang dihisab bukan presisi tanggalnya, tapi seberapa bersih hati kita untuk saling memaafkan.
Penulis adalah Nadif. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas PGRI Sumenep, saat ini aktif menulis di LPM Retorika.












