Parasit di Tubuh Organisasi: Fenomena Anggota yang Hadir untuk Merusak

0
455
ILUSTRASI MEDIARETORIKA.com–Ilustrasi pion putih yang berdiri berjejer, namun dalam cermin terlihat sosok pion hitam di tengahnya. Gambar ini menggambarkan fenomena ‘anggota pengacau’ dalam organisasi—tampak sejalan dari luar, tetapi menyimpan niat merusak dari dalam.

Oleh: Syaif

Organisasi adalah salah satu bentuk peradaban manusia yang paling tua dan paling vital. Sejak dahulu, manusia tidak pernah benar-benar bisa hidup sendirian. Ia selalu membutuhkan orang lain untuk bekerja sama, bergotong royong, dan menyatukan kekuatan demi mencapai tujuan bersama.

Organisasi hadir sebagai wadah bagi manusia untuk menyalurkan gagasan, menampung energi, dan mengarahkan cita-cita agar tidak tercerai-berai. Ketika kita flashback sejenak terhadap historis sejarah, bangsa kita, bangsa Indonesia merupakan hasil dari jerih payah founding father kita, tokoh pahlawan kita, yang mereka tidak lain dan tidak bukan adalah hasil dari yang namanya buah organisasi, 1908 menjadi saksi sejarah bahwa organisasi pertama yang bersifat nasional itu berdiri, yang mana kita kenal dengan organisasi Budi Utomo yang dari organisasi tersebut mampu melahirkan pemimpin-pemimpin yang menjadi cikal bakal berdirinya negara kita.

Dalam ruang lingkup mahasiswa, organisasi acapkali menjadi laboratorium kepemimpinan, tempat untuk belajar ideologi, serta ruang tumbuhnya solidaritas. Namun, sebagaimana tubuh manusia yang tidak hanya dipenuhi oleh sel sehat, sebuah organisasi juga rentan dimasuki “parasit” yang menggerogoti dari dalam. Mereka adalah anggota yang tidak datang dengan niat tulus membangun, melainkan justru hadir untuk mengacaukan.

Fenomena ini kalau boleh saya ibaratkan sebagai pohon benalu, ketika pohon tersebut tidak dibuang jauh-jauh, maka dikhawatirkan pohon yang ditumpanginya tersebut akan mengalami yang namanya kikisan secara perlahan, yang pada akhirnya akan menjadi pohon yang lapuk akibat si benalu tersebut.

Begitulah organisasi ketika memiliki anggota pengacau. Mereka bak rayap yang memakan bagian-bagian dari tubuh organisasi, hadir dalam rapat, ikut dalam kegiatan, bahkan kadang tampak lebih vokal dibanding anggota lain. Namun, di balik itu semua, mereka menanamkan perpecahan, menebar keraguan, serta melemahkan arah perjuangan.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa seseorang mau masuk ke dalam organisasi jika tujuannya hanya untuk merusak? Jawaban atas pertanyaan ini berlapis-lapis. Ada yang datang karena dorongan politik, sebab organisasi seringkali menjadi bagian dari perebutan pengaruh maupun kekuasaan. Tidak jarang pihak luar menyusupkan orang-orang tertentu untuk memecah belah, namun ada pula yang terdorong oleh ego pribadi. Individu semacam ini biasanya masuk dengan harapan mendapat posisi strategis atau pengakuan, tetapi ketika ambisinya gagal, ia memilih merusak suasana ketimbang berproses dengan sabar.

Selain motif politik, dan ego, ada pula motif ideologis yang lebih berbahaya. Tidak jarang seseorang masuk kedalam sebuah organisasi dengan misi menyusupkan ideologi berbeda. Mereka tidak menyerang secara frontal, tetapi menanamkan keraguan, membangun blok-blok kecil di dalam organisasi, hingga pada akhirnya membuat tubuh organisasi rapuh dan mudah diguncang. Jika dibiarkan, organisasi yang semula solid bisa terpecah menjadi sempalan-sempalan kecil yang saling berlawanan.

Dampak dari keberadaan anggota pengacau ini sangat serius. Yang paling terlihat adalah konflik internal yang berlarut-larut. Agenda rapat yang seharusnya menjadi forum produktif, berubah menjadi arena adu mulut. Energi yang seharusnya diarahkan untuk mengurus isu-isu strategis, terkuras habis hanya untuk saling berdebat. Dampak lain yang tidak kalah berbahaya adalah turunnya kepercayaan publik.

Lebih jauh lagi, kehadiran pengacau juga menghambat regenerasi. Anggota baru yang masuk dengan niat tulus biasanya akan kecewa jika yang mereka lihat hanyalah konflik internal. Mereka bisa merasa muak, kemudian memilih hengkang dari organisasi yang diikutinya. Jika ini dibiarkan, organisasi akan kehilangan sumber daya mudanya dan perlahan akan mati suri. Pada akhirnya, arah perjuangan pun menjadi kabur. Alih-alih menjadi motor penggerak perubahan, organisasi sibuk berkutat dengan drama internal yang tidak pernah kunjung selesai.

Sejarah memberi banyak pelajaran bahwa organisasi besar bisa hancur bukan karena serangan dari luar, melainkan karena pengkhianatan dari dalam. Kita sering mendengar kisah-kisah infiltrasi dalam gerakan mahasiswa, ketika kekuatan kolektif yang begitu besar tiba-tiba melemah karena disusupi provokasi.

Dalam dunia politik pun demikian. Banyak kerajaan atau negara yang runtuh bukan karena kalah perang, melainkan karena elitnya sendiri saling berebut kuasa dan dikhianati orang dalam. Dari hal itu kita bisa belajar bahwa ancaman terbesar sebuah organisasi tidak selalu datang dari luar, namun justru dari orang-orang yang mengikis di dalamnya. Tan Malaka pernah menegaskan dalam Madilog, “Setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat, sepandai-pandai ilmu, jika tidak ada kejujuran, akan hancur juga.” Kutipan ini seolah menjadi cermin bahwa organisasi yang kehilangan kejujuran di tubuhnya akan hancur, bukan karena lawan, melainkan karena pengkhianat internal.

Menghadapi fenomena anggota pengacau, tidak bisa hanya dengan sikap reaktif saja, misalnya dengan cara menegur atau bahkan langkah yang lebih tegas yakni dengan cara mengusirnya.

Rocky Gerung pernah berkata “Akal sehat adalah musuh utama kebodohan yang terorganisir.” Kalimat ini penting untuk direnungkan, sebab anggota pengacau biasanya bekerja dengan cara mengorganisir kebodohan, menyebarkan isu tanpa dasar, dan membakar emosi tanpa arah. Jika sebuah organisasi terus melatih akal sehat anggotanya, maka pengacau tidak akan mudah menemukan ruang.

Maka, bagi siapa pun yang hari ini sedang berproses di organisasi, perlu disadari bahwa ancaman terbesar bukanlah dari luar, melainkan dari dalam tubuh sendiri. Waspada terhadap parasit bukan berarti curiga berlebihan, melainkan menjaga agar nilai dan semangat organisasi tetap lurus. Organisasi yang kuat adalah organisasi yang mampu menjaga kesehatan tubuhnya sendiri. Tanpa itu, sehebat apa pun cita-cita yang dibangun, ia hanya akan menjadi bangunan rapuh yang hancur digerogoti dari dalam.

Pesan dari penulis, ketika kita sudah jadi bagian dari keluarga sebuah organisasi maka jangan jadi noda hitam diatas mahkota, ingatlah sahabat-sahabatku masa keemasan islam (golden age) itu habis salah satunya karena dikikis dari dalam, tulisan ini sebagai pelajaran bagi kita semua bahwa penghinatan adalah bentuk paling keji dalam sebuah pertandingan.

*Penulis merupakan mahasiswa Prodi BK yang kini aktif menulis di LPM Retorika Universitas PGRI Sumenep

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here