Satu pekan terakhir, tidak sedikit mahasiswa yang mulai berani angkat suara tentang janji-janji pengelola kampus yang tak kalah manisnya dengan janji mantan, mereka mulai berani speak up sekalipun tidak berbicara langsung yang terdokumentasikan oleh media.
Ada dua topik besar yang cukup menjadi bahasan mereka selama tiga jam penuh, mahasiswa membutuhkan pengelola kemana batang hidung mereka? Mahasiswa diiming-imingi beasiswa sampek hari ini mana kejelasannya? Kampus memberikan deadline duta baca mana tanggung jawabnya? Itu kata mereka, bukan kata saya.
Sekilas mungkin kita hanya melihat obrolan tersebut sebagai obrolan biasa yang sering terjadi di kalangan mahasiswa, namun ada makna kegelisahan yang sebenarnya ingin disampaikan oleh mereka, makna yang tak berani terucap karena khawatir adanya intimidasi, makna yang tak pernah tersampaikan karena kurang tersedianya serap aspirasi mahasiswa khusus dari pengelola.
Memang tidak salah apa yang menjadi diskusi tongkrongan mahasiswa, sebab sedari transformasi STKIP menjadi Universitas, hal tersebut seakan sudah menjadi cemilan sehari-hari, apa buktinya? Tanyakan kepada mereka yang pernah mengalaminya.
Terdapat satu hal yang seharusnya menjadi perhatian serius oleh kampus, tentang kepercayaan mahasiswa yang mulai menurun, tentang mereka yang mulai berani angkat suara, tentang janji palsu yang membuat trauma, sederhana bukan? namun kampus belum tentu mampu mengembalikan kepercayaan mereka.
Jika pembaca sekalian memiliki pemikiran kritis, tentu ada pembahasan yang harus ditindaklanjuti, apakah desas-desus itu fakta ataukah hoaks haruslah diuji kebenarannya terlebih dahulu, sebab kabar yang beredar tidak semuanya benar, namun ketika topik tersebut terus berulang kali dibicarakan dan tidak hanya disatu tongkrongan, pertanyaan yang perlu kita ajukan, apakah itu hanya kesalahpahaman? ataukah memang kampus tidak becus dalam tata kelola dan minimnya koordinasi antar pengelola? Jika justru pertanyaan kedua yang betul adanya, maka satu kalimat yang harus kita berikan, kampus gagal menjadi universitas.
Maka dari itu sudah selayaknya sebagai mahasiswa untuk memberikan nasehat untuk kebaikan sesama, mahasiswa bukanlah objek untuk uji coba apakah mereka akan patuh atau justru akan berontak, mahasiswa bukan tempat janji manis di utarakan, sejatinya jika kita menganalogikan mahasiswa adalah masyarakat, dan masyarakat adalah tuan sedangkan pengelola kampus adalah pelayan yang diberi amanah untuk memenuhi kebutuhan dan menjalankan tanggung jawabnya.
Maka perbaikilah sistem yang ada, toh percuma kampus beralih status sedangkan yang ada didalamnya masih statis, jangan memancing mahasiswa untuk melakukan hal yang biasanya dicap sebagai pemberontak, jangan sampai memupuk mahasiswa dengan kekecewaan sehingga ujung-ujungnya akan menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan pun dan di mana pun.
Penulis: Insan Pers Mahasiswa Retorika Yang Memiliki Kepedulian Terhadap Kondisi Mahasiswa.













