
MEDIARETORIKA.com–Lahirnya Universitas PGRI Sumenep dari rahim penggabungan STKIP PGRI dan Akademi Kesehatan Sumenep menjadi tonggak awal terbentuknya dinamika baru dan harapan baru setiap wujud elemen masyarakat kampus. Di balik gedung-gedung yang kini bersatu, ada harapan baru, dan tentu saja, tanggung jawab baru yang lahir.
Salah satu sosok yang kini berdiri di garis depan perubahan itu adalah Yaqiy Ferdiansyah Nasution. Mahasiswa semester IV asal Batang-Batang ini baru saja mengukir namanya dalam buku sejarah kampus sebagai Ketua Umum pertama Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) Farmasi di bawah naungan Fakultas Sains dan Kesehatan (Sainkes) periode 2026-2027.
Bagi Yaqiy, jabatan ini bukanlah sekadar predikat mentereng. Saat namanya diumumkan, ia mengaku perasaannya berkecamuk. Ada rasa bangga yang menyelinap, namun seketika diikuti oleh beban tanggung jawab yang berat.
“Rasanya campur aduk. Bangga dan terharu pasti ada, tapi di saat yang sama saya sadar ada amanah besar yang harus dijalankan,” ungkapnya.
Baca Juga: Mahasiswa Sebut Kebijakan Kaprodi PJKR Sewenang-wenang, Peran Fakultas dan Rektorat Dipersoalkan
Sebagai nakhoda pertama di masa transisi, tugas Yaqiy memang tidak sederhana. Ia harus membangun fondasi di atas lahan yang baru saja diratakan. Ia harus menjahit sistem lama dengan ekspektasi baru, sembari menjadi penyambung lidah antara aspirasi mahasiswa dan kebijakan universitas yang tengah bertransformasi.
Tantangan terberat yang ia hadapi saat ini adalah soal “akar”. Membangun struktur kepengurusan dan budaya organisasi dari titik nol bukanlah perkara mudah. Baginya, setiap langkah awal yang diambil akan menentukan nasib HMP Farmasi di masa depan.
“Semuanya serba awal. Salah sedikit, dampaknya bisa panjang. Tapi justru di situ letak maknanya. Apa yang kami bangun hari ini akan menjadi kompas bagi HMP Farmasi ke depannya,” jelas Yaqiy.
Ia tidak ingin HMP Farmasi hanya sekadar ada. Yaqiy memimpikan sebuah organisasi yang memiliki identitas solid dan profesional. Baginya, pamer program kerja bukanlah prioritas. Ia lebih memilih kualitas dan manfaat nyata yang bisa dirasakan oleh seluruh mahasiswa Farmasi.
Ada satu keresahan personal yang membuat Yaqiy terjun ke dunia organisasi. Ia ingin mematahkan stigma klasik yang melekat pada mahasiswa Farmasi, sosok yang selalu terjebak di laboratorium dan tenggelam dalam tumpukan laporan praktikum.
“Saya ingin Farmasi tidak hanya identik dengan laporan praktikum,” paparnya.
Baca Juga: UPI Sumenep Rilis Rincian Biaya Pendidikan Mahasiswa Baru 2026/2027, UKT Rp2,3–2,7 Juta
Meski ambisinya di organisasi cukup besar, Yaqiy hadir memegang teguh prinsip bahwa tugas utama mahasiswa adalah belajar. Baginya, organisasi dan akademik bukanlah dua hal yang harus saling menjatuhkan. Kuncinya ada pada disiplin, skala prioritas, dan kepercayaan pada tim.
Kini, di tengah masa transisi UPI Sumenep, kepemimpinan Yaqiy menjadi secercah harapan. Menurut Yaqiy, HMP Farmasi diharapkan menjadi wadah berkumpul dengan organisasi guna membentuk pribadi yang berkarakter dan profesional.
“Saya ingin HMP Farmasi nanti punya peran, punya suara yang kuat, dan kontribusi nyata di lingkungan kampus,” pungkasnya.
Reporter: Fatima
Editor: Mufti











