Tertawanya Rektor di Masa Rivalitas Pemira

0
55
Ilustrasi by Gemini AI

Pada tulisan kali ini, penulis menyarankan kepada pembaca sekalian untuk mengambil secangkir kopi dan sebungkus cemilan untuk menjadi teman baca, dikarenakan tulisan ini saya rasa akan membuat sakit hati bagi yang bodoh dan untuk yang pintar insyaallah akan menjadi sebuah renungan.

Dalam jagat maya media sosial, kita sering dihadapkan dengan beberapa propaganda media yang tak lagi asing dalam dunia mahasiswa, yaps seperti yang pembaca ketahui, banyak pamflet berseliweran terkait paslon kandidat pemilihan raya (pemira), bahkan tidak jarang adanya perdebatan argumen yang berujung pada hal-hal yang tidak diinginkan.

Menjelang pelaksanaan Pemira kampus, suasana dilingkungan mahasiswa kini mengalami perubahan yang cukup signifikan, mereka yang kemarin rokok sebatang join berdua, makan di sekretariat setalam bersama, tidur berdua dalam satu bantal, atau bahkan pernah berada dalam satu barisan memperjuangkan hak-hak mahasiswa yang direbut oleh pejabat birokrasi kampus, kini mereka tiba-tiba menjadi rival politik yang tak pernah memuaskan pihak yang kalah.

Sebagaimana yang kita ketahui, tidak ada yang salah dengan adanya kompetisi, Pemira memang dirancang guna menjadi ruang kontestasi gagasan dan kepemimpinan, namun persoalannya bukan terletak pada hal tersebut, persoalannya terletak pada mahasiswa yang terlalu larut dalam rivalitas hingga mereka cenderung melupakan persoalan yang lebih besar, sehingga tak sedikit mahasiswa yang lebih sibuk memikirkan siapa calon dari sebelah dibandingkan memperjuangkan apa yang menjadi kepentingan mahasiswa secara garis besar.

Tak sedikit mahasiswa justru lebih sibuk memikirkan cara menang dalam kontestasi Pemira dibandingkan memperjuangkan apa yang menjadi kepentingan mahasiswa. Energi yang seharusnya disimpan untuk merumuskan program, mengkritisi kebijakan kampus yang tidak berpihak terhadap mahasiswa, serta mengawal hak-hak mahasiswa yang dikikis oleh tikus berdasi, energi mereka justru terkuras habis guna menyusun strategi untuk menjatuhkan lawan sesama mahasiswa. Berbagai macam cara dilakukan, mulai dari menyebarkan isu yang menimbulkan sentimen kelompok lain, membuat propaganda penggiringan opini untuk ikut membenci rivalnya, hingga praktik-praktik politik yang menghalalkan segala cara untuk menggapai egosentris masing-masing.

Ironisnya, ketika mahasiswa sibuk untuk saling menyerang, pihak yang seharusnya menjadi objek untuk betul-betul dikritisi, mereka malah menikmati tontonan gratis dibalik layar, pihak-pihak yang memiliki kewenangan besar atas seluruh nasib mahasiswa, kini tidak lagi menghadapi gerakan mahasiswa yang selalu solid dalam persoalan kawalan, namun yang mereka saksikan hanyalah seonggok mahasiswa yang bertengkar sana-sini satu sama lain.

Jika kita flashback terhadap historis sejarah, gerakan mahasiswa memiliki kekuatan bukan hanya karena banyaknya organisasi, bukan hanya karena kerasnya persaingan politik internal, melainkan karena kemampuannya membagun solidaritas dalam menghadapi persoalan bersama, misalnya kenaikan UKT, keterbatasan fasilitas kampus, jas almamater yang tidak kunjung didistribusikan, adanya lempar tanggungjawab sesama pejabat birokrasi, janji pelolosan beasiswa untuk sekolah mitra yang hanya sekedar janji busuk, dan masih banyak problematika yang lebih seksi ketimbang urusan menjatuhkan sesama mahasiswa.

Namun disayangkan, banyak fakta dilapangan yang menjadi tamparan keras, setelah pelaksanaan Pemira selesai, luka akibat konflik antar mahasiswa justru menjadi tinta permanent. Pertemanan rusak, komunikasi tidak sehangat dulu, dan organisasi cenderung terbelah menjadi sekte-sekte kecil yang berpisah dari induknya. Dilain sisi ada persoalan-persoalan mendasar yang dialami oleh mahasiswa tidak pernah terurus tuntas, seolah-olah kemenangan dalam kontestasi Pemira menjadi tujuan final perjuangan mereka, bukan justru dijadikan alat untuk memperjuangkan kepentingan mahasiswa.

Oleh karena itu, ada sebuah ironi yang perlu kita renungkan bersama, ketika mahasiswa saling mencurigai, saling menjatuhkan, dan saling menganggap semuanya adalah musuh, tidak menutup kemungkinan pastinya ada pihak lain yang tersenyum melihat kondisi tersebut. Sebab, gerakan mahasiswa yang terpecah menjadi puing-puing kecil akan sangat mudah untuk dilemahkan, mahasiswa yang sibuk berperang dengan sesamanya tidak akan memiliki cukup energi untuk mengawasi kebijakan kampus yang terkadang diluar nalar.

Penulis menyampaikan statement seperti itu bukan berarti pemangku kebijakan kampus harus dipandang sebagai lawan dalam artian permusuhan secara personal, lebih jauh dari itu mereka adalah sosok yang patut untuk kita kritisi habis-habisan jikalau mereka tidak becus dalam mengurus kampus. Dosen, dekan, maupun rektor dan sejenisnya adalah bagian dari ekosistem kampus yang memiliki peran masing-masing, namun dalam konteks demokrasi kampus, merekalah pihak yang kebijakan perlu untuk kita awasi, kritisi, dan dievaluasi jika tidak berpihak terhadap kepentingan mahasiswa, atau bahkan harus dilengserkan jika kebijakannya semena-mena. Sebagaimana three fungsi mahasiswa yang salah satunya adalah agent of sosial control dalam pengaplikasian nya minimal kita tidak diam ketika ada kebobrokan pejabat birokrasi yang tidak becus dalam menjabat.

Jika mahasiswa terus terusan berlarut dalam konflik internal, maka yang kalah bukan hanya salah satu kandidat, melainkan seluruh mahasiswa akan merasakan dampaknya, sebaliknya jika mahasiswa mampu menjaga persaudaraan ditengah perbedaan pilihan politik, maka yang akan diperoleh adalah kekuatan yang lebih besar untuk mengawal kampus agar tetap menjadi ruang yang demokratis.

Harapannya tak lagi tentang siapa yang menjadi sasaran empuk rivalitas, bukan lagi tentang siapa yang harus dijatuhkan agar menang Pemira, melainkan siapa yang akan mengawal kepentingan mahasiswa setelah Pemira selesai, sebab sejarah tidak akan mengingat siapa yang paling pandai bersilat lidah dengan tujuan menjatuhkan orang lain, namun siapa yang menjadi garda terdepan untuk memperjuangkan kepentingan bersama.

 

Penulis adalah : Syaif_@zza yang sedang mencari apa itu makna kehidupan yang sebenarnya.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here