Gigil Subuh yang Terjaga

0
1057
Ilustrasi by mediaretorika.com

Oleh : Nur Imamah

Selamat berlabuh di pulauku
Kali ini langit tak lagi teduh
Sebab petaka riuh dari segala penjuru
Apa yang kau tunggu lelaki?
Narasiku sudah sampai pada tubuh pagi
Menjelma darah meresap susup dalam aura
Meninggalkan gigil disetiap subuh saat aku terjaga
Apa yang kau tunggu lelaki?
Nafasku sudah lumpuh dikaki hari
Hujan dan secangkir kopi
Saksi bisu lelahnya mentari
Yang tetap mengatup dalam sanubari
Apa yang lebih nikmat dari sebuah luka?
Apa pula yang lebih pekat srai sebuah kenyataan?
Ini cacat hakiki abadi
Dan sabilah rusuk lahir dari birahi
Untuk ku jadikan fatwa pada diri.

Sumenep, 2022

Kemanusiaan

Pada detik
Aku rapatkan doa di dalam diam
Harap melangit pada yang esa
Tentang kehidupan dan kemanusiaan
Kehidupan dan kemanusiaan
Jalan panjang dan terjal

Hanya pada harap
Kemanusiaan dititipkan
Semburat kehidupan yang panjang
Menyampaikan kabar yang getir
Sungguh.

Namun musim dingin tak selamanya
Musim panas tak selamanya
Segala yang pekat akan pudar
Segala yang pudar akan kumuh

Sumenep, 2022

***Penulis_adalah mahasiswa PBSI semester 6

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here