Sajak-sajak Puisi Sinta S

0
248
Ilustrasi by Mediaretorika.com

Tertanam Tundukkan Tanah

Karya : Sinta S 

Warna gelap dan terang yang bertemu dikala senja

Hamparan ombak yang menerpa ujung kaki

Desiran angin yang menerpa jiwa yang mati

Tatapan kosong yang beradu pandang dengan asa

Setiap hirupan nafas menyesakkan dada

Mengingat akan adanya luka yang dalam

Mengingat akan kenangan saat bersamanya

Harus terkubur oleh kenyataan yang ada

Mengingat setiap syair yang keluar dari lisannya

Seakan-akan memberi kesan yang mendalam

Namun harus terkubur bersama mubram

Menelan kenyataan yang sangat pahit

Senyuman yang tak lagi terlihat mata

Sosok yang setiap hari terlintas di depan mata

Wangi parfum yang menenangkan kalbu

Seakan memberi tau bahwa sosok itu ada

Kini sosok itu jauh dari pandangan mata

Hanya lewat bait – bait doa kusampaikan rindu

Dan hanya lewat bawa sadar ku bertemu

Sosok yang kurindukan tertanam di gundukan tanah

Sumenep, 26 Februari 2025

Ikuti saluran Whatsapp Mediaretorika.com

Si Mata Biru

Karya: Sinta S

Selir angin dan hamparan dedaunan

Rintikan hujan yang mulai turun

Awan hitam pekat menutup langit biru

Bisingan air di atap tempat berteduh

Si mata biru di samping tempat itu

Biarkan angin mengibas rambutnya

Menerpa wajah yang sangat indah

Menerjang seluruh raga dan rasanya

Wangi parfumnya yang menenangkan

Memberi kenyamanan saat di dekatnya

Sekian lama memandang wajahnya

Saat itu jua si mata biru memberikan kesan pertamanya

Tatapan yang teduh memberi kesan baru

Senyuman yang manis sangat manis

Lesung pipi yang memberikan percikan-percikan ketampanan

Terasa hangat saat si mata biru itu menatap bola mata hitam ini

Saat ia mulai melantunkan melodi asmara

Saat itu pula aku mulai terjatuh dalam hiasan asmaraloka

Setiap syair yang keluar dari lisannya

Membuat kalbu ini enggan untuk ditinggal

Gili genting, 25 Januari 2024

 

Secangkir Susu

Karya: Sinta S

Secangkir air susu mengingat akan lentera hidup

Bayang bayang semu terngiang di pelupuk mata

Setiap syair yang terucap meninggalkan rasa rindu

Rindu akan buayan yang terlontar dari sang lentera

Deringan ponsel yang tak lagi tertera namanya

Suara yang mengingatkan akan rasa nyaman

Bait bait yang terlontar seakan memberi pesan

Kini hanya tinggal sebingkai gambar yang Mati

Sudah puluhan hari sosok itu tidak terlihat mata

Seakan-akan lenyap di bawa aliran air yang deras

Aroma parfum melekat pada ruangan yang gelap

Seakan memberi tahu bawa sosok itu ada di dalam

Nyatanya hanya ribuan pakaian yang tersusun rapi

Tertata di tempat yang amat gelap dan sunyi

Air mata tiba-tiba menetes mengingat sosok itu

Sosok yang lama tertidur di bawa tundukkan tanah

Sumenep, 27 Februari 2025

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here