Joki Tugas, Solusi Cepat Mahasiswa yang Sibuk Nongkrong Tapi Tetap Ingin Lulus dengan Nilai Oke

0
1072
Ilustrasi (Mediaretorika.com)

MEDIARETORIKA.com–Dalam perkuliahan, tugas berjibun-jibun adalah makanan sehari-hari mahasiswa. Apa lagi mahasiswa yang sudah berada di semester tua. Namun, tak semua mahasiswa terbiasa pada hidangan yang harus mengandalkan otak untuk menyantapnya. Ada beberapa mahasiswa yang lebih memilih membayar orang lain untuk mengerjakan tugasnya, atau sering kita sebut sebagai “jasa joki tugas”.

Kampus STKIP PGRI Sumenep juga tak luput menjadi sarang kios para penjoki tugas. Tak tanggung-tanggung, pendapatan dalam satu kali transaksi bisa mencapai angka Rp 600 ribu. Hal itu dikemukakan oleh, Kinan, nama samaran.

Kinan kini berstatus sebagai mahasiswa aktif di kampus yang kerap disebut kampus Taneyan Lanjhang. Bermodalkan internet dan Artificial Intelligence (AI), Kinan melancarkan aksinya dengan menargetkan mahasiswa yang enggan mengerjakan tugas.

“Aku hanya bermodalkan internet dan AI. Tugas selesai, aku pun dapat duit,” ungkapnya, Selasa (27/05/25).

Bisa dikatakan, Kinan masih newbie dalam dunia perjokian tugas. Pasalnya, ia baru memulai debutnya sebagai pembuka jalan alternatif bagi mahasiswa malas atau yang kepalang sibuk itu pada semester lalu.

“Baru semester kemarin aku membuka layanan khusus untuk mahasiswa malas dan berkesibukan ini,” paparnya.

Beringsut-ingsut, usaha yang berangkat dari keisengan belaka itu mulai dikenal di kalangan mahasiswa. Tak sedikit mahasiswa yang menempuh jalur lekas dengan menyewa jasanya. Mulai dari tugas receh, hingga publikasi artikel dan jurnal. Semua ia lakulan berbekal jaringan internet.

“Tugas meringkas jurnal ada. Ngepublish jurnal dan artikel juga ada,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Sekonyong-konyong jasanya pun turut diminati oleh kalangan mahasiswa kampus sebelah. Secara kontan ia menyanggupi permintaan yang terus melonjak tanpa berpikir panjang. Dari sanalah ia berkepikiran untuk terus menjajakan jasanya.

“Tiba-tiba ada permintaan banyak dari mahasiswa kampus lain. Dari tugas itu saja aku sudah dapat uang 600 ribu,” ungkapnya diikuti ketawa kecil, lagi.

Tak mau ambil pusing, Kinan merasa pekerjaan sampingannya ini, di sela-sela ia sebagai mahasiswa, dapat membawa hal positif bagi berbagai pihak. Termasuk dirinya.

“Aku banyak tahu cara ngerjain tugas yang bahkan belum aku pelajari saat kuliah hanya dengan aku jadi penjoki. Dan juga para klien bisa terbantu di tengah kesibukan mereka,” jelas Kinan.

Kinan menyerahkan segala resiko yang bisa terjadi, karena menggunakan jasanya, kepada kliennya. Walaupun begitu, masih ada saja yang berminat. Termasuk Toni, bukan nama asli. Pelanggan tetap Kinan itu tetap tak mempedulikan efek samping dari jalan pintas yang ia pilih.

Padahal, bisa saja Toni terkena sanksi ringan dan berat. Sanksi ringan di sini bisa saja berupa skors dan penurunan nilai akademik, hal itu biasanya tergantung pada kebijakan kampus masing-masing.

Namun, untuk sanksi berat bisa berupa hukuman pidana. Seperti dilansir dari Kompas.com, menurut ahli hukum pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar mengatakan bahwa penyedia jasa joki dapat dijerat Pasal 23 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Pemalsuan Surat dengan ancaman maksimal 6 tahun penjara.

Dan untuk pengguna jasa joki demi keperluan pendidikan, jika terbukti melakukan, dapat dijerat dua pasal sekaligus.

“Khusus bagi yang menggunakan akan dikenakan Undang-Undang (UU) Sistem Pendidikan Nasional (Sisdik) atau UU 20 Tahun 2003 Pasal 25 Ayat 2,” ujar Abdul.

Tetapi Toni merasa tak acuh meski jeruji besi bisa mendatanginya suatu saat nanti. Salah satu motif ia nekad menggunakan jasa joki karena merasa tak mampu mengerjakan tugasnya sendiri.

“Saya nggak tahu cara ngerjainnya, makanya saya pakai joki,” ungkapnya saat dimintai keterangan.

Ikuti dan aktifkan notifikasi Official WhatsApp Saluran Mediaretorika.com

Toni bukanlah orang berkesibukan. Sehari-harinya, ia gunakan untuk nongkrong bersama teman-temannya: seperti ke Cafe kekinian, sembari sesekali mencoba mengasah skill biliard-nya yang tak kunjung membaik.

Tak hanya itu, Toni sering absen kelas. Rata-rata dari semua pertemuan mata kuliah, hanya hitungan jari ia masuk kelas. Teman-temannya pun tak merasa heran jika ia tidak mengerti bagaimana cara mengerjakan tugas.

“Ya karena dia sering nggak masuk, makanya nggak ngerti hahaha,” celetukan salah satu teman Toni.

Sementara itu, Andayani, mahasiswa semester 6 merasa enggan untuk mencoba walau hanya sesekali menggunakan jasa joki. Bagi dia, usaha sendiri, walau terseok-seok, akan lebih berarti dari pada membayar jasa orang lain.

“Nggak mau, mending bikin sendiri. Walau kadang suka salah,” beber Andayani.

Ia juga tak mau repot mengenai orang yang menggunakan atau membuka layanan joki. Menurutnya, itu semua ada di tangan masing-masing perorangan. Tinggal tanggung resikonya masing-masing.

“Itu hak mereka, kalau aku mah nggak ikut-ikutan,” katanya, gapah-gopoh pulang.

Reporter: Miftah

Editor: Dita

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here