Tiga Lampu Merah Saya Tertawa

0
27
Ilustrasi by Farel/Mediaretorika.com

Tiga lampu merah, saya tertawa. Bagaimana tidak, tinggal di negara yang setiap hari merupakan hari kebalikan ketika pemerintah lebih lawak daripada komika sendiri. Per hari ini saya sering dibuat terpingkal dengan produk-produk ciptaan pemerintahan.

Satu hari, Rabu pagi di pertigaan jalan lampu merah. Matahari sedang terik-teriknya, pohon yang ditanam berjauhan tidak membantu merindangkan jalanan, teringat pula rumah-rumah mewah yang ditanam pohon di pekarangannya. Padahal sebagian kayunya dikeruk dari pohon kalimantan atau dari papua. Sebuah ironik ketika pohon di Jakarta sebagai estetika sedangkan pohon di papua sebagai fungsi kehidupan—tapi pemerintah menyebut mereka penjahatnya—Asap knalpot dan debu jalanan tak terelak. Lampu merah pertama, saya tertawa.

Ada banyak buruh dan profesi sedang menuju tempat kerjanya. Tiga detik menunggu pergantian lampu, sembari mendumel dengan pemasangan kabel antena yang acak-adul, melintas dari samping sebuah mobil putih gagah, hanya ditempati dua hingga tiga orang di depan. Tepat di sisi kirinya bertuliskan “BADAN GIZI NASIONAL, SATUAN PELAYANAN PEMENUHAN GIZI,” tak lupa logo biru dengan ikon garuda di tengah. Barangkali mobil itu berideologi Pancasilais karena beroperasi di Indonesia, sebab ucap Bahlil, Menteri ESDM RI, “Saya meragukan nasionalisme kalian yang bekerja di luar negeri,” di negara yang menjanjikan #19jutalapanganpekerjaan namun justru bermunculan tagar #kaburajadulu. jika bukan karna lagu “tanah air beta” maka tiada pula alasan tinggal.

Berdampingan dengan mobil itu, seorang guru. Sepeda motor keluaran 2019 berplat M, tas hitam, map coklat menyembul dari resleting yang tertutup tak sempurna. Baju putih, kerudung hitam, seragam hari Rabu atas aturan pemerintah yang sama. Saya amati, sebetulnya tidak ada yang aneh. Hanya saja benak saya tidak bisa bohong, terlalu lucu untuk dipikirkan. Pemandangan yang kontras sekali, cara Tuhan cukup memperlihatkan bagaimana seorang yang “mencerdaskan” berdampingan langsung dengan yang “mengenyangkan” anak bangsa, satu di bawah terik, satu di balik kaca berpendingin. Ribuan anak tidak sekolah dinormalisasikan dengan dalih tidak mampu, tapi di waktu yang sama ribuan anak keracunan dianggap statistik dan kecelakaan program. Luar biasa sekali negeri yang kutinggali. Namun setidaknya, mobil MBG itu berhasil meneduhkan sang guru dari panas matahari. Satu manfaat konkret hari ini.

Lampu merah kedua, saya tergelak. Berhenti berdampingan beberapa pengendara, siswa SMA, seorang guru, seorang ibu dengan tas rotan diselipkan di tangan kiri sementara tangan kanannya siaga di selongsong gas, wanti-wanti terlambat mengegas, khawatir diklakson brutal pengendara lainnya, dan mahasiswa prodi kesehatan dengan seragam putih khasnya, serta mobil pegawai SPPG. Hari ini mereka semua hidup dalam roda kehidupan yang sama di tahun 2026 dengan polemik yang begitu kompleks dan rumit. Saya membayangkan, jika mereka hidup dalam sistem yang lebih waras. Lalu saya berhenti membayangkan, karena rasanya kepala saya mulai tidak mampu berpikir waras. Kalau ini 2014, fenomena ini serius. Tapi di 2026, ini sudah jadi komedi, sebab tidak pernah terjadi di film laga manapun. Saya berasumsi pemerintah Indonesia adalah sutradara terbaik penerima Piala Oscar tahun ini.

Lampu merah ketiga, saya terpingkal. Kalau ini struktur cerita pendek pelajaran Bahasa Indonesia, inilah puncak klimaksnya. Setelah perlintasan dua titik lampu merah. Dari kanan melaju pelan sebuah motor trail taktis, Koperdis milik aparat berbaju loreng. Menyalip pelan.

Saya tahu betul bahwa aturan lalu lintas dibuat sejak lama, sosialisasi di mana-mana, Police Goes to School bukan lagi proker perdana. Sejak saya duduk di bangku sekolah hingga perguruan tinggi yang bertambah hanya tanda lalu lintas, plang-plang itu tertancap sempurna, baik di pojok perempatan, batas jalan, tiap 100, 200 hingga 500 m tanda lalu lintas sudah sudah tak jarang lagi. Meskipun bagi sebagian besar pengguna jalan masih kurang memahami fungsinya. Hingga banner dan poster menyampahi jalanan, bendera partai gonjreng berkibar bertahun-tahun hingga pudar dan robek, tapi spanduk UMKM dipaksa diturunkan.

Fenomena itu, perlu digarisbawahi, aturan diciptakan oleh pemerintah diperuntukkan untuk seluruh yang sedang menempati negara tersebut. Sama halnya di Indonesia. Baik warga negara maupun bukan, jika bumi sudah dipijak, maka aturan harus dijunjung, begitu kata pepatah.

Tidak ada yang mengherankan dari peristiwa di atas, kita berkendara damai dengan surat-surat lengkap, helm terpasang sempurna, kecepatan wajar di bawah 60km. Tidak ada yang aneh.

Sampai setiba saya hampir menyentuh zebra cross, tempat penyebrangan yang selalu ada di perlintasan pejalan kaki. Kami semua berhenti tepat di belakang garis. Lalu, aparat itu, yang menjadi bagian dari peran ketertiban umum, yang mendedikasikan dirinya terhadap keamanan sipil dan negara, banyak mensosialisasikan peraturan di jalanan. Fisiknya sempurna, kokoh, dan telah dibekali pelatihan Etika Berlalu Lintas dan Safety Driving dengan tenang melonong melewati para pengendara. Oleh karenanya, saya tergelak, terlalu lucu bagi saya. Sungguh tiada guna plang bertulis “AREA TERTIB LALU LINTAS”

Tidak ada yang berteriak. Tidak ada yang mengklakson. Semua diam seperti sudah terbiasa dengan hal-hal yang seharusnya tidak biasa.

Sungguh saya tertawa. Setiba di kelas, terpingkal saya di depan kawan sejawat. Wanita berpoles gincu merah jambu bersolek merah pipi itu hingga merasa heran dengan saya, yang hanya bisa berkata di sela tawa “benar-benar brengsek.”

 

Penulis adalah Dita. Mahasiswi Universitas PGRI Sumenep program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dara manis yang akrab disapa Dita ini adalah potret generasi muda yang emoh berpangku tangan.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here