Saya Nggak Asal Tonton, Vinland Saga Benar, Ternyata Saya Memang Manusia Itu Sendiri

0
327
Ilustrasi by Ivan/Mediaretorika.com

Oleh: Dita 

Ada sebuah anomali menarik dalam psikologi empati manusia. Bayangkan sebuah adegan film yang menampilkan seseorang ditampar dengan keras. Secara refleks, penonton mungkin akan merasa ngilu atau kasihan. Namun, ketika plot berkembang dan terungkap bahwa orang yang ditampar tersebut adalah seorang pelaku perselingkuhan, perasaan empati itu seketika sirna. Rasa kasihan berubah menjadi kepuasan subjektif; penonton justru bersorak bahwa tamparan itu adalah sebuah “keadilan”

Fenomena ini menunjukkan sisi mengerikan dari manusia, empati kita ternyata bersyarat dan diskriminatif. Kita hanya memberikan kasih sayang atau rasa iba kepada mereka yang kita anggap “pantas” menurut standar ego masing-masing

Premis inilah yang menjadi titik balik filosofis dalam anime vinland saga, sebuah serial anime berlatar sejarah viking yang menceritakan perjalanan seorang pemuda di tengah perang perebutan tahta Inggris dan Denmark pada abad ke-11.

Di balik adegan perangnya yang brutal dengan bumbu genre visualisasi nyerempet semi gore, serial ini menyimpan diskusi moral yang mendalam, khususnya dalam percakapan krusial antara pangeran canute dan pendeta bernama willibald di episode 17 season 1. Tidak pernah terpikir jika salah satu dialognya dapat memberikan pengaruh besar bagi penontonnya. Dalam dialog itu, sang pendeta melontarkan kritik tajam terhadap definisi cinta manusia. Baginya, rasa sayang kepada orang tua atau teman sebenarnya bukanlah “cinta sejati”, melainkan bentuk diskriminasi

Kita mencintai mereka karena ada keterikatan ego, sembari di saat yang sama mampu membenci orang asing di luar lingkaran tersebut. Cinta sejati, menurutnya, hanya bisa ditemukan pada kematian atau benda mati seperti salju dan gunung, karena mereka memberi tanpa memilih dan tidak memiliki ego untuk menghakimi

Di titik ini, sebenarnya ada sebuah keindahan yang sempat disadari oleh canute. Ia melihat bahwa alam semesta baik salju, gunung, dan tanah adalah bentuk cinta yang nyata. Logikanya, manusia seharusnya bisa menggunakan cinta yang disediakan alam tersebut untuk membentuk cinta di dalam dirinya sendiri. Namun, di sinilah letak tragisnya. Bukannya menemukan kedamaian, pangeran canute justru “tersesat” dan membelot menjadi radikal. Ia merasa dikhianati oleh kenyataan bahwa manusia telah diusir dari surga, namun masih harus menghadapi cobaan dan ujian yang tak habis-habisnya di dunia

Kekecewaan itu membuat pemikiran canute melenceng jauh. Karena ia merasa Tuhan hanya diam melihat penderitaan hambanya, ia memutuskan untuk berhenti berdoa dan memilih untuk menciptakan “surganya sendiri” di bumi

Ia membelot dari seorang pangeran yang suci menjadi politikus yang dingin dan tiran. Ia merasa bahwa jika dunia sudah tidak lagi memiliki cinta murni, maka kekuasaan absolut adalah satu-satunya cara untuk menciptakan ketentraman. Namun, apakah benar surga bisa dibangun di atas fondasi kemarahan dan arogansi terhadap takdir?

Narasi ini sebenarnya adalah cerminan dari kegelisahan manusia yang tak pernah usai. Seringkali dalam diskusi di ruang publik atau obrolan deep talk di warung kopi, pertanyaan “Apa arti hidup?” selalu hadir tanpa jawaban mutlak

Kita seperti seorang anak kecil dalam cartoon movie Elio (2025) yang mendapatkan seorang pemandu untuk menjelaskan rahasia semesta, namun tetap berakhir pada kebingungan yang sama. Canute mencoba menjawab pertanyaan itu dengan arogansi kekuasaan, merasa bahwa dialah perwakilan yang paling paham cara menertibkan dunia hanya karena ia telah mendapatkan “pencerahan” sesaat

Namun, sejarah seringkali mengingatkan kita bahwa ketika manusia merasa telah menemukan jawaban tunggal atas “arti kehidupan”, di situlah mereka mulai kehilangan kemanusiaannya

Kita terlalu sibuk menciptakan standar kedamaian sendiri, namun seringkali dengan cara mendiskriminasi atau membenci mereka yang tidak sejalan dengan visi tersebut. Kita lupa bahwa mungkin arti hidup bukan terletak pada penguasaan dunia, melainkan pada kemampuan untuk terus bertanya tanpa harus menjadi radikal dan merasa paling benar

Pada akhirnya, vinland saga memberikan tamparan keras bagi kita semua. Bahwa musuh terbesar dalam menciptakan kedamaian atau “surga” dalam skala kecil di lingkungan kita bukanlah orang lain, melainkan ego kita sendiri

Sosok canute adalah peringatan bahwa pencerahan tanpa kerendahan hati hanya akan melahirkan tiran baru. Mencari arti hidup mungkin memang perjalanan tanpa akhir, namun memulainya dengan menyadari keterbatasan diri adalah langkah yang lebih bijak daripada menjadi sosok yang merasa paling paham akan rencana semesta namun kehilangan empati di dalam prosesnya.

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here