Cinta Ternyata Bisa Sesederhana Membeli Bunga Saat Toko Tutup, Saya Saja yang Terlalu Banyak Takut dan Alasan

1
170
Ilustrasi by Ivan/Mediaretorika.com.

Oleh: Dita

Mungkin cintanya tak lekang oleh waktu. Secuil kisah menjelang malam, ada Bapak paruh baya hampir berumur senja menekan bel store, agaknya memang Bapak enggan patuh dengan aturan karyawan yang diisyaratkan dengan papan akrilik putih bertuliskan istirahat, yang sudah kami gantung apik setelah pukul 4 sore.


Tapi, tidak menyerah Bapak itu dengan harap-harap tersenyum di balik pintu kaca bening, Ia memilih abai dan melanggar aturan kecil kami bukan karena ego, melainkan karena sebuah misi hati yang sepertinya lenggana untuk ditunda.

“maaf ganggu istirahat mbak, saya masih bisa beli ngga?” katanya.

Salah satu dari kami langsung sigap, melongok Bapak itu menelisik store. Tanpa ragu dipilihlah aster putih cantik segar yang tersedia di sudut dekat cermin. “Ini aja mbak, dibungkus yang rapih ya mbak” tidak terduga secarik kertas puisi bapak itu sodorkan. Menawan sekali tulisannya, penanya sepertinya sudah bekerja keras untuk yang satu ini.

“Dibungkus dengan ini ya mbak, biar nanti istri saya baca di rumah”.

Tentu kami bersedia, sangat bersedia, dengan murah hati kertas itu kami sedikit berikan lipatan mengikuti lengkungwrapping buket dengan rangkaian bunga yang dipilih tadi, penuh kehati-hatian seolah-olah kami juga berperan menjaga nyala cinta di setiap baitnya.

Aneh, kami salah tingkah oleh secarik kertas dan bunga. Bapak itu seakan sanggup menunggu kapan saja rangkainnyasiap, punggung dan matanya tidak luput seincipun melihat kami merangkai buket itu untuknya. Mungkin, mungkin saja masih banyak yang sepertinya, batin kami tergelak. Nyata, momen itu tertangkap oleh mata kepala kami sendiri. Degupnya masih ada sampai sekarang, oh ini yang dinamakan definisi cinta dan kasih.

Bertalu, bukan alam yang mengada-ada, semesta juga tidak melawan. Ini murni ketulusan hati manusia. harusnya–harusnya tiap yang berpasangan berdampingan selalu mendamba pada hal-hal yang tak nyata. Namun, seolah-olah semua yang sedang terjadi depan mata itu telah rampung seutuhnya.

“Itu nyata”

Pengalaman melihat cinta yang nyata itu membawaku termenung di tepi telaga, di tengah maraknya dunia yang penuh dengan emotikon kuning, secarik kertas puisi adalah artefak yang begitu mewah.

Baca Juga: Kampus Seharusnya Bukan Mesin Komersialisasi

Kontras yang tajam justru terjadi setelah momen itu usai. Karenanya aku terduduk di tepian telaga tempat ia menjadi favorit semua orang, salah satunya memoir kisah yang belum usai–sesuatu yang belum pernah aku coba memulai. Mencari aman di ruang kosong, padahal tahu banyak sekumpulan kupu-kupu cantik bertabrakan sayapnya, ramai sekali kepakannya, di luar sana.

Aku tidak berani menoleh ke samping, iris membeku pada bentangan ilalang di depan mata seberang telaga, enggan menyadari keberadaan satu orang di sebelahku yang menemani dan berbagi keheningan. Tidak satupun keinginan untuk menyapu kecanggungan itu, kecuali satu hal.

“Hari ini luar biasa”

Aku berkata padanya, tidak perlu kujelaskan kejadian apa saja yang singgah atau siapa saja yang bertamu di ruang emosi. Kupersilakan ia untuk mencari maknanya, apa saja yang ada dalam benaknya. Sebab, aku bertaruh dengan harapan untuk aku dengannya.

Ironisnya saat aku mempertaruhkan harapanku padanya adalah dia memilih pergi untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Sekarang aku paham, semuanya yang terasa kabur sudah terasa jelas di mata. Lirik Nadin mengalun pelan menjadi latar suara, katanya “Mungkin akhirnya tak jadi satu. Namun, bersorai pernah bertemu”

Kumatikan playlist di aplikasi hijau hitam. Cinta yang kupelajari dari Bapak pemilik sebagian dunia itu, ternyata aku belum bisa menemukan sebagian lainnya. Meski kosong rasanya, tapi aku bahagia atas kebahagiaan orang lain, sebab artinya alam tidak hanya menyimpan kenestapaan. Namun, aku belajar kasih dari sejumlah orang yang kutemui di sela-sela hari, bahwasanya aku disadarkan bahwa cinta memiliki spektrum yang luas.

“Kasih dan sayang tidak hanya orang temukan antara pria dan wanita, tapi ia ada pada anak dan orang tua, ibu dan anak gadisnya, ayah dan anak lelakinya, paman dan ponakannya, atau kakek dan cucunya”

Baru kali ini aku berani menoleh, dari situ pula aku sadar dia hanya bagian delusi dan halusinasi yang selama ini selalu terbayang sebelum menjelang tidur atau setelah terjaga dari tertidur; dia tidak ada di mana-mana.

“Meski bukan milikku saat ini, tetap layak untuk dirayakan keberadaannya”

Mungkin benar bahwa cinta yang tulus tidak pernah lekang oleh waktu, sebab ia pernah datang dalam bentuk dan aksi yang tidak terduga–seperti ketukan Bapak paruh baya di pintu kaca saat jam istirahat baru saja dimulai.

Menaruh harapan besar pada cinta itu salah, ideologi tersakraladalah keyakinan menciptakan cinta dari ruang-ruang yang dianggap celah oleh sebagian orang yang menafikannya.

Sore itu, Bapak si perobek waktu membuktikan bahwa cinta tidak pernah memiliki jam operasional. Ia hanya cukup datang dari ketulusan meski mengabaikan pada kesempurnaan.

Facebook Comments

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here