Oase di Tengah Keputusasaan: Pesan Spiritual dari Karya Alfialghazi

0
172

Ketika hati hampir runtuh, ingatlah, setiap takdir selalu menyimpan hikmah


Judul: Maaf Tuhan, Aku Hampir Menyerah
Penulis: Alfialghazi (pria kelahiran Pagar Alam, 1996)
Penerbit: Sahima (Depok)
Tahun Terbit: 2020 (edisi awal)
Tebal:  246 halaman
Genre: Motivasi, Spiritual, Psikologi Islam
ISBN: 978-602-6744-47-0



Sudahkah kita menjadi pengingat mendalam bagi diri sendiri? menyoroti masa-masa terpuruk ketika realitas hidup terasa jauh dari harapan hati dan pikiran. Ia menyuarakan pergulatan jiwa di bawah belenggu takdir yang tak terhindarkan.

Di dalamnya, pembaca disuguhi nasihat berharga bahwa tidak semua perkara akan berjalan sesuai ekspektasi. Ada saatnya, mimpi dan angan-angan semu tentang ‘kebahagiaan’ dunia akan terpukul mundur, harapan-harapan itu dipatahkan oleh ketentuan Ilahi, dan langkah kaki terpaksa terhenti oleh kekalutan batin yang berkontradiksi dengan keinginan hati.

Dunia yang sesungguhnya luas, bagi hati yang rapuh akan terasa begitu menyesakkan. Di tengah keramaian, jiwa yang gundah justru terdampar di tepi kesunyian. Ada kerinduan untuk terus melangkah dengan tapak yang ringan, mengarungi arus kehidupan tanpa beban di pundak. Namun, kita terus tersandung dan terjatuh. Keinginan untuk berbalik arah membayangi langkah yang terasa kelabu, seolah tujuan itu mustahil dan tak mungkin lagi ditempuh. Setiap opsi dalam hidup nyaris tak sanggup menjadi pilihan, karena diri enggan lagi menanggung segala konsekuensinya.

Maka, buku “Maaf Tuhan, Aku Hampir Menyerah” hadir sebagai oase. Lahir dari pena dan air mata sang penulis, ia didedikasikan bagi jiwa-jiwa yang sedang mengalami kepedihan serupa, sebab hidup memang tak pernah lepas dari kesedihan dan air mata.

Penulis teringat sebuah kalimat dalam buku ini

“Andai semua orang menampakkan kesedihannya, barangkali tak bersisa lagi kebahagiaan di dunia ini, karena setiap hati pasti menyimpan sedih.”

Namun, pada kenyataannya, meskipun setiap hati menyimpan duka, kita masih menyaksikan senyuman terpatri di wajah, tawa bahagia menyapa, dan sapaan hangat dari sesama. Inilah yang membuat manusia memilih untuk bertahan dan menjadi kuat. Sebab, setiap sanubari di dunia ini, ternyata, sungguh hebat.

“Teruntuk pengendara waktu, bertahanlah, sampai surga yang menjadi pelabuhan terakhir kita.” Ungkap Buku ini.

Hal yang begitu menarik dari buku ini adalah isinya yang senantiasa menyelipkan pesan tentang kedudukan kita sebagai hamba yang bertuhan. Sang penulis secara konsisten mengingatkan pembaca untuk selalu terhubung dan terkoneksi dengan Tuhannya dalam setiap episode kehidupan.

Buku ini juga dikuatkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan kisah-kisah Rasulullah serta para nabi lainnya. Hal ini seringkali menampar kesadaran dan terkadang mengundang air mata pembaca. Kita diingatkan bahwa beban hidup kita, sebagai manusia biasa di dunia yang relatif ‘aman’, sesungguhnya tidaklah seberat yang dipikul oleh para nabi terdahulu dalam perjuangan dakwah mereka. Oleh karena itu, kita tidak selayaknya terjerumus ke dalam keputusasaan.

Sebab, dalam Al-Qur’an, Allah tidak menyukai hamba-Nya yang berputus asa dari rahmat-Nya, dan Allah juga tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (La yukallifullahu nafsan illa wus’aha). Keterbatasan pandangan kita seringkali membuat kita tak sanggup melihat hikmah di balik takdir yang belum tersingkap. Itulah mengapa kita dituntut untuk percaya sepenuhnya pada ketetapan Allah.

Setiap lembaran hidup, setiap takdir yang sempat kita anggap “Tuhan tak adil,” pada akhirnya adalah jalan terbaik yang telah diatur.

Hidup adalah serangkaian perjalanan yang membawa manusia menuju benang takdir yang tak diketahui ujungnya. Perjalanan ini terentang melalui titik-titik yang saling terhubung, membentuk garis kehidupan: dari permulaan hingga kematian, dari tawa menjadi kesedihan, dari senyum berubah air mata.

Beginilah kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan sederhana sering kali menggerogoti pikiran dan menerobos jiwa raga, menguras hati dan tenaga, membuat kita bingung memilih jalan yang benar. Memang terasa rumit dan kompleks, namun sekali lagi, selamat datang di kehidupan. Meskipun rasanya ingin mengeluh setiap hari, kita harus menerima kenyataan ini.

Tiada guna meratapi dan berdiam diri. Kita harus mengarunginya, meskipun harus berdarah-darah dan terluka. Sebab, di balik setiap luka, Allah menjanjikan hadiah istimewa.

Hadiah dari Allah tidak selalu sesuai keinginan kita, tetapi akan terasa amat nikmat jika disambut dengan rasa syukur. Hadiah-hadiah itu tersembunyi di balik serangkaian masalah dan lika-liku kehidupan, dan di sinilah peran sabar dan syukur yang telah diajarkan sejak kita kecil.

Apa yang membuatmu bahagia? Merasa cukup.

Apa yang membuatmu bertahan? Sikap sabar.

Apa yang membuat hatimu berlapang dada? Rasa syukur.

Inilah mantra kehidupan agar kita mampu melangkah ringan menghadapi kelamnya takdir dunia.

Ingatlah, sesuatu yang kita anggap baik belum tentu membawa keselamatan, dan sebaliknya, sesuatu yang kita anggap buruk bukan berarti akan membawa pada keterpurukan. Kita diingatkan pada kisah Firaun, yang merasa memiliki segalanya hingga menganggap diri sebagai Tuhan, namun justru ditenggelamkan oleh Allah. Dari sini, kita pahami bahwa hikmah takdir Allah tak dapat dilihat dengan mata telanjang.

Menjadi manusia biasa bukan berarti berderajat rendah. Jika bukan karena tukang bersih jalanan, kita mungkin berjalan di atas tumpukan sampah. Sesuatu yang tampak biasa dapat menjadi besar nilainya jika kita renungkan.

Kita istimewa dengan segala potensi dalam diri. Keistimewaan itu akan semakin bersinar jika kita hiasi dengan kebaikan dan akhlak mulia. Ini bukan soal ukuran, melainkan soal ketulusan. Hadirlah di tengah orang-orang yang jiwanya sedang redup, ulurkan tanganmu dengan senyuman, bantu sesamamu yang kesusahan. Dengan demikian, kehadiranmu akan menjadi perantara kebahagiaan bagi mereka, menjadikanmu istimewa di hadapan Sang Pencipta. Oleh karena itu, jangan pernah berputus asa, sebab masih banyak jalan menuju ridha-Nya.

Biarkan orang lain sibuk mengejar gemerlap dunia, kita cukup berjalan dalam kesederhanaan, menjalani hidup yang damai, meskipun di baliknya banyak air mata tertumpah.

Air mata kehidupan bukanlah tanda kelemahan. Lebih dari sekadar menenangkan jiwa, air mata membersihkan pikiran-pikiran keruh, memungkinkan kita berpikir jernih dalam menyongsong kehidupan.

Terakhir, buku ini hadir membawa dan membentuk pemikiran baru yang mungkin belum pernah singgah sebelumnya. Ia menasihati kita untuk terus melangkah tanpa berburuk sangka pada Sang Pencipta atas takdir yang terasa merana. Percayalah, setiap individu di muka bumi tidak diciptakan sia-sia. Mereka diciptakan untuk berinteraksi dan membangun hubungan timbal balik, terikat pada kompleksitas kehidupan dan ketentuan Ilahi.

Meskipun butuh air mata untuk menerima ketentuan Tuhan, ketetapan-Nya merupakan yang terindah dari segalanya.

Melalui buku ini, penulis menyadari ke mana langkah ini harus bermuara, ke mana hati akan dibawa terbang, dan ke mana jiwa akan melanglang.

Tidak ada air susu yang dibalas dengan air tuba, sebab keyakinan penuh kepada Allah mengajarkan bahwa setiap kebaikan akan tercatat sempurna selama niatnya adalah karena Allah, dan tak ada balasan yang mampu menandingi kemurahan Allah.

Kita istimewa dengan segala kebaikan yang kita lakukan.

Penulis: Dita Nurmaulidia Rizal

 

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here