Katanya, Organisasi Mahasiswa Sekarang Sepi

0
19
Ilustrasi

“Organisasi mahasiswa sekarang sepi.”

Kalimat itu terdengar begitu sering hingga seolah menjadi kenyataan yang diterima tanpa perlu diperdebatkan lagi. Ruang sekretariat mulai lengang. Grup percakapan organisasi lebih banyak berisi pengumuman daripada diskusi. Agenda rapat kerap tertunda karena peserta tidak memenuhi kuorum.

Namun di tengah suasana itu, ada satu mahasiswa baru yang justru datang dengan semangat yang berlawanan.

Namanya Levi Anantatur, meski hampir semua orang memanggilnya Levi.

Sejak masih duduk di bangku SMK, ia sudah mendapat julukan “Maniak Organisasi.”

Julukan itu bukan ejekan, melainkan pengakuan. Hampir semua kegiatan yang melibatkan kepanitiaan, kepemimpinan, pelatihan, hingga organisasi sekolah pernah ia ikuti. Bahkan guru-guru sering bercanda, “Kalau Levi tidak ada di organisasi, berarti organisasinya yang belum berdiri.”

Ketika teman-temannya sibuk mencari kampus berdasarkan akreditasi, biaya kuliah, atau gedung yang megah, Levi justru melakukan penyelidikan yang berbeda.

Dicari tahu-lah bagaimana kehidupan organisasi mahasiswanya.

Dia membaca unggahan media sosial UKM, menonton dokumentasi kegiatan, mencari tahu budaya organisasinya, hingga bertanya kepada para alumni.

Sampai akhirnya, Levi temukan sebuah kampus yang bangunannya tidak terlalu istimewa. Tidak memiliki gedung tinggi yang menjulang atau fasilitas yang membuat orang berdecak kagum.

Tetapi satu hal yang membuat Levi langsung jatuh hati.

Organisasi mahasiswanya hidup.

Setidaknya, itulah yang dia lihat dari luar.

Tanpa berpikir panjang, Levi memilih kampus itu.

Hari pertama mengikuti PKKMB menjadi salah satu hari yang paling membahagiakan baginya.

Ketika mahasiswa lain mulai lelah mengikuti rangkaian kegiatan, Levi justru semakin bersemangat saat sesi pengenalan organisasi mahasiswa dimulai.

Dia dikenalkan dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi atau HMP, tempat seluruh mahasiswa dari program studinya berhimpun.

Kemudian satu per satu Unit Kegiatan Mahasiswa mulai memperkenalkan diri.

Ada UKM olahraga, seni, pecinta alam, kewirausahaan, bahasa, penelitian, jurnalistik, keagamaan, hingga puluhan UKM lain dengan ciri khas masing-masing.

Bagi Levi, setiap presentasi terasa seperti undangan menuju petualangan baru.

Setelah seluruh pengenalan selesai, dia sudah menentukan pilihannya.

UKM pertama bergerak di bidang pengembangan intelektual.

UKM kedua bergerak di bidang religius dan pembinaan keagamaan.

UKM ketiga bergerak di bidang media dan pemberitaan mahasiswa.

Tiga dunia yang menurutnya saling melengkapi.

Berpikir, bertumbuh, dan menyuarakan.

Tidak lama setelah PKKMB selesai, Levi mengikuti seluruh pendidikan dan pelatihan dasar dari ketiga UKM tersebut.

Banyak temannya heran.

“Yakin ikut tiga sekaligus?”

Levi hanya tersenyum.

“Kalau masih sanggup, kenapa tidak?”

Beberapa bulan kemudian, dia resmi menjadi anggota ketiganya.

Levi semakin bahagia karena ternyata bukan hanya program kerjanya yang menarik.

Orang-orang di dalamnya terasa hangat.

Mereka kompak.

Mereka saling membantu.

Mereka bercanda hingga larut malam.

Mereka sering menginap di sekretariat.

Sekretariat bukan hanya tempat rapat.

Di sana ada cerita, tawa, perdebatan, kopi, mie instan, gitar, bahkan tempat pulang bagi sebagian mahasiswa yang jauh dari keluarga.

Levi ingin menikmati semuanya.

Namun orang tuanya memiliki satu syarat.

Dia tidak diperbolehkan menginap.

Maka setiap hari jadwalnya hampir sama.

Pagi berangkat kuliah.

Sore pulang sebentar.

Setelah salat Isya, kembali ke kampus.

Baru tengah malam dia pulang lagi.

Begitu terus hampir setiap hari.

Levi hanya diizinkan menginap jika ada kegiatan besar seperti pelantikan, makrab, atau acara ceremonial penting.

Meski begitu, Levi tetap merasa bahagia.

Sampai waktu perlahan mengubah keadaan.

Mahasiswa baru yang dulu sama-sama bersemangat mulai menghilang satu demi satu.

Ada yang mulai fokus akademik.

Ada yang harus bekerja sambil kuliah.

Ada yang merasa organisasi tidak sesuai harapan.

Ada yang memang sejak awal hanya penasaran.

Ada pula yang berhenti kuliah karena alasan ekonomi maupun keluarga.

Ketika kepengurusan berganti, beberapa anggota memilih pergi karena merasa tidak cocok dengan budaya yang baru.

Sekretariat yang dulu ramai kini mulai sering kosong.

Rapat yang dulu dipenuhi suara kini lebih banyak diisi keheningan.

Levi tetap bertahan.

Baginya, alasan-alasan itu tidak pernah masuk kedalam kamus organisasi yang dia buat sendiri.

Dia percaya organisasi adalah tempat bertumbuh.

Sama seperti yang pernah dia rasakan sejak masih di bangku SMK.

Namun bertahan ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Semakin lama, tantangan justru semakin banyak.

Miskomunikasi antarpengurus mulai muncul.

Kesalahpahaman kecil bisa berubah menjadi dingin berhari-hari.

Jadwal rapat bertabrakan dengan tugas kuliah.

Kegiatan UKM bertumpuk dengan agenda HMP.

Belum lagi, di rumah Levi masih tetap mengabdi pada lembaga di SMK tempat dirinya dulu belajar.

Memang tidak seaktif dahulu.

Tetapi tanggung jawab itu belum pernah benar-benar dia tinggalkan.

Kadang dia sendiri heran.

“Sesibuk apa sebenarnya teman-temanku?”

Kalau dipikir-pikir, dirinya mengikuti tiga UKM, aktif di HMP, masih membantu sekolah lamanya, kuliah tetap berjalan, dan masih berusaha meluangkan waktu untuk keluarga.

Levi lelah.

Sangat lelah.

Tetapi anehnya, dia menikmati kelelahan itu.

Yang tidak bisa dirinya nikmati adalah ketika rasa lelah itu harus dipikul sendirian.

Perlahan dia merasa menjadi orang yang paling antusias di setiap organisasi.

Dia selalu datang.

Dia selalu menawarkan bantuan.

Dia selalu hadir ketika dibutuhkan.

Tetapi tidak selalu menemukan banyak orang yang berjalan bersamanya.

Senior-seniornya sering memberi motivasi.

“Bertahan ya.”

“Organisasi memang begitu.”

“Nanti juga terbiasa.”

“Kamu hebat.”

Levi bersyukur atas perhatian mereka.

Tetapi semakin lama, Levi rasa mendapati diringa sudah kekenyangan dengan kalimat penyemangat.

Yang Levi rindukan bukanlah motivasi.

Ialah teman seperjuangan.

Masih ada beberapa orang yang semangatnya hampir sama dengannya.

Namun jumlah itu terlalu sedikit untuk menciptakan keramaian yang dulu sempat terbayang.

Padahal sejak awal, yang membuat Levi jatuh cinta pada organisasi bukan hanya program kerjanya.

Dia jatuh cinta pada kehangatannya.

Keramaiannya.

Kekompakannya.

Gotong royongnya.

Hal-hal yang dulu belum sempat dia rasakan sepenuhnya ketika sekolah menengah.

Harapan Levi untuk menemukan semuanya di dunia organisasi mahasiswa.

Namun ternyata kenyataan tidak selalu sesuai harapan.

Suatu malam, Levi duduk sendirian di depan sekretariat.

Lampu teras menyala redup.

Angin malam membawa suara daun yang saling bergesekan.

Sekretariat yang biasanya dipenuhi canda kini hanya menyisakan beberapa kursi kosong.

Dipandangnya pintu yang terbuka.

Lalu menarik napas panjang.

“Apa aku harus berhenti?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar juga.

Bukan karena dia membenci organisasi.

Tetapi karena raganya mulai lelah merasa berjalan sendirian.

Beberapa menit dia terdiam.

Lalu tanpa sengaja ingatannya kembali jauh ke masa lalu.

Ke masa ketika masih duduk di bangku SMP.

Saat itu, juga pernah mengalami hal yang sama.

Berjuang hampir sendirian.

Mengajak teman-temannya berkegiatan.

Menghidupkan organisasi.

Berkali-kali kecewa.

Berkali-kali ingin menyerah.

Namun enam tahun berikutnya, semua itu berhasil dirinya lewati hingga akhirnya dikenal sebagai Maniak Organisasi.

Levi tersenyum kecil.

Dia menepuk pelan dadanya sendiri.

Lalu berbisik,

“Kenapa aku harus berhenti? Toh enam tahun kemarin bisa aku lalui. Maka saat ini pun aku pasti bisa.”

Malam itu tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada senior yang memberikan pidato.

Tidak ada anggota yang menyemangati.

Hanya ada seorang mahasiswa yang memilih kembali berdiri setelah hampir menyerah.

Dia sadar, mungkin organisasi hari ini memang sedang kehilangan banyak peminat.

Mungkin zaman telah berubah.

Prioritas mahasiswa pun ikut berubah.

Namun selama masih ada satu orang yang percaya bahwa organisasi adalah tempat belajar menjadi manusia yang lebih baik, harapan itu belum benar-benar padam.

Dan Levi memilih menjadi satu orang itu.

Sebab baginya, organisasi bukan sekadar tempat berkumpul.

Benak Levi organisasi adalah rumah untuk belajar bertumbuh, meski kadang harus ditemani sepi.

Cerita sementara berakhir begitu, namun akankah tokoh utama terus semangat menjalani kehidupannya sebagai “Maniak Organisasi” atau nanti ditengah jalan ia akan benar-benar berhenti?

Satu pesan yang penulis ingin sampaikan, jangan abaikan orang-orang yang masih semangat, sambil lalu mencari orang-orang yang sudah menghilang, dan pertahanian orang yang masih selalu siap berjuang.

Penulis adalah Arul, mahasiswa Prodi PPKn sekaligus anggota LPM Retorika angkatan 2025.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here