Dituntut Sehat di Kampus yang Sakit

0
336
Ilustrasi by Ivan/Mediaretorika.com

Mentari pagi melambaikan tangannya menyapa rembulan yang sedari tadi mulai disinggahi kantuk yang luar biasa, ia menyiratkan makna bahwa sang surya sudah menampakkan batang hidungnya.

Deruan suara bising kenalpot menandakan mahasiswa kembali beraktivitas seperti biasa, iringan tawa ringan serta candaan mewarnai lingkungan kampus yang semakin hari mengikuti alur modernisasi.

Kampus yang konon katanya dinobatakan sebagai kampus tertua di kotanya, menyimpan banyak pecahan kaca yang diarsip nan digembok rapat-rapat agar pecahan itu tidak tercium bau anyir-nya kepermukaan, ya kampus itu dikenal dengan nama kampus grahari, ada juga yang memberikan julukan kampus Bangunan Panjang, bukan tanpa alasan, mereka menamai demikian karena susunan bangunannya berjejer memanjang.

Tepat dipaling pojoknya kantin kampus, duduk sosok mahasiswa berkulit Sao mateng berperawakan tidak terlalu tinggi sedang santai menghisap satu batang rokok yang dia nikmati dalam-dalam, namanya Dika El-Fatih, ia ditemani oleh secangkir kopi dan sebungkus makanan ringan yang sedari tadi dia tidak berminat mencicipinya, pasalnya buku yang kini terpampang didepannya yakni buku pendidikan kaum tertindas karya Paulo Freire seakan-akan menghipnotisnya dengan realita kampus yang sedang tidak baik-baik saja.

Dirinya merasa ada yang tidak beres dengan program studi yang sedang ia tempuh, ia tidak menyesali pilihannya ketika dahulu mengisi formulir dan ia memilih prodi ilmu kebugaran, namun ia menyesal kenapa dia tidak pernah bersuara ketika ketua prodi nya menetapkan kebijakan sewenang-wenang yang dia rasa sebagai perbudakan yang dibungkus rapi atas dalih demi masa depan mahasiswa.

Ia terus berfikir akan kebodohannya ketika tangan kanan prodi menyampaikan ada sumbangan kembali untuk kegiatan seminar yang dipatok dengan jumlah sumbangan 450.000 rb, ia menyesali keputusannya karena mengiyakan tawaran itu, nan disayangkan juga teman-teman mahasiswa yang lain yang dikenal fokal menyuarakan keadilan justru tunduk terhadap kebijakan tersebut, lagi-lagi mereka takut dengan ancaman tidak boleh mengikuti UAS, ia tidak mempermasalahkan soal nominal, ia mempermasalahkan soal kebijakan yang tidak pernah melihat mahasiswa kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Dika mencoba mengakumulasi semua sumbangan dari tiap mata kuliah, dari semester satu sampai sekarang semester tiga semuanya cukup fantastis, “sumbangan dies natalis prodi 300”, “Sumbangan Event olahraga Nasional 600” “sumbangan seminar olahraga 300” “sumbangan kebutuhan renang 250” “sumbangan apresiasi kinerja prodi 350” “sumbangan traveling kelas 900 *Wajib*” dan kata wajib itu selalu dicetak tebal, mengisyaratkan bahwa itu adalah sebuah hukum yang jika dilanggar pasti memiliki konsekuensi, tentu masih banyak lagi sumbangan kecil yang tidak dapat Dika catat.

Dika kembali menatap informasi yang ada digrup whatsapp kelasnya itu agak lama, seolah berharap huruf-huruf dari kata *wajib* luntur bermetamorfosis menjadi kata *sukarela*, namun kenyataannya tetap dingin, yang membayar namanya dinyatakan lunas, yang tidak membayar masuk dalam daftar nama list merah, dan itu menjadi tanda akan bermasalah pada nilainya.

Dika pun beranjak pergi dari tempat duduknya untuk melanjutkan mata kuliahnya yang ke dua, meskipun pemikiran nya sedang tidak baik-baik saja, kuliah tetap kuliah yang harus menjadi prioritas, sekalipun dia masuk ke kelas tidak dapat apa-apa, setidaknya dia akan ketemu dengan Daniel yang selalu menjadi teman adu gagasannya.

***

Suatu sore, di bangku panjang dekat kantin, Dika duduk bersama Daniel dan Ira, Wajah mereka sama lelahnya.

“Gue belum bayar yang terakhir,” kata Daniel pelan.

“Katanya kalau belum lunas, nggak boleh ikut UAS.”

Ira mengaduk es tehnya tanpa minat.

“Aku juga. Orang tua lagi susah. Tapi yah mo gimana lagi mereka nggak mau dengar alasan mahasiswanya.”

Dika menarik napas panjang, ada sesuatu yang berdenyut di dadanya bukan marah semata, tapi kesadaran yang pahit.

“Menurut kalian,” kata Dika akhirnya, “ini masih layak disebut pendidikan?”

Daniel menoleh. “Maksud lo?”

“Kita kuliah untuk belajar pak,” lanjut Dika, suaranya ditahan agar tak meledak. “Tapi kenapa rasanya kita kayak… disuruh setor terus? Nilai bukan lagi soal kemampuan, tapi soal siapa yang paling patuh bayar, mereka ngak jauh beda dengan pemerintah yang ada dinegeri Konoha, seakan-akan kita ini kembali lagi ke zaman romusha”

Ira menatap Dika lama. “Lo ngerasa kita diperbudak?”

Dika terdiam. Kata itu berat, tapi jujur.

“Iya,” jawabnya pelan.

“Bukan dengan rantai. Tapi dengan syarat, ancaman, dan ketakutan.”

Dan keheningan tercipta diantara mereka, seolah mereka sadar, mereka sebenarnya tidak benar-benar merdeka, atau kata kasarnya menjadi budak Diktator.

Sore itu, Dika tak langsung pulang menanggapi panggilan bantal gulingnya yang menyuruh untuk segera dipeluk, Ia membuka laptopnya di perpustakaan yang hampir kosong.

Dibacanya buku-buku lama tentang kampus sebagai ruang pembebasan, tentang mahasiswa sebagai suara nurani, Mahasiswa dipersimpangan jalan, Ia sadar, diam hanya akan memperpanjang rantai yang tak kasat mata itu.

***

Hari-hari berikutnya, Dika mulai berbicara, Bukan dengan teriak, melainkan dengan ajakan, karena ia sadar setelah membaca buku Aksi Massa karya tan Malaka “Revolusi sejati tidak lahir dari kudeta (putch) oleh kelompok kecil, tetapi dari gerakan massa yang terorganisir, sadar, dan menyentuh langsung kebutuhan serta kepentingan ekonomi rakyat”. Kira-kira begitu kurang lebih kalimatnya yang sempat Dika ingat.

Ia mengumpulkan teman-temannya, satu per satu, chat pribadi diaplikasi whatsapp ngobrol di sudut-sudut sunyi kampus sampai ada yang Dika ajak ngopi untuk diskusi bareng.

“Kita nggak sendiri,” katanya pada mereka.

“Kalau cuma satu orang yang nolak, dia akan jatuh. Tapi kalau kita berdiri bareng, mereka akan dengar.”

“Kalau nilai kita dihancurkan?” tanya seseorang dengan suara gemetar.

“Nilai hanyalah angka pak dan nilai bisa diulang,” jawab Dika. “Tapi tidak dengan harga diri,” Imbuhnya.

Perlahan, keberanian tumbuh. Mereka menulis surat bersama untuk audiensi, bukan cacian bukan juga makian, melainkan tuntutan yang dingin dan beralasan.

Mereka menginginkan transparansi, pemisahan antara akademik dan sumbangan, serta penghapusan syarat finansial untuk hak belajar, tuntutan itu mereka tulis dengan pertimbangan yang cukup matang, mereka juga siap dengan konsekuensi apapun karena mereka berdiri atas nama keadilan dan kemerdekaan.

Hari surat itu diserahkan, suasana kampus terasa berbeda, Sunyi, tapi tegang, Dika dan Daniel mengucurkan peluh disekujur tubuhnya, maklum baru kali ini mereka melakukan hal senekat itu.

Ketua prodi membaca surat itu lama, Wajahnya sulit ditebak.

“Kalian tahu risiko dari sikap ini?” katanya dengan nada intimidasi.

Dika melangkah maju. “Kami tahu, Pak. Tapi kami juga tahu, pendidikan bukan tempat untuk menundukkan, melainkan membebaskan.”

Tak ada tepuk tangan, Tak ada kemenangan instan, Tapi saat Dika menoleh ke belakang, ia melihat sesuatu yang lebih berharga: teman-temannya berdiri tegak, tidak lagi menunduk.

Dan disitulah Dika mengerti merdeka bukan selalu tentang menang. Kadang, merdeka hanya tentang berani mengatakan “tidak, kami ingin merdeka.”

 

Penulis adalah Saiful Baidawi mahasiswa UPI Sumenep prodi Bimbingan dan Konseling sekaligus anggota LPM Retorika yang saat ini aktif menulis di media Retorika.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here