Langkah Kecil di Ujung Jalan

0
181
Ilustrasi

Di sebuah desa yang dikelilingi sawah hijau dan aliran sungai jernih, hiduplah seorang anak perempuan berusia tujuh belas tahun bernama Tika. Hidupnya yang sederhana membuatnya sering berpikir.

Setiap pagi dia bangun sebelum matahari muncul untuk membantu ibunya menanak nasi, lalu berjalan kaki ke sekolah bersama sahabatnya, Tiwi. Tidak ada yang istimewa dari hari-harinya, dan justru itu yang membuatnya sering bertanya-tanya,

“Apakah hidupku akan selalu seperti ini?”

Suatu hari, selepas pulang sekolah, Tika duduk di pinggir jalan desa. Angin sore menggerakkan padi yang menari berirama. Jalan itu panjang dan lurus, jarang ditemukan jalanan berkelok pada Desa yang mayoritas dihuni petani, mereka–Petani– berjalan membawa cangkul, beberapa anak kecil berlarian, dan aroma tanah basah tercium setelah hujan siang tadi.

Tika mengayunkan kaki kecilnya, sambil menghela napas panjang. Di saat itulah, seorang kakek tua, Pak Wiryo, datang dan duduk di sebelahnya. Wajahnya dipenuhi keriput, tetapi matanya jernih dan hangat.

“Kenapa sedih?” tanya Pak Wiryo dengan suara serak namun lembut.

Tika mengangkat bahu. “Hidupku kok rasanya gini-gini saja, Pak. Bangun, sekolah, bantu Ibu, lalu tidur. Aku ingin jadi orang hebat, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.”

Pak Wiryo tersenyum kecil. Dia menunjuk ke jalan panjang yang membentang di depan mereka.

“Kau lihat jalan itu? Dulu itu jalur paling becek di desa ini. Tidak ada yang mau lewat. Tapi sedikit demi sedikit, batu ditata, tanah diratakan. Sampai akhirnya kita bisa berjalan nyaman seperti sekarang. Semua itu dimulai dari satu batu pertama.”

Tika terdiam. Ia tidak langsung mengerti, tapi kata-kata itu menempel kuat dalam pikirannya.

Keesokan harinya, ketika guru menyuruh murid-murid beristirahat, Tika berjalan menuju perpustakaan sekolah. Tempat itu jarang dikunjungi. Jendelanya berdebu, rak bukunya kusam, dan suara pintunya berdecit setiap kali dibuka.

Tika berdiri di depan pintu, memandang ke dalam. Buku-buku itu berantakan, bahkan beberapa berserakan di lantai. Ruangan itu seperti rumah yang lama ditinggalkan.

“Kalau aku mau memulai sesuatu, mungkin di sini,” gumamnya.

Tika pun mulai membersihkan meja, menyapu lantai, dan menghapus tulisan-tulisan lama di papan pengumuman. Lalu dia membuat sebuah papan kecil dari kardus bekas, dengan tulisan spidol warna-warni.

Ayo Membaca! Perpustakaan umum untuk Semua! 

Begitu kiranya kalimat yang tertulis pada papan kardus itu.

Dia memasangnya di depan pintu perpustakaan. Hari pertama berlalu tanpa perubahan. Tidak ada satu pun orang yang datang. Tapi Tika tidak menyerah.

Hari kedua, Tiwi melihat apa yang Tika lakukan.

“Ka, kamu ngapain sih capek-capek bersihin ruangan ini?”

“Aku cuma… ingin memulai sesuatu,” jawab Tika sambil tersenyum.

Tiwi akhirnya membantu. Mereka menata ulang buku, mengelompokkan sesuai tema, dan membuat tempat duduk dari tikar bekas. Ketika guru melewati perpustakaan, ia melihat perubahan kecil itu.

“Bagus sekali, Tika. Kamu yang melakukan semua ini?”

Tika mengangguk malu-malu.

Sejak hari itu, dua anak kelas 3 datang meminjam buku cerita. Keesokan harinya, dua anak lain datang lagi. Lusa, ada lima anak. Minggu berikutnya, perpustakaan menjadi tempat teramai kedua setelah kantin. Para Guru bahkan mulai mengadakan sesi membaca bersama.

Suatu hari, kepala sekolah memanggil Tika.

“Kami ingin menjadikan perpustakaan ini sebagai ruang literasi yang utama. Kamu bersedia menjadi ketua kelompok baca, Tika?”

Mata Tika berkaca-kaca karena terkejut. Tika menjawab bahwa dia tidak pernah menjadi ketua apa pun.

Tika berucap, “Tapi… saya cuma anak biasa, Bu.”

Bu Guru menjawab, “Kamu anak yang berani memulai, Ka. Itu sudah jauh lebih hebat dari kebanyakan orang.”

Kalimat itu menciptakan keberanian baru di hati Tika.

Setelah itu, Tika membuat poster buatan tangan, menyusun jadwal membaca, dan bahkan mengadakan lomba meresensi buku. Suasana sekolah berubah. Anak-anak lebih suka membaca cerita rakyat, dongeng, dan komik edukasi ketimbang bermain tanah seperti dulu.

Dan semua itu berawal dari langkah kecil yang dulu dia anggap tidak berarti.

Sore itu, setelah tiga bulan, Tika kembali duduk di tepi jalan bersama Pak Wiryo. Jalan itu kini lebih ramai. Beberapa pedagang kecil mulai membuka warung di kedua sisi jalan.

Pak Wiryo bertanya, “Gimana hari-harimu sekarang, Ka?”

Tika tersenyum, lebih lebar dari biasanya.

“Rasanya hidupku berubah, Pak. Aku tidak pernah menyangka perpustakaan itu akan ramai. Ternyata… langkah kecil bisa membuat banyak hal berubah.”

Pak Wiryo mengangguk puas. “Begitulah kehidupan. Kadang kita menunggu sesuatu besar datang, padahal yang kita perlu hanya memulai dari hal kecil. Yang penting, kita terus melangkah.”

Tika memandang jauh ke ujung jalan desa. Matahari mulai tenggelam, memantulkan warna keemasan di seluruh langit. Wajah Tika tidak lagi datar, membuat hari-hari itu tidak pernah lagi ia anggap membosankan.

Tetapi dia tahu, perjalanan baru saja dimulai. Jalan panjang menantinya, tapi dia tidak takut lagi karena dia sudah belajar dan memahami bahwa setiap perjalanan hebat selalu dimulai dari langkah-langkah kecil.

Penulis bernama lengkap Fitra Qamariyah anggota magang yang saat ini aktif menulis di LPM Retorika.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here