Jalan Panjang yang Lebih Ringan

0
160
Ilustrasi

Suasana sunyi senyap melekat di sisi ruang kelas menyisakan satu suara yang mendominasi puluhan telinga. Salah satu pemilik telinga itu adalah A

lma, seorang mahasiswi baru yang tengah mendengarkan dosen, yang terkenal “killer,” menjelaskan tugas akhir semester.

Satu kelas terdiam, sibuk menyimak apa yang disampaikan dosen, karena bagi mereka, ini adalah tugas akhir semester perdana di masa kuliah.

“Baik, itu saja. Ingat, harus kompak dalam kelompok dan jangan lupa kumpulkan minggu depan. Wassalamu’alaikum,” ujar dosen, mengakhiri pertemuan.

Alma dan dua teman kelompoknya, Yasmin dan Ulfa, saling tatap pasrah.

“Tugas artikel seberat ini harus kita kerjakan saat masih baru duduk di bangku kuliah? Celaka kita,” gumam mereka bertiga yang ternyata satu kelompok.

Setengah jam setelah dosen keluar kelas, mereka bertiga berdiskusi tentang cara membuat tugas artikel tersebut. Mereka sama-sama bingung dan tidak tahu harus bertanya atau meminta bantuan kepada siapa. Hingga beberapa saat kemudian, Ulfa mengajukan ide yang sedikit berisiko.

“Bagaimana kalau begini saja gaes, kita joki saja biar tidak ribet,” ucap Ulfa yang tiba-tiba membuat kedua temannya terdiam. Mata Yasmin melirik ke arah Alma, menunggu tanggapan. Namun, tak berselang lama, Alma berpendapat bahwa itu bukan solusi.

“Joki itu curang, Ulfa. Sekalipun diterima, kita tidak belajar apa-apa,” katanya dengan nada tegas.

Tiba-tiba, notifikasi dari ponsel Alma mengalihkan perdebatan mereka. Ternyata notifikasi itu dari Lina, mahasiswi kakak tingkatnya. Isi pesan itu adalah jawaban dari masalah mereka. Sebelum Ulfa mengusulkan ‘joki’, Alma memang sudah lebih dulu bertanya kepada Lina tentang pembuatan artikel, dan hasilnya, Lina siap mengajari mereka sore itu di perpustakaan. Mereka pun bernapas lega, akhirnya mereka bisa mengerjakan tugas yang terbilang berat itu tanpa perlu ‘joki’.

Sore harinya, mereka bertiga berkumpul di perpustakaan. Lina menjelaskan langkah demi langkah, mulai dari mencari referensi yang tepercaya, menyusun kerangka artikel, hingga cara mengutip yang benar.

Mereka menulis, bertanya, dan menyesuaikan hingga larut malam. Setiap kata yang ditulis terasa berat, tetapi juga penuh makna. Akhirnya, artikel itu selesai tepat pada hari H, dan mereka menyerahkannya kepada dosen yang terkenal ‘killer’ itu.

Beberapa hari kemudian, dosen memanggil nama mereka di kelas. “Artikel kalian cukup bagus, terutama alur penulisan dan referensinya. Pantas untuk mahasiswa baru,” ucapnya dengan senyum yang jarang terlihat. Mereka bertiga saling pandang dengan senyum bangga.

Sejak saat itu, setiap kali mereka menghadapi tugas yang rumit, mereka memilih meminta bantuan pada kakak tingkat alih-alih mengambil jalan pintas dengan membeli tugas atau ‘joki’.

Alma sadar bahwa sesuatu yang terasa sulit adalah karena belum dipelajari lebih mendalam. Dan dari sana juga dia belajar bahwa bersaing dalam kelas tidak boleh curang; jalan panjang yang dipahami dengan baik, ternyata lebih ringan daripada jalan pintas yang penuh risiko.

Penulis adalah Yulis Maysaroni, mahasiswa Prodi PGSD UPI Sumenep yang saat ini aktif menulis di LPM Retorika.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here