Sore ufuk jingga sudah mendekati pangkalannya, di sebuah pojok warung kopi, seorang remaja termenung menunggu kepastian temannya akankah lanjut menyusul ke warkop atau tidak.
Setelah berjam-jam menunggu, temannya mengabari bahwa dirinya tak bisa datang karena sedang mengantar ibunya ke rumah sakit
“Halo bro, sorry gabisa join warkop, ini lagi di rumah sakit nganter Ibu berobat” suara dari seberang telepon itu. Ahmidun Hadip atau mahasiswa yang akrab bernama Hamid itu hanya terdiam dan menghela nafas, tanpa menjawab sepatah kata dia langsung mematikan telfon.
Beberapa pekan selanjutnya mereka kembali membuat janji tuk bertemu di tempat yang sama, Hamid kembali duduk di meja tempat kemarin menjadi saksi bisu harapan Hamid kepada kunjungan temannya, dan hari ini dia kembali menunggu kepastian yang mungkin akan membuat dia kecewa untuk yang kedua kali.
Dia sudah menunggu sejak matahari mulai bersinar dari ufuk timur sampai matahari mulai melambaikan tangan terbenam ke arah kiblat, namun lagi-lagi temannya itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya, rasanya sudah sejak tadi dia lama menghidupkan telepon genggamnya bolak-balik dari aplikasi hijau dan aplikasi berlogo tulisan ‘mobile legend‘ itu, alangkah malunya jika dirinya sampai terlelap di warung kopi penuh debu yang kebetulan sedang tahap renovasi itu.
Karena lelah, ia memutuskan untuk beranjak dari tempat duduk dan pulang menuju rumahnya guna beristirahat dari rasa kecewa yang menghampiri sampai dua kali, tak lama dirinya sampai dan langsung menghampiri kasur sembari berseloroh pelan “kamu lebih memahamiku dari pada dunia beserta segala kebohongannya”.
Baru sedetik matanya terpejam, suara dering teleponnya yang begitu keras memaksa Hamid kembali membuka mata dan menggerakkan tangan untuk menerima panggilan itu.
“halo, kamu di mana, aku nih baru nyampe di warkop, macet tadi di jalan” sontak dia marah mendengar temannya curhat atas kemacetan lalu lintas “mana ada macet, kita satu kota somplak, udah ah aku mau tidur, seharian nunggu, kamu kira ga cape?” ucap Hamid lalu mematikan telfon.
Berbulan-bulan larut akan rasa resah mengenai tugas yang belum pernah dibahas tuntas, di siang bolong teman Hamid kembali menghubungi untuk kembali mengajak bertemu untuk membahas tugas yang belum selesai
kring..kring.. suara dering telfon Hamid.
“siapa sih ganggu orang tidur siang” gerutunya, setelah dilihat layar ponselnya, tampak sebuah nama yang dari kemarin selalu memberi harapan palsu kembali menelfon “halo, kenapa?” tanya Hamid pada temannya, “ini gimana tugas yang kemaren?” tanya balik temannya di seberang telepon, “ya belum selesai, dari kemarin kamu selalu ga dateng” kesal Hamid, mendengar tugasnya belum selesai, temannya itupun kembali mengajak Hamid bertemu untuk yang kesekian kalinya “ya ayok, aku nelfon mau ngajak ketemu, biar cepet selesai itu tugasnya”
Dengan nada lesu Hamid menjawab “ketemu ngapain, nanti aku cuma nunggu yang ga pasti” Hamid menolak untuk janjian ketemu, namun temannya tetap memaksa untuk mereka kembali bertemu “ayoklah, iya maaf kemarin aku banyak kendala, tapi besok bisa, ayo ketemu biar cepet selesai itu tugas”
Akhirnya setelah lama dibujuk, Hamid setuju untuk kembali bertemu di warung kopi kemarin “yaudah besok kalo mau ketemu besok siang di tempat biasa”
“oke ketemu besok” kesepakatan itu sontak terjadi saja sebelum telepon dimatikan.
Keesokan harinya, setelah berehat semalaman dari ketidakpastian yang selalu menghampiri, Hamid beranjak bersiap menuju warkop tempat deal dengan temannya kemarin.
Setelah sepuluh menit menempuh perjalanan, Hamid sampai di warkop bertuliskan
“Presiden pernah ngopi di sini”
Selang beberapa jam menunggu, handphonenya kembali berdering, ternyata ada telfon dari teman yang akan ia temui “halo Mid, Sorry ya perutku tiba-tiba sakit, ini lagi di UGD” kalimat pembuka yang cukup menyakitkan bagi Hamid, tanpa peduli keadaan temannya, berkata “tuh kan, kalo emang ga niat ga usah ngajak ketemu, udah berapa jam ditunggu, dan ini bukan sekali dua kali” tanpa panjang lebar, Hamid menggeser ikon merah di panggilan itu lalu lanjut termenung di pojok warkop.
Tak berselang lama Hamid dihampiri salah seorang senior satu kampusnya, “loh kok ngopi sendirian aja dek” ucap Sento senior dua tahun di atas Hamid.
“eh kak Sento, iya nih kak lagi nunggu temen udah satu semester ga dateng, tadi tiba-tiba nelfon bilangnya gajadi dateng” saut Hamid sambil gagu sambil tersenyum tipis.
“oalah, emang mau bahas apa toh? atau cuma ngopi biasa?“ lanjut Sento basa-basi, “tadinya mau bahas tugas kak” saut Hamid lagi.
Sambil menyulut rokok, Sento lanjut bertanya “ohh tugas matkul apa emang, siapa tau bisa, ta’ bantu?” “bukan matkul kok kak, aman aja. Pengen ngobrolin isu” jawab Hamid sambil menggaruk kepala, tak heran Hamid sudah dikenal dengan keanggotaannya di salah satu lembaga yang membidangi jurnalistik.
“wih ngeliput apa nih, kayaknya akhir-akhir ini beritanya seru-seru, haha” gelak Sento saat bertanya.
“lumayan seru sih kak, seru dan membagongkan” jawab Hamid sambil tertawa, “wahh spill dikit dong” sendat Sento.
“nasib angkatan 2030 itu kak, temen-temen banyak yang mau berhenti organisasi gara-gara ga dapet MBG” Hamid sampaikan keresahan isu yang mengganggunya akhir-akhir ini dengan Sento yang mendengarkan penjelasan Hamid dengan seksama. Tak sedikit Sento sambil memberikan saran dan masukan, hal itu membuat Hamid merasa lega bisa ngobrol dengan kakak tingkatnya itu.
“oalah, kamu sambil ngeliput itu, sampaikan juga ke temen-temennya bahwa banyak program bantuan lain” kata Sento di akhir nasehatnya,
“Iya kak siap”
“Yasudah lanjut ya, kakak mau ke agenda lain” Sento lah yang menyudahi basa-basi mereka.
“lah mau kemana kak, baru juga nyampe” Hamid yang telah merasa kehadiran Sento membuka banyak ide di kepalanya beralih menginginkan Sento dapat berbicara banyak dengannya, namun dia merasa itu bukan hak Hamid menghentikan Sento.
“tadinya hanya mau mengurus pembayaran ke kasir, tapi gajadi kasirnya lagi keluar, udah lima kali bolak-balik warkop ini cuma mau ke bagian jaga kasir” ucap Sento agak kesal sebab di lain sisi agendanya banyak molor karenanya.
“ohh iyadah kak kalo gitu” dialog sesaat itupun benar-benar berakhir dengan deru sepeda motor milik Sento yang menjauhi warkop.
Selain menunggu temannya, Hamid juga masih menunggu kopi yang sejak bulan agustus dirinya pesan ke kasir, tak lama pelayan menuju meja Hamid dengan tangan yang hanya memegang harapan kosong
“maaf mas kopinya habis, dan kami sudah mau tutup” ujar pelayan tiba-tiba.
“Loh eh loh eh gimana sih mas, saya udah nunggu setengah tahun ini, kenapa ga bilang dari awal kalo emang kopinya habis” tangkas Hamid.
“loh anda gausah nyolot, Anda kan memesan, itu hak Anda, Saya mau menyediakan kapan itu juga hak saya, lagi pula dari awal kami kan ga janji kopinya bakal ada” saut pelayan dengan nada tinggi tak mau kalah.
“loh ngapain buka warkop kalo gaada kopinya, dari awal branding kalian hanya kopi, maka jangan salahkan pelanggan yang datang hanya mengharapkan kopi, itu kesalahan sistem warkop ini, kejadian seperti ini bukan hanya sekali, kenapa masih belum dibenahi?” pelayan terdiam setelah mendengar perkataan Hamid.
“Saya tidak mau tau, pokoknya saya mau kopi harus ada di meja Saya, hari ini juga!!” nihil tak terlihat sudah kesabaran Hamid.
Pelayan menjawab dengan lesu, “maaf mas kopinya habis karena dari owner hanya menyediakan 35 kopi untuk tahun ini, masnya bisa ganti ke menu lain, menu di sini ada banyak, ada teh susu, ada joshua, dan 19 menu lain” bukannya mereda justru kalimat sang pelayan semakin memprovokasi emosi Hamid.
“kamu mau saya memesan menu lain? apa kamu bisa jamin ga bakal habis juga menunya? lagian kenapa sekarang menunya tiba-tiba jadi mahal semua? kemarin harga indomie masih 17.000, kenapa sekarang malah jadi 26 ribu?”
“jadi gini mas, kita ditahap berubah ke cafe, jadi ada beberapa biaya tambahan untuk renovasi dan menu-menunya akan kami upgrade.” dalih sang pelayan tak habis-habis.
“renovasi tai kucing, pembaharuan bullshit, wong kopinya kemarin masih sama saja, terus kamar mandinya masih jelek begitu, gausah berdalih ini-itu lah,” jengkel Hamid dibuatnya, namun pelayan berdalih dengan berkata “iya ini kan masih baru berubah jadi cafe mas, segala sesuatunya masih dalam proses” perkataan pelayan itu justru makin membakar emosi Hamid, sambil marah dia tunjuk tepat muka pelayan tersebut.
“sudah kamu pergi saja, saya sudah terlanjur kecewa sama warkop ini”.
Sejak saat itu Hamid semakin resah akan apa yang harus dia lakukan kedepan.
Untuk sementara waktu cerita tersebut berakhir dengan ending yang menggantung karena Hamid semakin dibenturkan dengan beberapa hal, akankah ia menyelesaikan tugas tanpa temannya dan hanya mendapat nilai sendiri? dan apa yang akan dilakukan Hamid setelah tau kopi yang ditunggu sudah tidak bisa dirinya pesan?
Penulis adalah Arul, mahasiswa Universitas PGRI Sumenep Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan sekaligus merupakan anggota yang saat ini aktif menulis di LPM Retorika.












