Alih-alih Merespons Keluhan Mahasiswa, Pernyataan Kaprodi PJKR Justru Dianggap Tak Berempati

0
546
KEJUARAAN: Kaprodi PJKR FKIP UPI Sumenep, Taufik Rahman, saat menghadiri kegiatan Rektor Cup (Foto: Instagram hmppjkr_universitaspgrisumenep)

MEDIARETORIKA.com–Ketua Program Studi (Kaprodi) Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI (UPI) Sumenep, Taufik Rahman, dinilai kurang berempati terhadap kondisi mahasiswanya.

Penilaian itu mencuat di kalangan mahasiswa PJKR usai pernyataan Taufik Rahman saat dimintai tanggapan atas keluhan mahasiswa yang merasa terbebani oleh kebijakan wajib mengikuti Kursus Mahir Dasar (KMD) Pramuka.

Berita Sebelumnya: Kebijakan Wajib KMD Dinilai Membebani Mahasiswa dari Segi Biaya, Kaprodi PJKR: “Saya Dulu Kuliah Juga Mahal Kok”

Salah satu mahasiswa PJKR, sebut saja Nita, menilai sikap Kaprodi seharusnya lebih berpihak pada kondisi riil mahasiswa. Menurut dia, tidak semua mahasiswa PJKR berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang mapan.

Dia menegaskan, Kaprodi semestinya menjadi wadah aspirasi mahasiswa, bukan justru menyampaikan pernyataan yang dinilai mengabaikan kesulitan yang dirasakan mahasiswa.

“Beliau ini (Kaprodi PJKR) terasa tidak empatik dan mengabaikan realitas keadaan ekonomi mahasiswa yang berbeda-beda,” tegasnya.

Kritik serupa juga dilayangkan oleh mahasiswa PJKR lainnya yang merupakan penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP). Dia menilai, narasi bahwa biaya pendidikan “dari dulu memang mahal” justru berpotensi memaklumi ketimpangan akses pendidikan.

“Walaupun saya mahasiswa KIP, saya melihat bahwa pendidikan itu adalah hak warga negara, bukan hak istimewa untuk mereka yang mampu saja. Jika narasinya seperti itu, seolah-olah mahasiswa diminta memaklumi bahwa pendidikan berkualitas memang hanya untuk kalangan atas,” ujarnya.

Mahasiswa tersebut juga menyoroti pernyataan Kaprodi yang dinilainya kurang mencerminkan empati terhadap mahasiswa dari keluarga tidak mampu.

“Negara memberi saya KIP karena tahu ekonomi keluarga saya terbatas. Namun, Bapak (Kaprodi PJKR) justru membandingkan kemiskinan zaman dulu dengan biaya sekarang. Apakah pada masa Bapak dulu, empati juga termasuk barang mewah yang tidak terbeli?” katanya.

Sementara itu, Mediaretorika.com telah berupaya menghubungi Taufik Rahman untuk dimintai keterangan lanjutan. Namun, hingga berita ini diterbitkan, pesan yang dikirim melalui aplikasi WhatsApp hanya menunjukkan tanda telah dibaca tanpa adanya respons.

Reporter: Syaif/Nabil
Editor: Redaksi

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here