Oleh: Nadzif
Eps 1
Sialan. Satu kata kasar itu refleks keluar dari mulut Arya tepat setelah dirinya melempar selembar kertas mengilap ke atas kasur tipisnya. Dia tatap secarik kertas itu dengan pandangan benci sekaligus muak. Nampaknya itu adalah brosur penerimaan mahasiswa baru dari kampusnya sendiri. Brosur yang beberapa bulan lalu penuh hati-hati dirinya simpan rapi di dalam laci, seolah-olah kertas itu adalah golden ticket menuju kehidupan yang lebih baik.
Kalau diingat-ingat lagi, Arya merasa bodoh luar biasa. Dulu, saat pertama kali memegang brosur itu, hatinya berbunga-bunga. Desain grafisnya begitu menggugah mata, lembaga itu cerdik sekali memajanb foto mahasiswa-mahasiswi berwajah cerah sedang tersenyum lebar sambil memakai jas almamater kebanggaan. Sungguh, terlihat seperti tempat paling ideal untuk belajar. Apalagi di halaman utamanya, terpampang sebuah jargon branding dengan huruf kapital yang dicetak tebal “KAMPUS SEJUTA BEASISWA. KULIAH NYAMAN, MASA DEPAN AMAN.”
Kalimat-kalimat di dalam brosur itu disusun dengan sangat rapi dan manis. Isinya menjanjikan berbagai kemudahan, contihnya saja siapa yang tidak tergiur dengan sejumlah kalimat yang semua orang dambakan, lihat saja: potongan biaya kuliah bagi yang kurang mampu, proses pencairan beasiswa yang cepat, hingga fasilitas penunjang yang lengkap. Surga rasanya, seperti yang didambakan sejuta orang, mudah, murah, nyaman.
Bagi Arya, dengan kodisi yang hanyalah seorang pemuda dari keluarga sederhana dengan mimpi paing mahal, brosur itu adalah jawaban atas segala doanya. Arya begitu gembira akan mendapati dirinya yang nanti bisa kuliah. Memperoleh ilmu, memakai almamater dengan bangga, mengubah nasib keluarga, dan berdiri tegak sejajar dengan teman-teman sebayanya yang bisa melanjutkan pendidikan tanpa pusing memikirkan biaya.
Demi mewujudkan impian yang ada di brosur itu, Arya rela terseok-seok. Rela banting tulang bekerja serabutan, menahan lapar dengan menghemat uang jajan seketat mungkin, dan mengorbankan waktu tidurnya demi mengumpulkan modal awal. Pikirannya saat itu sederhana, dia afirmasikan kepada dirinya.
“Tidak apa-apa capek di awal, yang penting nanti setelah masuk kampus, semuanya akan dijamin oleh beasiswa seperti yang dijanjikan,” ujarnya kala itu.
Namun, semua euforia dan bayangan indah itu langsung melesap bagai embun pagi di sela dedaunan pucuk sang apollo yang dengan cepat mulai membentang di ufuk timur.
Selang, Arya pun membuka semester pertama perkuliahan. Kenyataan di lapangan menampar wajah Arya dengan begitu keras hingga dia mulai tersadar dari mimpi indahnya. Nyaman dan aman? Nyatanya semua itu hanya omong kosong belaka.
Begitu resmi memakai status mahasiswa, Arya justru merasa terjebak di dalam labirin yang rusak. Sistem akademik di kampus itu ternyata luar biasa amburadul. Jadwal kuliah sering berubah mendadak, informasi dari pihak kampus selalu simpang siur, dan urusan administrasi atau birokrasinya minta ampun ribetnya. Dan yang paling menjengkelkan, janji-janji manis tentang “Sejuta Beasiswa” yang dulu dipamerkan di brosur dan media sosial kampus mendadak gaib saat ditagih. Setiap kali Arya bertanya ke bagian administrasi, selalu dioper dari satu loket ke loket lain tanpa pernah mendapatkan jawaban yang pasti.
Kini, setiap malam Arya tidak bisa tidur nyenyak. Faktor internal dalam dirinya bergejolak hebat. Rasa cemas, takut, dan stres mulai menggerogoti pikirannya. Uang tabungan yang dulu pernah dia kumpulkan dengan keringatnya sendiri perlahan-lahan habis terkikis, untuk membayar berbagai macam pungutan dadakan berkedok “uang fasilitas” yang sama sekali tidak jelas gunanya.
Sementara itu, hak beasiswanya dibiarkan mengambang begitu saja di udara tanpa kejelasan, seolah-olah pihak kampus sengaja menutup mata.
Sambil menatap langit-langit kamarnya yang mulai berjamur, Arya menarik napas dalam-dalam, menahan sesak di dadanya. Merasa ditipu mentah-mentah oleh institusi yang katanya menjunjung tinggi nilai pendidikan. Dengan senyum kecut, otaknya yang sedang panas mulai membandingkan situasi ini dengan hal-hal di sekitarnya.
Lirih dia bergumam sendiri dalam hati, “kalau tahu jadinya akan sekacau ini, janji manis dari seorang kekasih yang sedang merayu pasangannya jauh lebih mending,” Kalimat bualan pacar yang mengalun di pelipis, “Aku nggak bisa hidup tanpa kamu,” atau “Aku bakal setia selamanya,” jelas jauh lebih manusiawi.
Mengapa? Karena setidaknya, janji palsu itu paling-paling hanya menohok bagian hati yang terkecil. Setidaknya, janji itu gratis, tidak merugikan dompet orang tua.
Getir, jika janji palsu pimpinan kampus yang dibungkus melalu brosur mentereng? Efeknya luar biasa merusak. Janji palsu itu merampok uang tabungan, memeras tenaga, mempermainkan harapan, dan yang paling jahat, berpotensi membunuh masa depan mahasiswanya secara perlahan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Kami juga sedang berusaha,” begitu katanya.
Penulis adalah Nadzif, seorang mahasiswa kreator konten dan konseptor kreatif yang bergerak di bidang visual, edukasi, dan literasi. Memiliki ketertarikan kuat pada dokumentasi sejarah, isu ekologi, serta kritik sosial khususnya mengenai dinamika dunia mahasiswa saat ini.












