
MEDIARETORIKA.com–Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) STKIP PGRI Sumenep berhasil menyelenggarakan kegiatan Duta Bahasa 2023 tanpa adanya dukungan dari kampus.
Acara yang berlangsung di auditorium kampus tersebut diwarnai dengan kritik dari mahasiswa terhadap pihak kampus. Kritik tersebut disampaikan oleh Ketua Umum HMP PBSI Andriyanto dan Ketua BEM STKIP PGRI Sumenep. Mereka menilai bahwa kampus tidak profesional dalam mengelola anggaran kegiatan mahasiswa.
Andriyanto menyatakan kekecewaannya karena kampus tidak memberikan dukungan finansial untuk kegiatan Duta Bahasa 2023. Padahal, anggaran untuk HMP PBSI belum terserap sama sekali. Ia juga mendapat informasi bahwa organisasi mahasiswa (ormawa) lain sudah mendapat persetujuan proposalnya, sementara HMP PBSI belum.
“Saya tidak tahu apa alasan kampus tidak mengeluarkan anggaran untuk kami. Padahal, setiap ormawa itu punya hak untuk mendapatkan dana kegiatan,” ujarnya pada Rabu (19/07/23).
Bahkan dirinya sangat menyayangkan perlakuan kampus terhadap kegiatannya. Sebab, menurutnya kegiatan tersebut digelar untuk kebaikan Kampus. Terlebih, duta bahasa yang terpilih nanti juga akan menjadi duta kampus yang bisa membantu promosi kampus.
“Ini adalah pertama dan satu-satunya di STKIP. Soalnya kampus masih belum punya duta sama sekali yang memang murni duta kampus,” tegasnya saat sambutan.
Menanggapi hal itu, Ketua BEM STKIP PGRI Sumenep meminta kampus untuk segera melakukan evaluasi dan menghindari permasalahan serupa di masa depan. Menurutnya, setiap ormawa sudah memenuhi mekanisme yang ditetapkan, sehingga tidak ada alasan untuk menunda atau menolak pengajuan anggaran. Ia juga menekankan bahwa dana kegiatan itu harus disalurkan sebelum acara dilaksanakan, bukan sesudahnya.
“Kampus harus bertanggung jawab atas hak-hak mahasiswa. Jangan sampai ada sentimen atau tendensi pribadi yang mengganggu proses pengelolaan anggaran,” tegasnya.
Reporter: Dani
Editor: Iqbal











