Oleh : Inka Gusti Fahriansyah
Sebelum menyuguh hasrat paling nikmat,
Seorang barista tawarkan menu
Untuk kita saling bersurat.
Setiba di meja,
Kita berbincang masa jauh
Masa dimana tak ada dari kita terjatuh:
Aku mencintaimu hangat,
Kau mengecupku pekat. Misalnya.
Namun tak terjadi malam ini.
Kita mesra mengaduk mata
Dalam secangkir espresso
Dengan gula berlebihan:
Fornikasi terhidu sampai ampas.
Lalu kita percaya
Hidup sebenarnya adalah kepuasan.
Seorang barista mengetuk mataku
Yang telah lama menikmati menu:
Tak ada daftar kita didalamnya.
22:47 (12/20)
*Penulis adalah Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), semester I.












