Pikirkan dan Telusuri ; “Aku Adalah Ketidaktahuan”

0
1684
Gambar by: mastah.org

Oleh : Masrur*

“Apa yang anda pikirkan?” begitulah kalimat yang tertulis pada kolom status Facebook. Cukup menarik untuk kita bahas kali ini, bahkan salah satu pria yang cukup populer di Indonesia bernama Denny Siregar juga pernah membahas kalimat itu dalam bukunya yang bertajuk “Tuhan dalam secangkir kopi” (2016).

Kata Denny, kalimat itu mengandung filosofi yang sangat dalam. Jadi manusia dituntut untuk berpikir, bukan dituntut untuk hanya sekedar menulis. Ya, seperti kita ketahui bersama bahwa kalimat dalam kolom status Facebook itu adalah sebuah pertanyaan beruapa “apa yang anda pikirkan?” bukan “apa yang ingin anda tuliskan?”.

Selain itu saya juga menemukan sebuah kata yang tidak kalah menariknya dalam salah satu sosial media, “Google”. Disana kita ketahui bahwa kata yang disajikan oleh google pada kolom pencarian adalah “telusuri…” yang bagi saya hal itu juga unik saat dipikirkan lebih mendalam. Tidak hanya sekedar ingin tahu tapi harus mampu menelusuri hingga ke akar-akarnya, sama seperti yang diajarkan dalam ilmu filsafat, yaitu rasa ingin tahu ke akar-akarnya. Maka itulah yang disebut menelusuri.

Banyak orang yang bisa menulis, akan tetapi sangat sedikit yang mampu berpikir apa yang sedang dirinya tuliskan. Begitu pula dengan pengetahuan, sangat banyak manusia yang merasa tahu akan tetapi teramat sedikit diantaranya yang mampu menelusuri apa yang sedang ia ketahui. Oleh karena itu, seorang filsuf berkenamaan di Yunani (Socrates) mengatakan bahwa dirinya disebut sebagai manusia bijaksana pada saat itu dikarenakan mengetahui suatu hal yang tidak diketahui oleh orang lain, yaitu ia tahu bahwa ia tidak tahu apa-apa. Pada intinya semua manusia akan mengaku tahu jika dirinya tidak tahu bahwa ia sedang tidak tahu apa-apa.

Hari ini saya ditempatkan pada satu pilihan yang sejatinya semua pilihan itu adalah tanggung jawab besar bagi saya. Pertama, sebagai manusia saya memiliki tanggung jawab untuk menularkan sedikit pengetahuan saya pada manusia yang lain, sebagaimana tujuan dari ilmu pengetahuan itu sendiri yaitu humanisme. Kedua, saya juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan hak pada orang lain untuk memilih jalannya hidupnya sendiri, sebagaimana hak asasi manusia itu berlaku.

Diantara kedua pilihan tersebut saya dihadapkan pada sebuah pilihan yang sangat rumit, yaitu menularkan yang saya ketahui atau membiarkan orang lain untuk memilih sesuai keinginannya sendiri, yaitu ingin tahu yang saya ketahui atau tidak.

Pada perjalanan hidup yang saya alami, saya ditakdirkan untuk berproses dalam sebuah organisasi. Bersyukur rasanya telah memiliki kesempatan untuk berproses didalamnya, sebab sejauh ini saya diajarkan untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan. Saling berbagi pengalaman yang dikatahui dan dituntut untuk mengajak yang lain agar berada pada jalan keharmonisan antar manusia. Mungkin untuk hal itu saya kira orang lain harus juga masuk pada organisasi yang saya geluti agar lebih mudah memahami maksud nilai-nilai kemanusiaan yang saya katakan dari atas.

Namun, entah mengapa saya merasa bahwa semuanya sangat sulit untuk dilakukan, mengajak orang lain berproses sama seperti yang saya jalani tak ubahnya bagaikan kemustahilan yang tidak akan pernah bisa disentuh sama sekali. Saya bisa apa dan kepercayaan seperti apa yang telah saya bangun untuk orang lain?, pertanyaan serupa selalu menjadi bahan kajian dalam diri ini tiada henti. Mungkin benar yang dikatakan Socrates, “yang saya ketahui, saya sedang tidak tahu apa-apa”.

Sejenak terdiam, lalu saya coba berpikir kembali. “jika bukan dengan mengajaknya pada proses yang sedang saya jalani, lalu kebaikan apa yang bisa saya lakukan semantara ketidak tahuan adalah diri saya yang sebenarnya”, begitulah persoalan yang kian bertumpang tindih menghampiri.

Pada akhirnya saya disadarkan pada satu kesimpulan, tanggung jawab manusia adalah mencari pengetahuan dan menelusuri yang sedang diketahuinya, berpikir adalah jalannya. Mengajak pada kebenaran dan menjelaskan tentang hal itu adalah kewajiban yang tiada ujungnya. Tidak jadi soal perihal dipercaya atau tidak, sebab manusia bukan tuhan yang segala tuturnya harus diterima.

Rupanya saya harus mencari tahu bahwa diri saya memang tidak sedang tahu apa-apa. Agar setidaknya dapat meredam rasa egosentrisme dalam diri ini untuk tidak menilai suatu keadaan hanya dalam satu sudut pandang. Namun yang jelas bagi saya ketidak beranian untuk menelusuri sebuah pengetahuan adalah suatu hal yang sangat jauh dari pengetahuan itu sendiri, menilai sebuah keadaan dengan hanya memandang dari kejauhan adalah sebuah sikap yang kabur dari kebenaran itu sendiri. Maka pikirkan dan telusuri…!

*Penulis adalah masiswa STKIP PGRI Sumenep, Prodi PBSI, semester I.

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here