Oleh: Akhidatul Avida*
Disaat duduk merenung dan berpikir sejenak. Tanpa disadari muncul sebuah pertanyaan pada diri sendiri dan membuat alis mengernyit pasrah. Keadaan yang akan disadari ketika segala sesuatunya mulai tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Mulai sadar dan merasa kehilangan mungkin itu adalah perasaan yang dapat mewakili disaat renungan itu terjadi.
Sudah merdekakah diri ini? Atau sudahkah memerdekakan diri? ya, benar merdeka. Apa sebenernya kemerdekaan itu?, sebuah kebebasan?, tidak terikat?, bukankah begitu adanya?. Selalu saja hal yang yang mungkin terkesan sederharna hinggap di benakku, akan tetapi semua itu pula yang terkadang membuat kita tidak sadar.
Manusia yang terkadang gegabah lebih senang memikirkan dan sok mengerti orang lain tanpa memahami dan memikirkan dirinya sendiri. Apakah memikirkan diri sendiri itu adalah egois?tentu tidak, karena bagian dari memerdekakan diri itu salah satu caranya adalah dengan memahami dan lebih mengenal diri sendiri.
Siapa yang sadar akan hak kita kalau bukan diri sendiri, orang lain hanya bisa menghargai tapi tidak bisa memperjuangkan hak kita sepenuhnya. Oleh karena itu, hanya diri sendirilah yang bisa memerdekannya. Segala bentuk hak dan kebebasan yang bisa kita dapatkan harus benar-benar kita kenali, agar orang lain tidak gampang merebutnya.
Perihal merdeka dan memerdekakan diri sesungguhnya adalah sebuah pilihan, mengapa demikian? mengutip kata-kata Soe Hok Gie “Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka”.
Bukankah jelas menjadi manusia merdeka lebih baik dari pada kedua pilihan tersebut dan untuk menjadi manusia yang merdeka kira-kira kita harus seperti apa?. Interpretasi setiap orang akan berbeda-beda, maka hal ini jatuhnya pasti multi tafsir.
Kebebasan setiap orang akan berbeda-beda, tergantung bagaimana mereka memaknai bentuk kebebasan itu. Ada yang menyadari setiap hak yang seharusnya didapat harus terpenuhi seperti mengenyam pendidikan dan mendapat pengajaran, hal ini tentu saja bentuk dari kebabasan karena dibebrapa daerah yang kolot menganganggap sebuah pendidikan bukanlah sesuatu yang penting apalagi untuk seorang perempuan, maka disinilah letak kesadaran dan hak yang harus kita perjuangkan dan meraih kebebasan.
Ada orang yang memilih tidak terikat dimana pun entah itu organisasi, partai atau semacamnya yang memiliki kepentingan tertentu karena menganggap dirinya lebih aman dan berarti apabila dia menjadi seorang yang independent. Ini hanya sedikit contoh kecil karena hal itu akan beragam dan banyak lagi nantinya apabila setiap orang memiliki kepekaan terhadap dirinya sendiri.
Memahami orang lain perlu, tapi tidak harus mengikuti arus. Dalam artian kita harus mempunyai jati diri untuk merdeka dan tidak mudah dijajah.
Menjadi orang yang tidak peduli dengan keadaan sekitar tidak akan membuat kita semakin kuat tetapi akan membuat kita semakin lemah karena tidak dapat memahami keadaan dan kondisi yang terjadi. Dari kedua pemaparan tersebut sudah jelas bukan, bahwa manusia menjadi merdeka adalah pilihan terbaik.
Berani memilih, mengikuti kata hati, dan mempercayai diri sendiri, mungkin merupakan bentuk merdeka yang sederhana dapat dilakukan dengan cara bersikap bodo amat dengan omongan yang tak penting untuk dirimu, omongan yang tak penting akan selalu menjadi penghalang untuk memerdekakan diri.
Pamahi, kenali, dan pekalah pada diri sendiri, coba telaah apa saja hak yang kalian belum dapat dan bangunlah jiwa yang kuat untuk memerdekakan diri, karena kebebasan adalah hakmu.
*Penulis adalah mahasiswa PBSI STKIP PGRI Sumenep, semester I.












