Hanya jendala yang menjadi kacamata malam untuk meratap seluruh kelindan: bagaimana mengatur mobil-mobil di jalan raya dan memarkirnya dengan lega. Seruan hujan belum saja menciptakan pelangi bagi dada Fani, setiap ritmis yang jatuh ketanah diam-diam mengalir ke saluran darah dan kembali menguap ke kepalanya. Tak lepas dari kepal matanya, orang-orang bertengkar dengan hujan itu juga. Tertawa sekaligus menertawai masa aktifnya di dunia ini: kesenangan yang mereka rebut dengan darah dingin. Fani hanya iba seperti mobil-mobil yang berebut jalan raya serta bingung pada tempatnya untuk berparkir.
Akh… Fani mengerang dalam dirinya.
“Haruskah seperti ini?,”
Ia membuka surat kabar baru. Jajaran orang-orang penting berbaris di setiap redaksi berita itu. Sampah! Kata-kata itu keluar dari mulutnya. Kemudian dia memilih pergi dari jendela itu, mengambil beberapa potong roti yang dilumuri selai stroberi, merah seperti didih darah. Dia buang begitu saja ke mulutnya dan menyiram dengan segelas susu: berupaya meredakan semuanya. Tapi hal itu merupakan kesia-siaan yang terus diulangnya.
Aku hanya butuh istirahat! Benaknya. Lalu ia lempar sepasang matanya ke atas dipan. Dan berharap payung besar dapat melindunginya. Bismillah…
******
Pagi yang cerah untuk hujan bertandang. Dan tak ada lagi yang di nanti selain pelangi di langit raya yang terus meratap kota tercinta. Dan aku tidak akan menyebut kota ini, Fani tidak menginginkanku untuk itu.
Sial! Fani tidak peduli untuk membasahi dirinya dengan air, ia mengambil tas yang berisi beberapa data penting dan buku. Sebenarnya dia jurnalis! Keseharian yang penuh dengan tantangan bahkan harus berdempetan dengan peristiwa yang mungkin bahaya pada dirinya sendiri. Namun, hal itu bukan alasan untuk tidak membawa data apa-apa.
Sejak menempuh itu, ia sudah bersumpah sebagai jurnalis untuk mengawal kebenaran dunia. Ada kecelakaan! Fani bergegas ke TKP, jalan sudah banjir darah, dan terkait telah tertelan waktunya. Sedang Fani mengambil foto dan mewawancarai beberapa orang di sekitar TKP. Yang jelas itu kecelakaan, yang lebih besarlah yang salah: menurut pihak kepolisian. Yang kecil terkapar, kebetulan saat itu kecelakaan antara truk dan sedan.
Rampung segalanya, tinggal menyetir kata redaksi dan menyetor pada pimpinan nanti.
Waktu terus merawat matahari agar tinggi. Dan sekali lagi! Di sebuah swalayan ada pencuri tertangkap warga. Tak ada pilihan lain, Fani melaju sigap menuju tempat. Pencuri itu sudah babak belur! mungkin akibat amukan warga. Bukan mungkin, faktanya memang karena amukan dari warga. Untung saja aparat mengamankan pencuri itu dan memberikannya pada hakim, setimpal untuk dia dipenjara! Fani kembali menulis beberapa data, beberapa statement narasumber yang ia pilih. Seperti tadi, menyetir kata dan menyetornya, tanpa jangka lama kabar itu bertebaran ke khalayak.
*****
Tak terasa, senja mengusap mata Fani. Habis sudah jam kerja!
Tidak! Para intel berbondong-bondong meringkus warga: siapa dia? Fani gegas mengambil kamera dan memulai rekaman video. Ternyata dia bandar narkoba yang telah lama diintai para orang-orang kekar hebat. Wah! Ada topik hangat. Satu, dua, tiga! tugas Fani selesai, dan semuanya tersampaikan pada rakyat dengan seadanya. Ya begitulah, saban hari terus terulang: kecelakaan, prostitusi, pencurian, narkoba.
Huh, kapan aku menikmati surga dunia ini. Batin Fani mengkhayali dunia tanpa kasus apa-apa.
*****
Fani pulang dengan lelahnya, meniti jalan menuju rumah yang merupakan tempat terakhir untuknya berkencan dengan mimpi setelah seharian mengejar mimpi itu. Sampai di muka pintu, Fani meraba gagangnya: menemukan ketenangan. Hendaknya ia membaringkan tubuh, tapi diundur karena matanya begitu terang seperti purnama malam ini.
Duduk di sofa dengan di temani segelas susu dan acara televisi malam dapat meregangkan lelahnya. Saluran per saluran TV menggonta-ganti matanya: sinetron-iklan-sinetron-iklan, membosankan! Betapa maraknya iklan memperdagangkan tubuh manusia, juga sinetron yang menangisi kesenangannya.
Clik, di saluran selanjutnya: seorang pencuri tertangkap di sebuah swalayan karena di sangka mencuri uang dengan jumlah besar. Mata fani terbelalak, siapa si pencuri? Anehnya lagi dia pakai jaz, mobil mewah, dan dasi itu?
Akh… habis otak Fani berpikir, pencuri itu adalah orang yang dia liput tadi siang. Lalu kecelakaan itu? Tidak! Bukan, tidak mungkin! Fani meronta dalam dadanya, di tengah kesunyian ternyaringnya.
Truk memuat penumpang di belakang: rakyat yang telah usai dari kerjanya, darah di jalan itu adalah darah mereka. Sedan itu? Ya, dia menang meski terluka, dialah pencuri itu: yang bebas dari tuduhan laka dengan sedannya yang menerobos rambu lalu lintas, dan luka bertebaran. Si pencuri hilang!
*****
Hal yang bisa Fani lakukan sekarang adalah mengambil kertas dan alat tulis. Fani harus membunuh dirinya sendiri, lalu kembali meletakkan ruh pada dirinya yang fana. Mengkritisi habis si pencuri agar duduk di tulisannya. Ya, bandar narkoba itu adalah Fani dengan doktrin sosial yang membuat candu orang lain. Dan di tangkap diam-diam oleh orang yang sebelumnya tidak ia tahu, dengan banyak kecaman mengancam: kecuali pasif dan melupakan semuanya, Fani akan bebas.
Lalu seteguk susu adalah pilihan akhir untuk menemani Fani menikmati saluran TV yang membuat dadanya sesak: demi keamanan rumah, dia hanya menatap pencuri itu bebas. Fani hanya mampu bergumam dengan dirinya. Fani hanyalah fana.
Sumenep, 24 Maret 2021.
*Penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, Prodi PBSI, STKIP PGRI Sumenep, Semester II












