Dipanggil Pimpinan Diduga Tak Profesional, Suhartatik Sebut Tuntutan Itu Tak Sesuai Realitas

0
1375
Suhartatik, Kaprodi PBSI STKIP PGRI Sumenep

MEDIARETORIKA.com-Beberapa waktu lalu, Senin (02/08/21) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STKIP PGRI Sumenep lakukan audiensi pada Pimpinan, dengan mengusung beberapa tuntutan yang dihasilkan dari konsolidasi gerakan mahasiswa.

Dari beberapa tuntutan yang diusung saat audiensi itu, salah satu tuntutan yang masih dalam proses realisasi oleh pimpinan diantaranya adalah surat peringatan dan pembinaan terhadap dosen yang diduga tidak profesional.

Setelah sepekan lebih, pascaaudiensi itu wartawan Mediaretorika.com lakukan klarifikasi kepada Ketua STKIP PGRI Sumenep berikut dosen terkait.

Asmoni selaku Ketua STKIP PGRI Sumenep menyampaikan bahwa dirinya telah melayangkan surat pemanggilan dan melakukan pembinaan kepada dosen yang diduga tidak profesional itu.

“Kami dari pimpinan dan bagian yang membidangi telah melakukan pemanggilan berdasarkan masukan dari Mahasiswa,” jelasnya saat diwawancarai melalui pesan Whatsapp (10/08/21).

Saat dikonfirmasi pada dosen terkait, dirinya membenarkan adanya pemanggilan tersebut, ia menjelaskan bahwa pembinaan itu untuk mengklarifikasi tuntutan yang diajukan oleh mahasiswa.

“Iya, kemarin pimpinan melakukan pemanggilan kepada saya. Namun itu hanya pembinaan dan klarifikasi terhadap tuntutan yang diajukan mahasiswa,” ungkap Suhartatik saat diwawancarai via telepon oleh awak media (12/08/21).

Adapun alasan pemanggilannya, dikarenakan dirinya diduga menyalah gunakan etika dan profesionalisme dosen, sehingga saat perkuliahan tidak menyampaikan materi perkuliahan yang ia ampu, bahkan tindakannya tersebut dirasa akan menumpulkan nilai kekritisan dan daya pikir mahasiswa.

“Pascademonstrasi Aliansi Mahasiswa Angkatan 2017, Ibu Tatik di dalam kelas tidak menyampaikan materi perkuliahan. Namun malah menuding massa aksi tidak berakhlak, dan dia mengatakan lebih baik punya mahasiswa berakhlak dari pada cerdas,” ungkap Nur Hayat saat melakukan audiensi bersama pimpinan STKIP PGRI Sumenep.

“Oleh karena itu, kami rasa tindakan itu dapat menumpulkan nilai kekritisan mahasiswa,” tambahnya.

Dikonfirmasi lebih lanjut, Hayat menyampaikan bahwa informasi itu berdasarkan laporan dari beberapa mahasiswa kepada pihak BEM, sehingga hal itu dirasa perlu untuk ditindaklanjuti kepada Pimpinan untuk segera diberikan surat peringatan.

“Ada laporan ke BEM bahwa ibu Suhartatik tidak profesional sebagai dosen, maka BEM tindaklanjuti ke pimpinan untuk diberikan bimbingan dan surat peringatan,” (12/08/21).

Namun, Suhartatik selaku dosen yang diduga tidak profesinal menampik tuntutan dari BEM itu. Dirinya merasa tuntutan BEM tidak sesuai dengan realitas di lapangan, dikarenakan dirinya menyampaikan materi perkuliahan yang menurutnya bisa dikaitkan dengan aksi demonstrasi yang telah terjadi sehari sebelumnya.

“Saya mengaitkan kejadian yang baru saja terjadi dengan materi Semantik, yaitu analisis makna. Apakah hal itu menyalahi etika profesionalisme dosen?,” tambah perempuan yang akrab disapa Bu Tatik itu.

Suhartatik juga menjelaskan bahwa bahasa yang digunakan mahasiswa pada saat berorasi digunakan sebagai bahan kajian riset empiris, serta untuk membangun karakter mahasiswa dalam memilih diksi yang baik.

“Bahasa yang dipakai oleh mahasiswa waktu demo adalah sebagai bahan kajian, riset empiris, yang masuk dalam kajian semantik, juga sebagai salah satu upaya saya untuk membangun karakter mahasiswa dalam memilih diksi yang baik untuk berkomunikasi,” jelasnya lagi.

Perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi (Kaprodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) itu merasa tuntutan tersebut ditumpangi kepentingan pribadi.

“Sepertinya ini (tuntutan, red) hanya sepihak, person, atau kepentingan pribadi” Pungkasnya.

Menindaklanjuti hal itu, wartawan Mediaretorika.com mengklarifikasi kebenarannya kepada mahasiswa PBSI yang sempat mengikuti mata kuliah yang diampu oleh dosen terkait, pihaknya membenarkan bahwa materi perkuliahan diisi dengan membahas demonstrasi yang dikaitkan dengan kajian ilmu Semantik.

“Memang benar waktu ibu ngajar di kelas pas materi semantik dari awal memang membahas tentang demo, cuma ibu kaitkan bahasa yang digunakan waktu demo itu dengan ilmu semantik, waktu itu ibu meminta salah satu mahasiswa menyampaikan bahasa yang digunakan saat orasi. Kata mampus, gak ada otak, tidak becus juga dikaji maknanya” jelas mahasiswa PBSI semester 4 yang tidak berkenan disebutkan identitasnya (13/08/21).

Reporter: Mly/Hsn

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here