MEDIARETORIKA.com-Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (HMP PBSI) STKIP PGRI Sumenep menggelar Training Public Speaking dengan tema “Steps to Improve Your Public Speaking” pada Rabu (15/09/21) pagi.
Acara yang yang sengaja menghadirkan Delfia Noor Safitri selaku Cebbhing Sumenep, bersama Zainul Wahid yang merupakan Dosen STKIP PGRI Sumenep sebagai pemateri itu, bertempat di Auditorium Lantai 3 gedung selatan.
Kegiatan training tersebut merupakan serangkaian kegiatan dari Musyawarah Besar (Mubes) IX HMP PBSI yang akan dilaksanakan pada tanggal 16 September 2021.
Jumrotul Hajjah mengatakan, kegiatan itu digelar untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa STKIP PGRI Sumenep khususnya mahasiswa PBSI dalam melatih kemampuan berbicara di depan umum.
“Untuk meningkatkan dan melatih kemampuan public speaking mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, karena pesertanya memang dikhususkan untuk mahasiswa STKIP saja,” ungkap perempuan nomor satu di HMP PBSI itu (15/09/21).
Ijum, sapaan akrabnya mengatakan bahwa, dirinya berharap agar kegiatan ini mampu dijadikan kegiatan berkelanjutan, ia harapkan, kegiatan ini mampu menjadi bekal untuk meraih prestasi.
“Harapan dengan adanya kegiatan ini menjadi langkah awal HMP PBSI untuk melatih public speaking anggota dan juga ini semoga menjadi kegiatan berkelanjutan, sehingga tidak terputus hanya di sini saja,” harapnya.
“Secara umum untuk peserta public speaking, semoga ini bisa menambah wawasan dan keberanian peserta untuk berbicara di depan umum dan bisa menjadi bekal untuk meraih prestasi dan mengembangkan diri di bidang public speaking,” ungkap perempuan kelahiran Pragaan itu, kepada awak media.
Lain dari itu, Musaddagul Umam menyampaikan bahwa peserta dari kegiatan ini sebanyak 85 peserta, walaupun ia akui bahwa target peserta dalam training tersebut hingga 100 peserta.
“Alhamdulillah peserta training public speaking cukup banyak, yaitu 85 peserta walaupun tidak mencapai target kami yaitu 100 peserta, kami tetap bersukur karena di era pandemi pada saat ini masih banyak mahasiswa yang berpartisipasi,” jelasnya, selaku ketua panitia.
Salah satu peserta kegiatan tersebut, Sohibul Bahri mengatakan, dengan terbatasnya waktu, panitia hanya membuka dua pertanyaan saja, ia akui bahwa sebagian peserta mengeluh.
“Untuk masalah penyampaian materi pertama bahwasanya lebih kepada teori dan praktik, untuk pemateri kedua lebih merujuk kepada sejarah lokal dan pribadi. Juga keluhan dari sebagian mahasiswa hanya membuka 2 pertanyaan saja, namun saya sadari karena keterbatasan waktu,” ungkap mahasiswa Prodi PBSI semester 5 ini, saat dihubungi melalui pesan Whatsapp.
Reporter: Vivi/Fr












