Terungkap, AHP adalah Adirasa Hadi Prasetyo: “Saya Difitnah”

0
872
KOKOH: Salah satu gedung kampus STKIP PGRI Sumenep (Mediaretorika.com).

MEDIARETORIKA.com–Terungkap dosen berinisial AHP adalah Adirasa Hadi Prasetyo. Ia memberikan klarifikasi terkait pemberitaan Mediajatim.com yang menyebut dirinya sebagai pihak yang diduga terlibat dalam kasus penipuan terhadap mahasiswanya sendiri berinisial R. Berita itu terbit, pada Minggu, 21 Juli 2025 lalu.

Klik tautan ini untuk membaca selengkapnya.

Diketahui, dalam pemberitaan tersebut dijelaskan bahwa R ditawarkan jasa penerbitan jurnal oleh Hadi pada tanggal 27 Juni 2025. R kemudian menyetujui tawaran tersebut dan mentransfer uang sebesar Rp550 ribu pada 1 Juli 2025, sesuai harga yang disampaikan oleh dosen tersebut.

R merupakan mahasiswa akhir di STKIP PGRI Sumenep. Agar dapat mengikuti seminar hasil (Semhas) sebagai syarat kelulusan, R diwajibkan menyetor Letter of Acceptance (LoA) dari jurnal yang terakreditasi minimal Sinta 5, sebagaimana ketentuan kampus.

Namun, hingga penutupan pendaftaran semhas pada tanggal 18 Juli 2025, R mengaku belum menerima informasi lanjutan terkait penerbitan artikel. Saat dikonfirmasi ulang, Adirasa disebut menyampaikan bahwa kuota publikasi di jurnal tersebut telah penuh.

Ikuti dan aktifkan Notifikasi Saluran WhatsApp Mediaretorika.com

Tak mau tertinggal studi, R kemudian berinisiatif mencari alternatif lain agar dapat memenuhi syarat Semhas. Namun menurut pengakuannya, Adirasa tidak memberikan izin dan harus mengikuti jurnal yang direkomendasikannya.

“Saya sudah mencari jurnal lain. Tapi Pak Adirasa tidak mengizinkan, katanya harus publikasi di jurnal yang dia rekomendasikan. Adirasa adalah Dosen Pembimbing saya,” ungkap R, dikutip dari mediajatim.com.

Menanggapi hal tersebut, Adirasa memberikan klarifikasi melalui mediaretorika.com pada Selasa, (22/07/25). Ia menyatakan bahwa dirinya hanya bermaksud membantu mahasiswanya yang saat itu hampir mencapai tenggat pendaftaran Semhas.

“Itu murni karena ingin membantu mahasiswa saya. Memang saat itu waktunya sudah mepet (tanggal pendaftaran Semhas), mengingat si R juga terlambat dalam menyelesaikan tugas akhirnya,” jelas Adirasa kepada mediaretorika.com.

Adirasa juga mengungkap bahwa pada tanggal 1 Juli 2025, iameminta R untuk mentransfer dana untuk kepentingan publikasi. Sebab, waktu itu ia menemukan jurnal yang masih membuka peluang.

Namun, ketika dikonfirmasi ulang, pihak jurnal menyatakan kuota telah penuh.

“Setelah R mentransfer, saya konfirmasi ulang ke pengelola jurnal untuk memasukkan satu artikel. Dan ternyata jurnal ini sudah full,” ungkapnya, sembari memperlihatkan bukti riwayat percakapan dengan pihak jurnal yang dimaksud.

Terkait larangan untuk mengirimkan artikel ke jurnal lain, Adirasa menyebut itu dikarenakan jurnal alternatif R tidak linear dengan artikel yang ditulisnya.

“Artikel R itu tidak linear dengan jurnal yang diajukan kepada saya. Harus selinear antara topik artikel dan fokus jurnalnya,” tegasnya.

Lebih lanjut, Adirasa merasa pemberitaan tersebut telah merugikan pihaknya. Ia juga menyebut jika dirinya difitnah.

Ikuti dan aktifkan notifikasi Official Saluran WhatsApp Mediaretorika.com

“Hingga akhirnya mahasiswa saya sendiri memfitnah saya dalam pemberitaan. Padahal itu tidak benar,” keluh Adirasa.

Menanggapi hal itu, R dengan tegas membantah tudingan tersebut. Ia menekankan jika dirinya tidak mengindikasikan penipuan oleh dosennya, dan hanya menyampaikan kronologi sesuai yang dialaminya.

“Saya tidak pernah mengatakan bahwa dosen itu melakukan penipuan. Saya hanya menceritakan kronologi yang saya alami tanpa menyebut itu sebagai penipuan,” tegasnya.

Mediaretorika.com juga sempat meminta klarifikasi kepada Hadi terkait dugaan serupa yang disebut-sebut turut dialami oleh sejumlah dosen dari kampus lain. Namun, Adirasa mengaku belum siap memberikan keterangan lebih lanjut mengenai hal tersebut.

Reporter: Miftah

Editor: Dita

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here