MEDIARETORIKA.com–Seperti yang diberitakan sebelumnya, biaya kegiatan study tour ke Pare yang diikuti oleh mahasiswa PGSD dan PMTK Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI (UPI) Sumenep mencapai Rp95,5 juta.
Menyikapi hal itu, Fajar Budiyono, dosen yang saat ini berstatus tugas belajar dan ditunjuk sebagai dosen pendamping lapangan pada kegiatan itu, memberikan penjelasan tambahan.
Berita Terkait: Diwajibkan Ikut Study Tour, Total Biaya Mahasiswa UPI Sumenep Mencapai Rp95,5 Juta
Fajar menegaskan, dirinya beserta dosen lain yang terlibat, tidak memiliki kewenangan pengelolaan dana study tour. Dia menekankan, seluruh transaksi dan kebutuhan kegiatan sepenuhnya ditangani mahasiswa.
“Kami (termasuk Hodairiyah dan Jihat Nurrahman) tidak pernah mengelola uang biaya study tour. Dan setiap proses pembayaran, yang melakukan transaksi adalah mahasiswa,” tegasnya.
Tidak hanya itu, Fajar juga mengungkapkan bahwa program ini bersifat anjuran, bukan paksaan.
“Kegiatan ini bukan paksaan, kalau tidak bisa ikut, tidak apa-apa,” ucapnya.
Berdasarkan data hasil rapat persiapan pada Senin, 3 November 2025 yang diterima Mediaretorika.com, realisasi anggaran study tour mencakup sejumlah komponen biaya. Estimasi transportasi pulang dan pergi tercatat sebesar Rp210 ribu per peserta. Selain itu, biaya program di Pare ditetapkan Rp200 ribu serta tambahan konsumsi berupa makan malam sebesar Rp30 ribu. Jika diakumulasikan, total estimasi biaya dasar peserta mencapai kurang lebih Rp440 ribu.
Rapat juga merinci adanya alokasi dana untuk kebutuhan lain seperti souvenir, sopir bus, dan tarif tol. Selain itu, ada juga dana cadangan sebesar Rp60 ribu yang dapat dialokasikan pada kebutuhan peserta selama di Pare. Sisa dana yang tidak terpakai direncanakan akan dikembalikan kepada mahasiswa setelah kegiatan usai.
Sedangkan untuk pelunasan pembayaran dijadwalkan pada bulan November akhir. Selain itu, setiap peserta juga dikenai biaya sekitar Rp5 ribu untuk pembuatan pin.
Di samping itu, seorang mahasiswa UPI Sumenep, sebut saja Eni (nama samaran) lebih memilih tidak berpartisipasi pada kegiatan ini karena terkendala biaya.
“Tidak ikut karena tidak punya uang,” bebernya.
Reporter: Nazar
Editor: Dita












