Hanya 180 Menit, Tiga Dosen UPI Sumenep Hasilkan Dua Buku dan Raih Predikat Penulis Terbaik

0
20
PAMFLET: Selebaran informasi 3 dosen peraih event 180 Menit: Bootcamp Literasi 2026 Batch 1 di UNU Pasuruan. (Mediaretorika.com).

MEDIARETORIKA.com–Tiga dosen Universitas PGRI (UPI) Sumenep berhasil meraih predikat Penulis Terbaik dalam ajang Bootcamp Literasi: The 180-Minute Miracle yang digelar di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pasuruan, Jumat (10/04/26).

Ketiganya bahkan berhasil menyelesaikan dua karya buku sekaligus dalam satu sesi bootcamp berdurasi 180 menit, di tengah persaingan 22 penulis dari lima kampus berbeda.

Baca Juga: Dua Dosen BK UPI Sumenep Lolos Hibah BIMA 2026, Bersaing dengan 13 Ribu Pengusul

Berikut lima kampus yang terlibat dalam kegiatan tersebut antara lain Universitas Negeri Surabaya, Universitas PGRI Sumenep, Universitas PGRI Wiranegara, STAI Nurul Islam Mojokerto, dan Universitas Merdeka Malang.

Sedangkan, tiga dosen UPI Sumenep yang meraih prestasi tersebut adalah Mohammad Hasan Basri, M.Pd., Feri Weldani, M.Pd., dan Dyas Andry Prasetyo, M.Pd. yakni dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR). Ketiganya turut didampingi Kepala Bagian Pengembangan SDM UPI Sumenep, Mas’odi, dalam kegiatan tersebut.

Salah satu dosen penulis terbaik Double Karya, Feri Weldani mengaku bangga atas pencapaian itu, terlebih mengingat keempatnya berangkat tanpa persiapan khusus. Berkat bimbingan mentor Rani Darmayanti, mereka berhasil merampungkan dua karya buku hanya dalam waktu 180 menit.

“Cukup bangga, mengingat saya dan teman-teman yang lain tidak ada persiapan apapun. Tapi berkat bimbingan dari mentor Bu Rani Darmayanti, saya dan teman-teman yang lain bisa menyelesaikan karya buku dengan waktu yang relatif singkat, yaitu 180 menit,” tuturnya.

Feri mengungkapkan, tantangan terbesar justru datang saat waktu istirahat. Pasalnya, keempat peserta dari UPI Sumenep harus menyelesaikan dua agenda sekaligus dalam waktu yang terbatas.

“Tantangan terbesarnya sebenarnya pada waktu istirahat. Kami yakni Pak Mas’odi, Moh. Hasan Basri, dan Dyas Andry Prasetyo, ada dua agenda yang harus diselesaikan. Jadi waktu istirahat yang kurang membuat kami memaksa diri agar tetap fokus,” ungkapnya.

Selain tekanan waktu, mengembangkan materi dalam durasi yang sangat singkat juga menjadi tantangan tersendiri. Namun Feri menyebut tidak ada cara khusus untuk mengatasinya.

“Kuncinya yaitu survive,” tegasnya.

Feri menjelaskan, double karya yang dimaksud adalah dua karya buku yang diselesaikan dalam satu sesi bootcamp. Dirinya dan rekan-rekan pun membuka diri bagi dosen maupun mahasiswa yang ingin berdiskusi soal menghasilkan karya tulis.

“Kami terbuka bagi teman-teman dosen ataupun mahasiswa yang ingin menghasilkan karya untuk bisa berdiskusi dengan kami,” ujarnya.

Kedua karya yang dihasilkan ketiganya sudah diajukan untuk terdaftar di Perpustakaan Nasional (Perpusnas), sehingga dapat diakses oleh siapapun, termasuk warga UPI Sumenep.

“Jika punya ide, jangan berhenti pada ide. Segera tuangkan menjadi buku atau karya apapun agar bisa bermanfaat untuk orang lain,” pesannya.

Baca Juga: Sempat Tertunda, Jas Almamater Mahasiswa Baru UPI Sumenep Diklaim Siap Dibagikan

Sementara itu, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UPI Sumenep, Mulyadi, menyampaikan apresiasi atas capaian tiga dosen tersebut. Menurutnya, prestasi ini membuktikan bahwa UPI Sumenep mampu bersaing di tingkat regional maupun nasional.

“Saya atas nama Kepala LPPM menyampaikan apresiasi luar biasa kepada teman-teman. Harapannya jangan cepat puas sampai di sini, karena masih banyak hal lain yang perlu kita dedikasikan,” ujarnya.

Mulyadi juga mendorong dosen-dosen lain agar menjadikan pencapaian ini sebagai pemicu untuk terus berproses dan berkontribusi, tidak hanya bagi kampus tetapi juga bagi bangsa.

“Semoga ini menjadi pemicu berproses lebih kuat lagi, untuk bisa membuktikan bahwa kita dosen UPI Sumenep bisa memberikan yang terbaik, tidak hanya untuk institusi tapi juga untuk bangsa ini,” pungkasnya.

Reporter: Fatim

Editor: Redaksi

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here