Sisi Dunia

0
1153
Ilustrasi By Gagasanonline.com

Oleh: Muhammad Lutfi

Di depan bangku kelas, Aldi membaca buku, tapi bukan sebuah buku cerita. Nampak dia sedang antusias sekali membacanya. Mungkin itu buku kunci UN, tapi jangan salah. Aldi adalah anak yang berprestasi dan mendapat beasiswa di SMA-nya. Dia tidak pernah mencontek saat ujian berlangsung. Jadi itu bukanlah buku contekan pastinya.

Tiba-tiba ada seorang lelaki menghampiri Aldi dan menawarkannya sebuah es cream di tangannya. Aldi menerimanya dan mengajaknya duduk.

“Ada apa? Buku tabungan saja kamu baca sampai serius”, ucap Nino, temannya itu.

“Mungkin bagi orang beruntung seperti kamu buku seperti ini tidak teramat penting, tapi bagiku ini sangat penting”, jawab Aldi.

“Maaf Al, kalau bicaraku tadi menyinggung perasaanmu. Aku hanya berniat bertanya saja”, kata Nino.

Tak apa-apa, aku paham”.

“Tapi kenapa kamu membacanya serius sekali dari tadi kuperhatikan?”

“Begini Nin, besok minggu depan ada study tour ke Bali. Aku ingin sekali ikut, tapi uang dalam tabunganku hanya dua ratus ribu rupiah.”

“Memang berapa biaya kamu ke Bali?”

“Delapan ratus ribu rupiah.”

Nino yang mendengar cerita Aldi merasa iba dan kasihan kepada temannya itu. Dia merogoh saku dan mengeluarkan dompet dari balik jaketnya. Nino mengumpulkan uang yang dimilikinya itupun hanya ada dua ratus ribu rupiah.

“Ini Al, aku ada uang sebesar dua ratus ribu rupiah, bolehlah kamu pinjam. Nanti kekurangannya kita cari akal bersama untuk mendapatkannya”, ucap Nino.

“Kalau uang ini aku pinjam kamu bagaimana, apa kamu sudah membayar study tour itu?”, kata Aldi.

“Aku sudah melunasinya seminggu kemarin, sudah tenang sajalah kawan, kita ini sahabatkan?”, kata Nino.

Mata Aldi memerah berkaca-kaca dan mengeluarkan air mata. Dia begitu terharu dengan ketulusan hati temannya itu. Aldi memeluk Nino dengan tetap menangis. Punggung Nino sampai basah oleh air mata yang terus mengalir dari mata Aldi. Nino juga ikut bersedih dan berusaha menenangkan hati temannya itu.

“Sudahlah, begini saja, kita jualan atau usaha apapun untuk mencukupi biaya tersebut. Sekarang ayo kita masuk kelas dulu!”

“Terima kasih sahabatku, aku berhutang budi padamu”.

“Ayo kita masuk kelas, nanti terlambat”.

Mereka berdua segera masuk ke kelas. Sepulang jam pelajaran, mereka berdua langsung berlari ke taman depan sekolah. Tempat mereka berdua biasa bermain. Mereka memikirkan rencana usaha untuk mencari uang. Mereka sama-sama berpikir tentang itu. Setelah beberapa menit berpikir, tiba-tiba Nino tersenyum dan sepertinya dia sudah menemukan sebuah ide yang bagus.

“Begini saja, aku bisa bermain gitar sedangkan kamu pandai bermain sastra terutama puisi. Bagaimana kalau kita mengamen di toko dan di warung, di cafepun boleh. Tapi bukan mengamen nyayi, kita mengamen dengan puisi. Bagaimana, siap Al?”, Tanya Nino kepada Aldi.

Itu gagasan yang cemerlang, aku suka dengan itu. Aku siappp”, jawab Aldi.

“Kalau begitu, ayo kita berangkat! Tunggu apalagi?”, kata Nino.

Mereka berdua segera berangkat dan Nino mengambil gitarnya di rumah. Mereka mengamen dari satu warung ke toko yang lain. Seharian penuh mereka mengamen dan hasil yang didapatkan lumayan juga, sekitar dua ratus ribu rupiah.

Setelah seharian mengamen mereka beristirahat di depan café sambil minum kopi.

“Nin, ini tempat bagus untuk kita. Ayo kita beraksi lagi malam ini!”.

“Tunggu dulu kawan, kita minta izin dulu dari pemilik café ini”.

“Baiklah kawanku”.

Nino segera masuk ke dalam café dan meminta izin kepada pemiliknya. Ternyata diperbolehkan. Mereka berdua segera naik ke atas panggung kecil di dalam café dan beraksi. Orang-orang yang ada di sana sampai terharu mendengar sajak-sajak yang dibacakan oleh Aldi. Kira-kira beginilah sajak yang ditulis dan dibacakan oleh Aldi:

Bantulah Saudara

Kumohon belas kasihmu
Dari luluhan lembut hatimu
Kuminta kasih sayang
Tapi bukan sekadar itu
Aku mencari uang untuk hidup
Agar dapat kuteruskan cerita esok

Orang mana yang tak iba bila mendengar syair seperti itu dibacakan. Mereka memberi tepuk tangan yang meriah kepada Aldi dan Nino. Kotak yang ada di hadapan Aldi segera dihampiri oleh orang-orang. Mereka nampak memberi uang dengan nominal yang cukup besar. Mereka berdua segera turun dari panggung dan menghitung hasil yang diperoleh. Aldi dan Nino menghitungnya dengan seksama. Ternyata tak diduga, uang yang didapatkan sejumlah lima ratus ribu rupiah. Ini sudah lebih dari cukup.

“Alhamdulillah Al, semuanya lancar”, kata Nino.

“Iya Nin, terima kasih banyak kau telah membantuku kawan, jasamu dan kebaikanmu akan selalu kukenang”, ucap Aldi.

Akhirnya Aldi bisa melunasi biaya study tour itu, dan  bisa bersenang-senang bersama kawan yang lainnya di Pulau Dewata.

Sementara di lain sisi, ada juga dua orang manusia yang bersahabat sama seperti seperti mereka. Setiap selesai tidur dari alas tidurnya yang terbuat dari susunan kardus, si anak kecil ini segera menyongsong pagi dengan duduk dan berlari di dekat trotoar. Bukan untuk menanti bus atau angkutan yang lewat, tetapi untuk bersiap-siap mencari uang agar bisa makan. Ukulele itu selalu menemani perjalanannya.

Dia adalah Dani, seorang pengamen jalanan yang masih kecil dan perlu diperhatikan. Dia selalu menyusuri jalanan setiap hari demi mencari uang untuk dapat melanjutkan kehidupan. Temannya yang selalu setia di sampingnya bernama Pandu. Mereka adalah anak-anak bangsa ini yang pantas dan patut untuk diperhatikan. Setiap kali ada mobil yang berhenti melaju di depan lampu merah, dia segera berdiri di samping dan memainkan ukulelenya sambil bernyanyi. Nyanyian mereka bagai anak kecil yang menjerit-jerit. Seakan ingin mengungkapkan isi hatinya dan bermaksud meminta tolong. Hasil yang didapat tidaklah sepadan dengan keringat yang mengucur. Setiap hari hanya berpakaian baju putih dan celana pendek yang sudah using, dengan rambut bersemir warna merah. Kehidupan anak pinggir jalan selalu diwarnai dengan lika-liku dan warna-warni kehidupan.

Selesai seharian bekerja, mereka berhenti di depan sebuah gedung sekolah. Dani dan Pandu menghitung jumlah uang yang terkumpul di tangan mereka. Satu persatu lembaran dan kepingan recehan uang dihitung.

“Ndu, dapat uang berapa kita hari ini?”, kata Dani.

“Sepertinya uang yang kita dapat dari hari ke hari tetap begini saja hasilnya. Lama-lama aku bosan kalu terus-terusan mengamen”, kata Pandu.

“Kalau kamu tidak mengamen lalu dari mana kamu dapat uang untuk makan?”, tukas Dani.

“Aku akan bekerja”, jawabnya.

“Bekerja apa? Ijazah saja kita tidak punya. Apa kita ini pernah merasa bangku sekolahan seperti mereka-mereka itu, tidak kan?”

“Kalau setiap hari hanya itu saja uang yang kita dapat, mana mungkin kita dapat makan. Sekedar hanya membeli nasi dan tempe lalu dua kali sehari saja. Aku sudah bosan dengan semua ini. Aku ingin hidup enak. Apapun yang kulakukan terserah itu, yang terpenting aku dapat mendapat uang dan bisa hidup enak”, kata Pandu sambil beranjak pergi meninggalkan teman karibnya itu.

“Tunggu dulu Ndu, kamu mau pergi kemana?”, teriak Dani memanggil Pandu. Tapi yang dipanggil hanya diam saja dan terus berjalan meninggalkannya.

Kini, setiap hari Dani harus bekerja sendiri dan berupaya keras mengamen seperti biasanya. Semenjak Pandu tidak bersamanya memang uang yang didapatkannya bertambah banyak seperti biasanya mereka berdua. Tetapi kesedihan tetap terbayang di hatinya sebab teman yang sudah dianggap saudara sendiri sudah tidak bersamanya lagi.

 

*Penulis_ Muhammad Lutfi ini lahir di Pati, 15 Oktober 1997. Alamat rumah; Desa Tanjungsari, Rt.01/ Rw.02, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here