Menjadi Hebat

0
878
Ilustrasi By Tribunbali.com

Karya: Faizah

Awan biru menyambut hari yang baru. Hembusan angin di pagi hari meniup debu jalanan yang penuh polusi. Burung-burung pun berkicau seakan bernyanyi. Ditemani dedauan yang ikut menari bersama. Kelopak mawar kini merekah. Semua riuk seolah meniadakan sepi di pagi hari.

Di suatu Desa terpencil hiduplah sebuah keluarga yang sangat sederhana. Keluarga tersebut dikepalai oleh pak Ayyub, keluarga yang beranggotakan dua orang anak dan satu istri yang sangat baik yaitu bernama Hosnaniyah. Pak Ayyub harus mencukupi kebutuhan keluarganya harus bekerja keras.selain itu ibu Hosnaniyah yang hanya menjadi ibu rumah tangga tak mau melihat suaminya banting tulang sendiri, akhirnya ia membantu suaminya dengan berjualan sayur di Pasar. Demi mencukupi kebutuhan sehari-harinya dan biaya sekolah anaknya, Pak Ayyub dan ibu Hosnaniyah rela membanting tulang setiap harinya demi anak-anaknya.

Aku adalah Iza adalah anak pertama Pak Ayyub yang sedang sekolah di tingkat SMP. Tak lama sekolahku akan melaksanakan UTS, syarat untuk mengikuti UTS yaitu harus melunasi SPP, aku bingung harus bagaimana agar bisa melunasi SPP itu untuk bisa mengikuti UTS ini, aku tahu bahwa Ayah dan Ibu sedang krisis ekonomi, tetapi di sisi lain aku tak mau bila tidak mengikuti UTS. Mau tidak mau aku harus membicarakan ini kepada Ayah.

Setelah bel pulang berbunyi Iza bergegas pulang dan sesampainya di rumah ia berbicara kepada ibu “Bu, Ayah ada nggeh Bu?”

“Tidak ada nak, Ayahnya belum pulang kerja” kata Ibu. Setelah itu Iza langsung bergegas ke kamar.

Hari mulai petang , Bu Hosnaniyah, ibuku menunggu di teras rumah untuk menyambut Ayah. Tak lama kemudian akhirnya Ayah datang dan mengucapkan salam “Assalamualaikum“.

Ibu pun menjawab “Waalaikumussalam”.

Tak lama Ibu berbincang-bincang aku pun menghampiri Ayah dan Ibu untuk memeberitahu soal pembayaran SPP yang harus segera dilunasi untuk mengikuti UTS.

Ayah, kapan akan melunasi SPP Iza ?”,

“Nntar ya nak kalau Ayah sudah gajian, Ayah akan segera melunasi SPPmu” kata Ayah.

Baiklah Ayah” ucapku.

Di saat semua keluarga berkumpul di ruang tamu terdengar suara mengetok pintu rumah sambil berkata “Permisi, selamat malam”.

Tak lama Ibu membuka pintu dan ternyata yang mengetok pintu itu seorang Polisi.

“Iya selamat malam Pak” kata Ibu.

“Apa benar ini rumah Pak Ayyub ?” tanya Polisi itu.

Iya benar, ada apa ya Pak malam-malam datang kesini?”  tanya Ibu.

Saya kesini ingin bertemu dengan Pak Ayyub, apakah Pak Ayyub ada di rumah Bu?”.

Ada sebentar saya panggil dulu” Ibupun masuk memanggil Ayah

“Yah, ada Pak polisi di depan rumah yang ingin bertemu dengan Ayah”.

Ayahpun keluar menemui Pak polisi tersebut. “Ada apa ya Pak mencari saya?” tanya Ayah kaget.

Saya ingin memberi tahukan bahwa anak bapak yang bernama Agus ada di kantor polisi” polisi memberi tahu.

Kenapa dengan anak saya Pak, kok ada di kantor polisi?” Ayah lebih serius bertanya. “

Anak Bapak kepergok mengonsumsi Miras, jadi jika anak Bapak ingin bebas silahkan Bapak segera menghadap ke kantor polisi” ucap pria berseragam lengkap itu.

Baiklah Pak, sekarang juga saya akan ke sana”.

Kalau begitu saya pamit dulu, permisi”.

Ketika Ayah masuk ke dalam rumah, ternyata Ibu dan saudaraku sudah mengetahui sebelum Ayah memberitahu. Sekarang Ayah tak tahu harus bagaimana lagi agar anak bebas dari penjara. Selain itu juga Ayah harus segera melunasi SPPku agar aku bisa mengikuti UTS. Dalam hati, mungkin Ayah berkata “Saya harus mencari kerja tambahan agar Iza bisa mengikuti UTS dan Agus bisa bebas dari penjara”.

Keesokan hari keluargaku berkumpul seperti biasa untuk sarapan pagi bersama. Setelah itu aku akan berangkat ke sekolah dan Ayah berangkat kerja. Tak lama kemudian, aku berpamitan kepada orangIbu. Di sepanjang jalan menuju sekolah, aku berpikir bagaimana caranya agar ia tetap bisa mengikuti UTS tanpa membebani orang tua. Karena aku tahu bahwa orang tuaku harus menebus kakak di penjara.

Aku juga sempat berpikir ingin bekerja agar bisa membayar SPP dan tidak membebani Ayah. Karena aku tidak ingin cita-citaku tidak tercapai, aku tanamkan niat bahwa terlahir dari orang miskin itu bukan penghambat untuk melanjutkan sekolah. Melainkan ada keinginan dan kerja keras demi menggapai cita-cita yang kita inginkan.

Aku percaya Allah telah menganugrahkanku kehidupan yang indah dan kemampuan yang luar biasa. Oleh karena itu, masalah yang menimpa keluargaku saat ini semoga segera terselesaikan, karena esok adalah hari baru untukku. Hari di mana aku akan berjuang sampai titik keringatku yang terakhir demi menggapai impian-impianku agar aku menjadi orang yang hebat yang aku inginkan.

Keinginanku ingin membahagiakan kedua orang tuaku. Maka ketika aku terjatuh aku janji aku akan berdiri lagi, ketika aku gagal aku akan mencoba kembali. Dan ketika aku kalah aku tidak akan pernah berhenti menyerah. Aku percaya bahwa hidup adalah suatu proses belajar perlu di perjuangkan tak mengenal kata lelah.

Waktu terus berjalan tanpa henti dan tak akan terulangi. Hari demi hari ku lalui dengan lika-liku kehidupan yang kelabu. Aku banyak mendapatkan tantangan kehidupan yang harus aku hadapi. Ayah pernah berucap kepadaku.

“Orang sukses yang dilihat sekarang, pasti dahulu mereka sempat merasa kepahitan dalam hidupnya, karena mencapai kesuksesan itu bukanlah hal yang instan Nak. Belajarlah, dan pahami, serta rintislah tahapan demi tahapanmu dalam meraih kesuksesan di mulai dari sekarang juga! Jangan sampai kamu tunda karena belum tentu ada hari esok dan kesempatan yang sama, jadi jangan takut gagal selama kamu berada di jalan yang benar ya nak, Ayah berdoa semoga Iza bisa mebahagiakan Ayah dan Ibu kelak ketika sukses dan Ayah jadikan kakakmu Agus sebagai pelajaran buat Ayah karena Ayah kurang menemani Anak sehingga Kakakmu menjadi seperti itu” ucap Ayah kepadaku. Kata-kata itu sering aku jadikan pegangan hidup.

Suatu hari, aku berjalan bersama Ayah mengelilingi kampung yang berada tak jauh dari kediaman kakekku. Aku membawa satu bungkus nasi untuk makan ketika aku lapar. Dalam perjalanan ku pandang bangunan rumah yang kulalui, ku perhatiakan raut wajah orang-orang yang berada di sekeliling, serta aku lihat aktivitas yang mereka lakukan pada saat itu.

Aku melihat temanku Tina yang sedang bermain dengan teman-temanya di rumahnya, akupun mendekati mereka dan bertanya “Kamu sedang bermain apa Tina” tatap penasaranku kepada Tina.

“Aku bermain petak umpet Iza”

“Ya sudah lanjut lagi mainya Tina aku lanjut keliling lagi dengan Ayahku”

“Iya Iza”

Akupun melanjutkan perjalanku untuk mengelilingi kampung tersebut. Setelah aku amati ternyata Si Tina sering bermain dengan teman-temanya, aku termenung membayangkan kenapa tina selalu mendapatkan nilai bagus saat ujian padahal ketika aku lihat Tina lebih banyak bermain di rumahnya.
Namanya manusia, selalu saja ada rasa iri ketika melihat orang sudah tinggi derajatnya yaitu seorang sudah maju terlebih dahulu. “kenapa lebih hebat dari aku ya, padahal proses belajarnya sama denganku.”  pertanyaan di benakku tiba-tiba menghampiri.

Dialah Tina, siswa yang berprestasi yang tampak biasa-biasa saja di kelas akan tetapi selalu belajar dengan giat. Rasanya aku hampir menyerah karena tak mampu menyaingi apa yang dilakukan oleh Tina yang sangat giat itu di bandingkan aku.
Usahaku untuk mencapai peringkat 3 itu sangat sulit, sementara Tina di kelas tidak melihat belajar keras, bahkan dia terkadang saat pulang sekolah langsung bermain petak umpet bersama teman-temanya di rumahnya.

Sementara aku langsung belajar giat agar menjadi orang yang hebat. Aku belajar untuk keinginanku belajar dengan giat sampai kepala berat dan pening rasanya. Waktu terus berjalan dan prestasiku seperti berjalan di tempat, tidak ada peningkatan, aku harus bagaimana agar aku menjadi orang hebat yang aku inginkan.
Keesokan hari aku sekelompok dengan Tina. Aku dan Tina memang kurang dekat sehingga pembicaraanku dengan Tina hanya seperlunya saja. Namun rasa penasaranku mendorong untuk bertanya kepada Tina mengenai bagaimana cara belajar, sehingga bisa berprestasi di sekolah.

“Kamu loh di kelas biasa-biasa saja tapi kenapa setiap ujian selalu mendapatkan nilai yang bagus?” Tina hanya senyum mendegarkan ucapanku.

Tak semua yang kamu lihat di permukaan kenyataanya. Ada hal lain yang tak kamu lihat” ujar Tina.

Aku tidak seperti kebanyakan orang belajar banyak hal terus menerus, aku tidak cocok dengan itu.”

Lalu bagaimana dengna belajarmu ?” tanya aku yang semakin penasaran kepada Tina

Aku belajar selepas shalat subuh, 1 jam setiap hari dengan rutin. Proses belajar itu aku lakukan dengan sangat konsisten setiap harinya, dan aku terbiasa dari kecil tak pernah terlewatkan, jika terlewatkan akan berdampak besar kepadaku. Walaupun sedikit aku tetap belajar agar tetap tumbuh setiap harinya dibanding belajar ber jam-jam akan tetapi tidak belajar di hari lain” ucapnya.

Maka dari penjelasan itu aku mengerti bahwa tak ada perubahan yang besar yang dihasilkan dari proses yang hanya sebentar saja. Rata-rata orang suksespun memerlukan waktu yang sangat lama untuk menguasai satu bidang saja. Dari sini aku paham dan memustuskan untuk membentuk diri lewat hal-hal kecil dahulu. Tumbuh setiap hari dari pada tidak sama sekali.

 

 

***Penulis_adalah mahasiswa STKIP PGRI Sumenep

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here