Persma Watch Dog Mahasiswa Tertindas; Bukan Bodyguard Rektor

0
861
Ilustrasi by RMOL JATENG

Oleh: Iqbal Hasbuna

Sebelum lanjut pada pembahasan, perlu kiranya kita mengetahui pada istilah watch dog (anjing penjaga) dalam konteks demokrasi, penjaga kedaulatan rakyat untuk menggonggong kepada penguasa atau pemerintah supaya tidak mengeluarkan kebijakan publik yang justru tidak mendukung dan terkesan menekan terhadap masyarakat atau rakyat.

Dari pernyataan demikian, dapat disimpulkan bahwa pers mahasiswa (Persma) tidak boleh menjadi corong penguasa atau dari semua tatanan birokrasi kampus. Jika kemudian persma bertolak belakang dengan itu, apakah kemerdekaan persma perlu dipertanyakan? Karena kekuasaan tertinggi mahasiswa yang melahirkan kemerdekaan pers akan tergadai.

Persma harus bertindak sebagai pemantau independen terhadap kekuasaan, meskipun prinsip ini terkadang sering disalahpahami oleh masyarakat bahkan oleh wartawan, dengan mengartikan sebagai “menyusahkan orang-orang senang.” Lebih lanjut, prinsip watch dog tengah terancam dalam jurnalisme saat ini oleh penggunaannya yang berlebihan. Apalagi oleh peran anjing penjaga palsu yang lebih ditujukan untuk menyajikan sensasi ketimbang pelayanan publik.

Persma akan menjadi alat penguasa (cendrung otoritarian) untuk menekan mahasiswa dengan kebijakan yang tidak memihak kepada mahasiswa. Jika memang sudah terjadi, seharusnya mahasiswa berhak mempertanyakan, mencabut dan menggugat lembaga pers yang terindikasi mencederai kedaulatan mahasiswa yang berpihak menjadi alat kekuasaan pemerintah. Ingat!, Jika memang itu terjadi, kalau tidak mereka harus dipercaya?

Kendati demikian, Persma harus mengembalikan identitasnya, seperti yang dikatakan oleh Bill Kovach bahwa “untuk mengembalikan identitas jurnalisme, adalah jelaskan diri anda”. Untuk itu persma harus tetap berdiri dan berpihak pada mahasiswa sebagai penjaga kedaulatan. Check and Balance sebagai roh kemerdekaan pers harus dijalankan atas nama kedaulatan mahasiswa. Beritakan grand design rektor yang benar-benar berpihak pada mahasiswa, sekaligus mengawal dan mengkritisi grand design rektor yang terindikasi merugikan mahasiswa. Oleh sebab itu, patut kiranya penulis mengatakan “Persma Bukan Bodyguard Rektor”.

Sebagai Persma, kita semua mengandalkan informasi dari sumber lain untuk sebagian besar hal yang akhirnya diketahui. Di dalam buku sembilan elemen jurnalisme karangan Bill Kovack dan Tom Rosenstiel mengatakan bahwa wartawan harus selalu membutuhkan pemikiran skeptis. Bahkan mereka memasang peringatan: “jika ibumu mengatakan dia mencintaimu, periksalah.” Karena jika sumber informasi sepenuhnya digambarkan, pembaca bisa memutuskan bahwa informasi tersebut layak dipercayai.

Oleh sebab itu, ketika kita berbicara pada konteks kampus, kita harus curiga pada statement rektor, misal dalam sambutannya. Apakah benar yang disampaikan itu, atau hanya sebatas pencitraan saja? Bahkan Tom French salah satu spesialis penulisan non-fiksi naratif (jurnalisme sastrawi) atau feature menggagas suatu metode “pensil warna”, French punya tes untuk memverifikasi setiap fakta yang ada dalam tulisannya. Sebelum ia menyerahkan karyanya, ia mengambil salinan tercetak dan meneliti tulisan baris demi baris pensil warna, menoreh tanda centang pada setiap fakta dan pernyataan di dalam tulisan untuk mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dirinya harus memeriksa ulang untuk memastikan kebenarannya.

Sekali lagi, Persma adalah anjing penjaga kedaulatan mahasiswa, bukan bodyguard rektor.

*Penulis adalah mahasiswa Prodi PBSI STKIP PGRI Sumenep, sekaligus mahasiswa kesayangan Dosen. Tapi tidak mempunyai cita-cita menjadi guru.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here