Masyarakat Pabian merupakan salah satu gambaran tentang adanya bukti multikulturalisme keagamaan yang ada di Madura. Masyarakatnya, tidak hanya terdiri dari komunitas umat muslim, melainkan juga terdiri dari beberapa penganut agama yang berbeda, antara lain penganut agama Kristen, Katolik, dan Khonghucu. Pola keberagamaan yang beragam ini, ditandai dengan adanya beberapa rumah ibadah masing-masing, meliputi Masjid Baitul Arham, Gereja Katolik Paroki Maria Gunung Karmel, dan Klenteng Pao Xian Lin Kong.
Tiga rumah ibadah ini dibangun dalam satu lokasi yang saling berdekatan, sekitar 50 meter yang terletak di tengah-tengah pusat keramaian masyarakat Pabian. Walaupun perbedaan agama itu menjadi realita sosial ditengah-tengahnya, namun diantaranya tidak saling merasa sebagai penganut agama yang paling bebar. Mengutip dari surah Al-firun “Agamaku ya agamaku, agamamu ya agamamu”, intinya harus saling menghargai satu sama lain tanpa menghakimi persoalan ketuhanan masing-masing.
Jika perbedaan keyakinan rentan menjadi masalah yang sangat sensitif. Lebih-lebih jika ada pihak yang menunggangi untuk kepentingan tertentu. Namun di daerah ini, tepatnya di Jalan Slamet Riyadi, Desa Pabian, Kecamatan Kota Sumenep, berdiri tiga rumah ibadah yang berbeda, yaitu Masjid Baitul Arham, Gereja Katolik Paroki Maria Gunung Karmel, dan Klenteng Pao Xian Lian Kong, yang berdekatan dan umatnya hidup rukun berdampingan.
Dari hal itu, mari sebagai masyarakat Madura yang telah menjunjung tinggi nilai pluralisme sejak lama harus terus memperjuangkan sikap kerukunan antar agama seperti yang demikian. Perbedaan keyakinan bagi masyarakat Madura bukan hal baru, sebagai sebuah bukti di lokasi tersebut sampai saat ini masih berdiri kokoh tiga tempat ibadah yang telah dijabarkan dari atas. Menurut penyampaian warga setempat, ketiga tempat ibadah tersebut sudah berdiri ratusan tahun. Hebatnya, tidak ada sejarah yang mengatakan beradaan konflik diantara ketiga umat beragama ini.
Lebih jelasnya terkait lokasi tersebut yaitu dari arah pusat Kota Sumenep, menuju arah timur, tepatnya di Jalan Raya Slamet Riyadi, Desa Pabian, Kecamatan Kota terdapat Masjid Baitul Arham. Masjid ini berada di sebelah kanan jalan. Tidak jauh dari itu, sekitar 20 meter ke arah timur, tepatnya di sebelah kiri jalan, berdiri sebuah Gereja Katolik Paroki Maria Gunung Karmel dengan arsitektur bergaya Eropa yang sampai saat ini masih aktif. Bangunan tersebut terlihat megah dengan sebuah menara dan didominasi warna putih. Sekitar 50 meter ke arah timur dari Gereja tersebut, masih terdapat rumah ibadah umat Khonghucu yaitu Klenteng Pao Xian Lian Kong. Bangunan itu didominasi dengan warna merah terang, yang menurut penganutnya dipercaya membawa keberuntungan.
Menurut Sugiono yang bertugas menjaga Klenteng itu menyampaikan bahwa di Kabupaten Sumenep, terdapat 50 orang penganut agama Khonghucu.
“Tidak pernah terjadi konflik/perselisihan antara umat beragama di sini. Meskipun kami minoritas, lalu tempat ibadah kami berdempetan dengan dua tempat ibadah lain, kami saling menghormati,” jelasnya saat saya berbincang-bincang dengannya.
Bapak Sugiono juga tidak merasa berbeda dari masyarakat lain, dirinya makan, minum, datang ke rumah tetangga seperti biasa. Berbincang dengan umat beragama lain tanpa pernah merasa canggung. Dia dan keluarganya tidak pernah merasa tertekan.
”Istri saya tetap bisa arisan dengan ibu-ibu di sekitar sini,” tuturnya dengan wajah yang sumringah.
Selain dari beberapa hal yang telah diutarakannya dari atas, terdapat sebuah kata-katanya yang membuat saya terkagum-kagum.
“Tidak ada agama yang mengajarkan untuk saling berselisih. Kita sebagai orang asli Sumenep tidak memandang manusia dari warna kulit, bahasa, ataupun agama. Kita memandang manusia dari baik atau buruk sifatnya,” jelasnya yang seolah membuat saya dan para sidang pembaca semua merasa sangat penting untuk menyadari pentingnya kerukunan antar agama.
*Penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, Prodi PGSD, semester I












