Takut Tambah Dewasa di Negeri Penuh Statistik

0
1154
Ilustrasi Mediaretorika.con

Oleh: Miftah

Takut tambah dewasa, takut aku kecewa. Takut tak seindah yang kukira ….

Penggalan lirik dari salah satu lagu yang pernah ngetop di Indonesia. Lagu ini banyak berseliweran di Tiktok, bahkan masuk list music favorite teman saya. Siapa sih yang tidak kenal dan barangkali masih asing dengan lirik yang saya kutip di atas? Pasti ada yang tahu, walau tak tahu persis apa judulnya.

Lagu itu kerap kali dan bahkan, biasanya, menjadi soundtrack wajib bagi anak muda yang terpekur di jalanan saat mengendarai motor tuanya atau yang berdiam diri sebelum kantuk malam menyerang. Mungkin, ada juga yang hanya sekadar iseng memilih lagu ini untuk menggarami instastory-nya yang kadang kelewat hambar. Penyedap rasa. Tapi rasa-rasanya, ada juga yang menganggap baris demi baris lirik itu relate betul; saat tak sengaja papasan di jalan dengan nada itu, ah, pergulatan batin pun tak lagi terhindarkan, misalnya.

Lagu itu diciptakan oleh Brigitta Sriulina Br Meliala—atau dikenal sebagai Idgitaf. Ia berhasil membuat industri musik Indonesia sedikit move on dari wajah keasmara-asmaraan yang itu-itu saja lewat single albumbnya yang berjudul “Takut”.

Takut tambah dewasa, takut tak sekuat yang kukira …,” sialan, suara suram teman saya bergema merembesi gendang telinga. Ya! Lirik itu. Teman saya sangat sering mendesaukannya. Lidahnya menjular—menjalar dan nenjulur—diikuti oleh matanya yang disipit-sipitkan, seperti mendalami kicauannya yang konon dapat menyejukkan sanubari pelbagai makhluk hidup yang mendengarkannya secara tak sengaja dan bersengaja. Tapi, sejujurnya, masih jauh lebih indah suara mesin gerinda yang menyayat tipis-tipis kayu jati di jam tujuh pagi. Bangké….

Mahakarya itu dirilis pada 1 Oktober 2021, atau, sampai saat ini, ketika tulisan ini ditulis, kira-kira sudah tiga tahun delapan bulan lagu itu diudarakan. Dan dalam waktu empat bulan lagi, karya gemilang itu akan genap berumur empat tahun.

Ikuti dan aktifkan notifikasi Official Saluran WhatsApp Mediaretorika.com

Ya, empat tahun. Bukan waktu yang singkat. Dalam empat tahun, seorang ibu sudah bisa mengabadikan anaknya yang pandai berjalan dan berlarian sembari melompat-lompat sesekali dengan kedua kaki mungilnya.

Dalam jangka waktu itu juga, seorang pelajar SMA, dan Sarjana, dan Magister, dan Diploma, dan Akademi, dan, dan, dan, dan, bisa menamatkan masa studinya. Lebih-lebih kadang tidak sampai. Tapi, bukan berarti itu semua semudah mengerjapkan mata. Bayi pun harus merangkak sebelum ia bisa berjalan dan berlari, sama halnya dengan berpendidikan.

Berbicara soal berpendidikan, saya jadi teringat pesan dari Mas Wapres Gibran Rakabumingraka. Bukan di mimbar internasional, bukan juga di podium istana negara saat mengisi kegiatan kenegaraan yang bergengsi. Cukup dengan gawai dan 200MB kuota internet, bisa juga pakai Wi-fi tetangga, kita sudah bisa mendapat klas VIP untuk menyimak Mas Wapres Yang Terhormat itu. Cukup ketik di pencarian Youtube: Gibran ngomong demografi.

Berdurasi 6 menitan. Vidio itu menarik perhatian publik. Saat ini, vidio itu telah dinikmati sebanyak 1,6 juta kali. “Indonesia akan mendapat bonus demografi di tahun 2030–2045,” Mas Gibran dalam vidio monolognya, “kesempatan ini tidak akan terulang, dimana 208 juta penduduk kita akan berada di usia produktif. Ini adalah kesempatan emas kita.” Juga yang ini, “dan saya percaya, jika generasi muda Indonesia tidak takut tantangan, kita adalah petarung tangguh, kita hanya butuh alasan untuk percaya,” iya, Mas, saya percaya, “seperti yang Bapak Presiden Prabowo katakan: keberhasilan suatu bangsa, kebangkitan suatu bangsa, bukan pekerjaan satu tahun, lima tahun, atau bahkan sepuluh tahun, kesuksesan itu bisa kita capai melalui kolaborasi.”

Masa keemasan yang bakal gilang-gemilang itu diprediksi masih pada lima tahun mendatang. Tak ada lagi usia renta, tak ada lagi usia kanak-kanak, yang ada hanyalah tenaga kerja yang siap direindoktrinasi dan diperintah membangun negri ini—ketika rata-rata SDM Indonesia berada di masa produktif.

Namun, menurut saya pribadi, masih banyak tantangan dan rintangan yang harus nasion ini atasi agar tak taram-temaram. Salah satunya menekan angka pengangguran yang masih terserak-serak. Menurut data yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS), ada 7.194.862 orang yang lontang-lantung di tahun 2024 per Februari. Tren itu kembali naik di bulan Agustus 2024 menjadi 7.465.599. Angka yang cukup fantastis, 97 kali lipat dari kapasitas Stadion Gelora Bung Karno (GBK).

Yang mengibakannya lagi, para sarjana menjadi partisipan aktif penyumbang penganggur dari tahun ke tahun. Mari saya ulas dengan singkat liga pengangguran lulusan universitas ini selama kurun waktu 6 tahun—per Agustus—ke belakang.

Kita mulai dari puncak teratas, yang mana zenit pengangguran berstatus sarjana itu berada di tahun 2020, yakni berjumlah 981.203. Pada tahun ini, hampir seantero muka bumi dibuat lulu-lantak oleh makhluk bernama Covid-19, tak terkecuali di Indonesia. Sebaliknya, nadir tren itu berada di tahun 2022 dengan angka 673.485 sarjana yang menganggur. Dan disusul dengan tahun 2019 yang berada di angka 746.354.

Sedangkan di 2024, lulusan universitas  menyumbang 842.378 sarjana lontang-lantung. Hal itu mengalami kenaikan jika dibandingkan dari tahun sebelumnya yang hanya berjumlah 787.973, pada 2023.

DIAGRAM: Tren pengangguran sarjana per Agustus 2019–2024 yang dihimpun dari BPS.

Terbaru, pada 5 Mei 2025 BPS mencatat di tahun ini angka pengangguran—per Februari—kembali naik dibanding data terakhir, yakni dari 7,20 juta penganggur pada Februari 2024 menjadi 7,28 juta penganggur pada Februari 2025. Sedangkan Pengangguran Terbuka Indonesia (TPT) sebesar 4,76%. Artinya, masih banyak sarjanawan muda yang siap memikul beban dan merasai asinnya keringat yang mengucur dari pelipis kanan-kirinya. Namun, ironisnya mereka tidak mendapat giliran untuk merasakan sensasi itu semua karena minimnya lapangan pekerjaan.

Ikuti dan aktifkan notifikasi Official Saluran WhatsApp Mediaretorika.com

Kondisi ini menjadi PR yang tak bisa cuma digantungkan ke langit sambil berharap turun sendiri jawabannya. Negara ini tak kekurangan terpelajar, seperti lulusan universitas yang necis habis. Tapi sayangnya, banyak dari mereka justru parkir di rumah, bukan di tempat kerja. Lontang-lantung.

Yang lebih menyesakkan, bukan karena mereka malas, tapi karena tak ada ruang untuk mereka unjuk gigi. Mereka siap memikul beban, tapi tak pernah diberi beban itu sendiri. Keringat yang mestinya mengucur dari pelipis kanan-kiri itu, malah hanya meleleh karena panasnya nasib, bukan kerasnya kerja.

Kalau begini terus, bonus demografi itu bisa-bisa hanya jadi mitos yang diceritakan di kanal Youtube—bukan kenyataan yang bisa dirasakan dari dapur yang tetap berasap dengan wangi-wangian khas.

Mereka ini bukan sekadar angka dalam grafik, bukan sekadar titik-titik dalam bagan statistik BPS yang warnanya biru muda keabu-abuan. Mereka adalah bayi-bayi yang pernah percaya bahwa ijazah adalah pintu gerbang menuju masa depan yang gilang-gemilang. Tapi setelah wisuda, yang terbuka justru pintu kamar kos, atau pintu warung kopi 7 ribuan, atau pintu lowongan yang tak pernah benar-benar ter-welcome untuk mereka. Inpo loker….

Bonus demografi, katanya. Tapi kalau tidak dikelola betul, jangan-jangan justru jadi bumerang demografi. Alih-alih jadi mesin pendobrak ekonomi bangsa, mereka malah bisa jadi bom waktu sosial: frustrasi, apatis, atau mungkin… radikal? Astaga naga.

Maka yang perlu dibenahi bukan cuma lulusan yang “katanya” tidak kompeten, tapi sistem yang kadang lebih sibuk mencetak gelar daripada membentuk daya. Kita butuh kampus yang tak sekadar menelurkan sarjana, tapi membekali mereka dengan nalar, keterampilan, dan daya tahan menghadapi dunia yang tidak ramah.

Dan kita juga perlu negara yang tak cuma pintar membuat slogan dan video kampanye berformat sinematik dan gemoy-gemoyan dengan karikatur dan kartun-kartun semata. Kita butuh kebijakan yang rill, konkret, nyata, yang turun ke bumi, menyentuh anak-anak muda yang selama ini hanya bisa menatap masa depan dari balik jendela kamar sembari menyetel “Takut”.

Karena masa depan bukan semata tentang siapa yang kuat tahan-tahanan. Tapi tentang siapa yang diberi kesempatan bertumbuh. Dan sejauh ini, selak-beluk antrean masih panjang untuk mendapat giliran.

Sungguh tak heran lagi rasanya mengapa Idgitaf menciptakan lagu berjudul “Takut”.

Mari handai tolan sekalian, mari, mengasohlah, dan, mari … takut tambah dewasa….

*Penulis merupakan individu yang lebih menyukai dandut koplo Jawa dan fungkot kekinian

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here