Pandemi virus Corona menyerang hampir diseluruh belahan dunia, dan dikenal dengan sebutan Covid-19. Awal mula penyebarannya dari Wuhan, China. Siapa yang tidak tahu akan hal ini?, televisi, radio, koran, media sosial, dan masih banyak lagi media yang digunakan untuk menyalurkan pemberitaan tentang pandemi.
Sejak awal kedatangannya, mengantarkan kita pada keadaan darurat, yang dalam artian tanda bahaya sudah mendekat, pemberitaan semakin santer dimana-dimana. Hari demi hari berlalu dengan Covid-19, dimulai dari cara virus ini menular, pencegahan, hingga penanganannya. Tidak jarang sebagaian orang yang merasa tidak mempercayai adanya virus ini menganggap, hal ini bukan apa-apa, karena terlalu bebal dengan isu-isu tentang Covid-19.
Satu tahun lebih berjalan beriringan, hidup dengan penyesuaian yang baru, segala lini sektor tak luput dari bayang-bayang Covid-19. Pendidikan salah satunya, seperti apa dan bagaimana tindakan pasti yang dilakukan pihak terkait? tidak mudah memang untuk menanggulangi semua dampak dari Covid-19.
Segala macam bentuk kebijakan dikeluarkan dan dilakukan, karena tidak ada jalan lain lagi. Terkadang sesuatu yang sederhana bisa menjadi rumit karena keputusan dan tindakan yang diambil bertele-tele atau terkesan kurang pertimbangan.
Memang, segala sesuatu yang baru perlu penyesuaian dan untuk benar-benar bisa menerimanya butuh waktu yang lama. Namun mau sampai kapan kita terus seperti ini, jika memang perlu dilakukan kenapa tidak dilakukan?, dan jika tidak perlu maka tidak usah dilakukan. Pro dan kontra mengiringi setiap kebijakan yang ada. Dunia pendidikan berubah 180 derajat menjadi tantangan tersendiri untuk pemangku kebijakan dan pelaku kebijakan.
Berbicara kebijakan di setiap daerah akan berbeda-beda sesuai dengan realitas yang ada, misalnya Kabupaten Sumenep dengan perjalanannya diawal mulus tanpa hambatan tetapi kian kebelakang mulai muncul beberapa tantangan yang harus dihadapi.
Awal permulaan untuk berjuang dari virus ini hingga cara menjaga agar hal ini tidak semakin runyam. Berbagai temuan baik dari pemangku kebijakan maupun pelaku kebijakan dipaparkan tersusun indah dalam Majalah Retorika dengan tema “Corona Menyerang Pendidikan Kelabakan”. Tidak ada isu lagi dalam majalah ini melaikan sebuah pemaparan yang memang benar-benar sesuai dengan realita yang ada, membuka jalan bagi para pembaca tentang pengkajian masalah pandemi Covid-19 di sektor pendidikan.
Terbitnya majalah ini dapat mengantarkan kita kepada perkembangan intelektual yang sesungguhnya, lagi-lagi dalam majalah ini bukan isu belaka, dialektika yang ada didalamnya didukung dengan berbagai karya yang dapat dijadikan sebagai bahan untuk pengkajian perihal upaya serta penanganan Covid-19. Oleh sebab itu untuk lebih mendalamnya, silahkan dinikmati sajian literasi yang satu ini dengan disandingkan aroma kopi nan nimat.
*Penulis adalah kru LPM Retorika STKIP PGRI Sumenep












