Masih kuingat betul jalan menuju kita, kekasih!
Sebelum aku menjadi penyair dan mencintaimu.
Saban hari kota lebih sering menerjemahkan kekosongan
Perkara macet adalah seisi kepal aku dalam sebotol Amer
Yang dibeli saat jam-jam mulai kekeringan
Lalu kuminum di belakang gedung tinggi
Setinggi ngungun kedamaian negeri ini.
Perlu kau tahu, kekasihku.
Di kota segalanya rumah
Seperti pasar, ketika pertama kau menyapa mataku
Dengan senyummu yang pagi dan begitu menampar dada ini
Meski kadang kali aku harus pergi
Menuju gang-gang perumahan demi menjauhi orang-orang
Yang kembali menjual dan membeli kebenaran.
Di depan rumah megah, entah kepunyaan siapa
Aku bertanya-tanya, masihkah layak kucintai engkau, kekasih?
Sebagai manusia yang hilang kepercayaan oleh manusia
Hilang cita-cita akibat mahalnya ideologi
Sebagai bukti suksesnya orang di tangan asing.
Tubuh bertato, kaos oblong, celana setengah sobek di lutut
Serta senjata tajam di pinggang
Menjadikanku abu-abu dari banyak pandang
Saat dibandingkan dengan pria berdasi
Yang lebih besar dasinya dari pada janjinya.
Oleh karena itu, jangan kau kecewa
Melihatku di belakang gedung-gedung kota
Memegang sebotol Amer yang merupakan puisi pertamaku
Membawaku jadi penyair dan mencintaimu.
24 Mei 2021
*Penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, Prodi PBSI, semester II












