Pagi menyapa bersama tiupan angin
Merenda kenangan yang semalam terjungkal
Aku hanya terdiam dan terdiam
Hanya mampu mengurai sajak usang
Entahlah
Sampai kapan semua ini berlaku
Mungkin sampai waktu menjemput usiaku
Atau ini hanya permainanmu wahai sang waktu
Lagi-lagi aku terpaku
Menatap langit yang sedari tadi menertawakanku
Siapa aku?
Aku hanya sebutir debu
Pantas saja kau dia dan mereka memandangku dengan mata sinis
Ya
Aku bukan siapa
Aku lahir dari sajak lusuh
Aku dibesarkan oleh kekata yang tercampakkan
Biarlah
Biarkan aku tetap seperti ini
Menyulam kata meski tak bisa kau mengerti
Biarkan merangkai kata lusuh ini
Akan aku nikmati tiap jengkal waktu
Yang perlahan seakan mengutukku
Aku tak pernah peduli apapun penilaianmu
Inilah aku dan sajak usangku
*Penulis berasal dari Lenteng Sumenep.












