Kutitip nasib pada azimat
Biar hompimpaku menjadi berkat
Kutuang dingin pada tubuh kecil
Biar hangat dekap menjadi pewakil
Ragaku telah dicuri oleh nasibku sendiri
Semayamkan naskah pada sang ilahi
Bersama abjad yang kutiti
Agar keserakahan birahi tak memadamkan kobar harga diri
Pekik alpa telah sampai ke penghujung lupa
Bersemanyam di tepi samudera
Hampar tenang tempat kusemedi
Sampai laut sudah tak berpenghuni
***
MATA BUTA
Kecamuk batin yang meronta
Dipaksa nasib terus bersua, bersama dinginnya tatap mata tak bernuansa, pekat debur ombak kian sulam keramaian
Isak tangis batin bungkam bibir mungil
Mataku gatal dan aku tak bisa menggaruknya
Ku garuk hatiku dengan mimik muka alibi dungu
Saban hari ku butakan mata
Ku congkel dengan senjata
Menciptakan cerita yang seakan tak ada apa
Lirih-lirih ku tegapkan badan, berjalan telanjangi lautan
Berat langkah pijakan tetap saja ku paksakan
Hingga mata yang buta tak menjadikanku alasan untuk tetap sampai pada titik tumpu tujuan
*** Penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, Program Studi Bimbingan dan Konseling. Aktif berkegiatan di Sanggar Bintang Sembilan. Karya-karyanya telah diterbitkan di media online dan cetak.












