SOP Belum Jelas, Kepala Unit SDM Sebut Rekrutmen Dosen Melalui Jejaring Pimpinan

0
1112
Halaman STKIP PGRI Sumenep (dok. istimewa)

MEDIARETORIKA.com – Jumlah mahasiswa STKIP PGRI Sumenep membludak selama 4 tahun terakhir. Sedangkan jumlah dosen yang tersedia masih minim. Hal demikian menyebabkan rasio standarisasi jumlah tenaga pengajar tidak ideal.

Pasalnya, standar ideal jumlah dosen yakni 1 banding 45 mahasiswa. Sementara di STKIP PGRI Sumenep, perbandingannya yaitu 1 banding 50 lebih mahasiswa. Untuk itu, maka sangat diperlukan penambahan dosen untuk bisa memenuhi standar kebutuhan.

Sebenarnya, langkah demikian sudah mulai dilakukan. Hanya, proses rekrutmen dosen yang berlangsung, diduga tidak berdasar standar prosedur yang jelas. Karena, sampai sekarang tidak ditemukan regulasi formal yang mengatur mekanisme rekrutmen dosen.

Kepala Unit Sumber Daya Manusia (SDM) STKIP PGRI Sumenep Ahmad Yasid mengatakan, bahwa rekrutmen dosen dilakukan secara tertutup. Bahkan tanpa ada pamflet atau brosur pemberitahuan lowongan kerja.

Selain itu, mekanisme yang dipakai juga tidak ideal. Pasalnya, sebagian dosen yang masuk ke Kampus Taneyan Lanjang tersebut, memakai jejaring pimpinan. Salah satunya, yaitu melalui ketua kampus setempat.

“Setelah itu, datanya diproses dalam waktu singkat. Kemudian SK (surat keputusan) diturunkan ke prodi (program studi),” ungkapnya (14/09/2022).

Paling depan Asmoni (Ketua STKIP PGRI Sumenep), kiri Jamilah (Waka 1 Akdemik), kanan Agus Riyanti Puspitorini (Waka 2 Bidan Administrasi Umum), dan tengah Moh. Fauzi (Waka 3 Bidang Kemahasiswaan),

Terlepas dari itu, sebagian dosen yang masuk melalui jejaring pimpinan ini, ada yang diketahui masih berstatus lulusan strata 1 (S1). Pasalnya, hal demikian sengaja dilakukan karena sedang terpaksa.

“Kita dikejar waktu dan terhimpit minimnya jumlah dosen. Akhirnya, dosen yang sedang menempuh (S2, Red) diberi peluang. Tapi pastinya, sebentar lagi mereka lulus,” dalihnya.

Terkesan sebagai pembelaan, Yasid menuturkan bahwa keputusan pimpinan dalam merekrut dosen berstatus S1 itu, memiliki alasan tertentu. Salah satunya, yakni sebagai pratik uji coba mengajar bagi dosen bersangkutan. Sekaligus, untuk mengukur tingkat kualitasnya.

“Kalau tidak bagus cara mengajarnya, maka tidak perlu diangkat menjadi dosen tetap. Tapi yang jelas saya hanya pelaksana. Semua kebijakan pimpinan, tetap harus saya jalankan selama masih sesuai,” ucapnya.

Sehubungan dengan itu, media ini mengkonfirmasi Ketua STKIP PGRI Sumenep Asmoni, untuk memastikan kebenarannya. Ternyata, yang bersangkutan membenarkan hal hal tersebut. Menurut dia, dosen baru yang masuk memang atas rekomendasi darinya.

Pada dasarnya, dosen bersangkutan masih berstatus sebagai dosen tidak tetap (DTT). Terkait prosedur, Asmoni berdalih bahwa proses rekrutmen tetap diterapkan sesuai regulasi yang berlaku. Seperti mengajukan surat lamaran kerja hingga pertimbangan bersama di internal bagian terkait. “Kalau mereka dianggap bagus, maka kami ambil,” katanya.

Berikut pula, mengenai dosen yang masih berstatus lulusan S1. Asmoni juga membenarkan. Menurutnya, jumlah dosen tetap STKIP PGRI Sumenep tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang membludak. Sehingga, diperlukan tenaga tambahan untuk meringankan tanggung jawab pembelajaran di kelas.

“Dosen tetap terlalu banyak mengampu mata kuliah. Sehingga kasihan (kalau tidak dibantu DTT, Red),” pungkasnya.

 

Reporter: Hsn/Nyl/Iqb

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here