Oleh: Gusti Fahriansyah
Salam sejahtera untuk kita semua. Mengingat nasib pendidikan yang karut-marut, maksud penulis bukan untuk membanding-bandingkan kualitas pendidikan di kabupaten Sumenep. Khususnya, Sekolah Tinggi sederajat. Juga, si penulis tidak ingin merendahkan martabat salah satu pendidikan. Ila yaumil kiyamah, pendidikan merupakan sistem yang patut dijaga keutuhannya: terciptanya insan yang berpendidikan yang peduli terhadap nasib penerusnya yang kelak akan jadi tonggak bangsa.
Mengingat falsafah “ing ngaro taludho, ing madyo mangun karso,” dan “tutwuri handayani” membawa kesadaran tiap orang akan pentingnya pendidikan tumbuh. Namun, hal itu sangat berat saat berhadapan dengan peradaban yang serba tunai. Tak mau kalah dengan bahan pokok, fashion, dan lainnya, pendidikan juga berperan aktif dalam kerja perniagaan. Terutama dalam penilaian kualitas suatu ruang pendidikan.
Sebab dari perlombaan itu, tak jarang pendidikan, utamanya Perguruan Tinggi (PT) menajemen marketing dengan manis. Mulai dari kualitas dari PT sampai prestasi mahasiswa. Yang paling enggan saya lihat dan dengar, adalah ketika suatu PT meletakkan hal yang tidak ada ke dalam sistem marketingnya.
Kenapa begitu?
Sebenarnya, tidak sepenuhnya ada. Namun, jika tidak diperingatkan, hal tersebut hanya iklan yang nampak sebagai fatamorgana saja. Karena tidak mungkin, suatu kampus membeberkan keadaannya secara jujur. Ya, ini masalah pasar mas! Upss.
Ada suatu fenomena janggal yang bisa kita tertawakan tiap waktu, yaitu maraknya fakultas pendidikan di kabupaten Sumenep. Rata-rata tiap Perguruan Tinggi memiliki ruang itu, lantaran ‘dengan insan pendidikan lah, bangsa bisa merdeka’. Kesampingkan dulu kalimat tadi, kemudian kita baca dengan sudut pandang lebih santai, damai, dan luas.
Pertama, secara gampang, menjadi lulusan fakultas pendidikan sangat mudah dalam menggapai pekerjaan. Ya, pelariannya adalah menjadi guru, yang hari ini begitu melonjak jumlahnya. Meskipun, banyak juga yang berhasil menjadi pemenang lain selain tenaga pendidik. Kan sudah dibilang! Guru adalah jalan terakhir untuk melanjutkan nasib kepulan asap dapur. Itupun hanya mentok di guru sukwan. Kalau mau jadi PNS masih perlu sedikit biaya dan orang pintas.
Kedua, pengelolaan marketingnya tidak begitu sulit. “Sampeyan asal-asalan mas!” “Loh, tidak! Ilmu marketing manjur ketika penyampaian kepada publik manis, bisa dengan support tokoh-tokoh tinggi, presentasi mengenai ruang pekerjaan setelah melewati kelulusan atau tawaran Beasiswa! Bisa saja kan?” “Nah, karena marketing itu sifatnya rahasia jadi tidak ada yang tahu.” “iya lo mas, kalau bocor cara kita siapa yang mau daftar?”
Saat menginjak akhir masa SMA, siswa terpana atas proses marketing itu. Mereka berbondong-bondong mencari informasi tentang: 1. Jurusan apa yang cocok dengannya, 2. Kampus mana yang lebih murah, 3. Kualitas kampus. Tujuan serta posisi mereka tetap pada masa itu, adalah sejahtera masa depan selaku iron stock peradaban.
Mirisnya, satu sampai dua semester mereka gagap menjadi mahasiswa. Bahkan, semester selanjutnya mereka mulai berpikir dan sadar, bahwa mekanisme pasar tidak hanya berkenaan dengan BBM atau bahan pokok. Tapi, juga pendidikan.
Maka, kampus mana yang banyak peminat adalah kampus terbaik? Kampus dengan tunai tertinggi adalah kampus terasri? Kampus dengan sistem marketingnya manis adalah kampus bermartabat? Penulis rasa, tidak!
Sekarang, patokan yang urgen di mata masyarakat ialah pendidikan yang memberi kepercayaan terhadap mereka (tidak pehape). Juga, pendidikan yang tidak amat menghilangkan bahan pokok di dapur satu persatu, apalagi di kabupaten Sumenep yang garis besar penghasilannya dari ladang dan lautan.
“Ya tidak apa-apa pindah atau berhenti saja dari STKIP, mas!”
Jelas, dari pada sama-sama bayar, lebih baik memilih pendidikan yang dapat dipercaya. Ini Sumenep dengan pola pikir masyarakatnya condong melihat fungsi, manfaat, ketahanan dan biaya. Contoh, buat apa pergi ke kafe untuk membeli kopi yang mahal tapi rasanya sama seperti di angkringan. Perlu di garisbawahi, semisal harga kopi di angkringan sama mahalnya dengan di kafe, pasti mereka pergi ke kafe.
Mereka tidak sebodoh itu, nyatanya kepercayaan adalah kunci bagaimana suatu ruang pendidikan tersebut baik. Sepertinya realitas tidak akan seperti itu, soalnya hari ini cukup telanjang menampakkan wujudnya. Wkwkwk!
Penulis tidak berniat menakut-nakuti, tapi pembodohan terhadap anak negeri perlu dihapuskan di ruang pendidikan. Jadikan pendidikan rumah kedua di mana ada motivator yang membangkitkan semangat belajar, ada orang-orang yang merangkulnya saat hampir terjatuh, ada kesadaran terhadap nasib bersama.
Menegaskan kembali tulisan dari awal. Terdapat empat sampai enam fakultas pendidikan di Sumenep, dan maraknya peminat, permainannya bukan pada kualitas, tapi biaya. Mungkin bisa jadi abstrak untuk rencana marketing STKIP PGRI Sumenep ke depannya.
Bersambung….
*Penulis adalah mahasiswa PBSI semester 5, aktif di beberapa ruang seperti KPB dan Tarebung Changka. Pernah berproses di Sanggar Gemilang, Persatuan Santri Lenteng PP. Annuqayah Lubangsa.












