Immu
Elegi malam adalah mata yang tak pernah tamat mengundang pulang.
Kakinya mengandung Sir, serap sari dari dunia yang kalah sebagai Hamba.
Waktu yang serupa kasih, tapak kami dibalut tangan berpeluk amin cinta.
Maka sebelum kaki kami genap, kasih ibu berwarna iba. Entah almanak ke berapa yang mampu mengusir doanya.
Sumenep, 2023
Nduri
Enam langkah dari pintu yang sethawil pagarmu. Melangkahlah kami sejarak rindu lama. Pulanglah kami dari padang dan gunung gersang.
Hari boleh beranjak bulan. Bulan menyusun tahun. Kepadamulah An, dada dari anak tanah pulang memangku tangan
Merawat dahaga dada lewat sittah adalah kaki kami masih penuh tanya.
Gantung.
Sumenep, 2023
Buna
Menggalah dido’a
Untuk harga dunia
Sesekali disendat
Kepatahan tanduk kerapan
Pulang ke kampung membawa
Anak dari jadah semalam.
Sumenep, 2023
*Penulis bernama Ach. Zubairi, Sekarang sedang menempuh pendidikan Strata-1 di STKIP PGRI Sumenep. Tepatnya, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI). Ia juga aktif di organisasi intra kampus LPM Retorika












