Puisi-puisi Sovia: Tetesan Air Mata

0
1496
Photo by Viva

Belit suci

Malam yang begitu indah
Dengan hiasan sang bintang
Berkilau dengan sang barkara malam
Walau
Kerisauan sempat bersama
Menemani jejak ketenangan
Al-usymuni
Bait suci tersusun rapi
Di kediaman sang pengabdi
Hati ini telah berlalu
Dalam kelam yang bisu
Al-usymuni
Pancaran cahaya
Belum ku genggam dalam hidup
Karena
Penetapan belum berakhir
Dan takkan usai sebelum
Matahari ku peluk dalam bahagia
Yang kan memancar dan menerangi jiwa

Tetesan Air Mata

Tetesan air mata yang mengalir basahi pipi
Dan ku angkat jemariku tuk memohon
Semua berubah ketika ku mendengar
Lantunan sholawat
Hari ini terasa berbunga
Dan hati ini seakan-akan dekat denganmu
Tak henti-henti air mata ini mengalir
Dan terus memohon
Tuk bisa melihatmu
Karena cahaya dan syafaatmu
Yang dinantikan ummatmu
Engkaulah nabiku
Engkaulah penumpas angkara
Hanya syafaatmu wahai nabi
Yang kami nanti
Kami cinta dan rindu akan kehadiranmu

Sahabat

Kebersamaan itu kandas begitu saja
Saat waktu dan keadaan menuntutku
Untuk melepaskan sahabatku
Pilihannya untuk meninggalkan bumi pondok
Menjadi akhir pertemuan kita
Perpisahan itu menciptakan luka yang kian menganga lebar
Luka yang sering kali meneteskan air mata darah
Sifat dan sikapnya yang tak pernah lelah
Mengerti akan keadaanku
Menjadi sejarah dalam memori ku
Meski ku tahu sejarah itu belum terbenahi
Sahabat
Aku akan setia menunggumu
Menunggu senyum persahabatan
Yang pernah hilang dalam putaran waktu
Walau aku tahu kini
Kau saat ini sudah beriman
Pada anak adam yang lain
Dan bagaimanapun keadaanmu
Kau tetap sahabatku

*Penulis bernama Sovia, lahir di desa aengbaja kenek, kecamatan Bluto. Via adalah nama panggilannya, paling hobi mengarang lewat karya tulis dan menjadi salah satu mahasiswa di STKIP PGRI Sumenep dengan program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Ia juga aktif di organisasi intra kampus LPM Retorika.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here