
MEDIRETORIKA.com–Dosen Universitas PGRI (UPI) Sumenep, Dian Helaprahara, memberikan keterangan tambahan atas pemberitaan sebelumnya yang berjudul “Tak Lazim, Dosen UPI Sumenep Meminta Mahasiswa Tap-Tap Tiktok sebagai Presensi”.
Dalam keterangannya, dia menegaskan bahwa dirinya tidak menerima sepeser pun keuntungan dari metode pembelajaran yang digunakannya.
Menurutnya, presensi melalui tap-tap layar (like) pada siaran langsung TikTok bukanlah bentuk pemberian keuntungan, tetapi sekadar budaya kecil dalam aktivitas para steamer yang biasanya dianggap sebagai tanda dukungan.
“Tap-tap seperti itu diartikan sebagai bentuk dukungan, hal itu sudah menjadi kebiasaan bagi para streamer,” jelasnya.
Dia juga menjelaskan, penggunaan aplikasi TikTok dalam pembelajaran merupakan inovasi agar metode ajarnya tidak terkesan kaku dan lebih sesuai dengan perkembangan teknologi.
Baca Juga: Antusias Tinggi Warnai Rektor Cup I UPI Sumenep, Ini Daftar Juara Lengkapnya
“Pemanfaatan TikTok itu memberikan suasana belajar berbeda bagi mahasiswa. Bahkan, ide ini muncul atas usulan mahasiswa,” ucapnya.
Lebih lanjut, Dosen yang akrab disapa Dian itu menyampaikan, pemanfaatan aplikasi TikTok dapat menjadi sarana promosi bagi kampus kepada masyarakat luas. Sebab, saat mengajar, Dian kerap memberikan tugas berupa pembuatan video yang harus di-upload ke aplikasi tersebut.
“Tugas video-video pembelajaran yang ada di TikTok ini nanti bisa dilihat oleh publik. Secara tidak langsung, itu membantu mempromosikan kampus,” ujarnya.
Dia turut mengungkapkan bahwa dirinya telah mengonsolidasikan masalah ini kepada dua kelas yang diampunya, yakni kelas 1E dan 1F Prodi PGSD. Konsolidasi itu sekaligus menjadi ruang serap aspirasi mahasiswa atas metode yang dinilai tak lazim itu.
“Dari hasil konsolidasi itu, hanya ada empat mahasiswa yang merasa keberatan atas metode pengaplikasian TikTok,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, Dian menyatakan dirinya siap menerima kritik dari siapa pun. Dia berkomitmen untuk terus berbenah agar tercipta pembelajaran yang lebih baik.
“Kalau saya pribadi terbuka pada kritik. Itu semua perlu untuk bisa menjadi lebih baik lagi,” akunya.
Salah satu dari empat mahasiswa yang keberatan atas metode itu mengatakan bahwa dirinya kurang setuju. Menurutnya, presensi berupa tap-tap layar di siaran langsung TikTok bisa diganti dengan metode lain yang lebih bermanfaat.
“Sebenarnya cara itu sudah bagus, tetapi masih ada cara lain yang lebih bagus untuk digunakan,” ucap Zainur Rahman.
Reporter: Miftah
Editoe: Redaksi











