Satu Buku Seribu Makna, Teka-Teki Si Sampul Biru Pudar

0
197
Ilustrasi

Hujan sedikit deras turun pada sore itu, tak sedikit orang-orang yang menunda aktivitas mereka karena guyurannya. Genangan air membasahi jalan, tidak terlewat, jalan becek turut tercipta pada gang sempit tempat kios-kios buku bekas berjejer seperti tak beraturan. Lia–namanya–berhenti di depan salah satu kios tempat buku-buku itu berada, sebenarnya cukup lucu bukan karena dia sedang mencari buku tertentu, melainkan karena dia hanya ingin menunda pulang.

Akhir-akhir ini benaknya terasa penuh seperti bertanya-tanya tentang masalah dunia kampus yang terasa membingungkan, mimpi yang mulai kabur, dan rasa takut akan masa depan yang terus menghantuinya.

Di antara tumpukan-tumpukan buku berdebu, matanya tertuju pada sebuah buku tipis bersampul biru pudar yang di sudutnya terlihat telah mengelupas–entah karena terlalu banyak sentuhan orang-orang yang penasaran akan isisnya– dan kertasnya yang telah menguning.

[Satu Buku, Seribu Makna]

Tidak ada nama penulis. Tidak ada sinopsis di belakangnya. Entah mengapa dia merasa buku itu menunggunya. Seolah-olah namanya terpanggil agar dia membawa buku itu ke genggamannya. Tanpa pikir panjang dia membelinya dengan harga yang bahkan lebih murah dari ongkos parkir, lalu Lia masukkan buku itu ke dalam tasnya tanpa perasaan gusar sedikitpun.

Malam itu, di kamar kecilnya, Lia membuka satu halaman pertama. Ceritanya sederhana tentang seseorang yang merasa hidupnya biasa-biasa saja, selalu berjalan di jalur aman, dan takut membuat pilihan. Setiap kalimat terasa seperti sentuhan yang terlalu akrab. Entah sudah beberapa kali dia bolak balik membaca, memudian berhenti menatap langit-langit di jendela kamarnya, merasa seolah-olah buku itu sedang membaca dirinya.

Lama dia membaca, sampai kalimat terakhir dia tutup buku itu saat jam hampir menunjukkan tengah malam. Yang dia rasakan adalah perasaan aneh yang membuat dadanya terasa hangat. Dengan terkantuk-kantuk akhirnya dia memilih untuk menjemput mimpi.

Keesokan harinya, Lia bawa buku itu ke kampus dengan niat hati akan meminjamkannya pada Rani, sahabatnya yang dikenal paling ceria, sebab belakangan ini sahabatnya itu sering tertangkap menyembunyikan kegelisahannya di balik tawanya. Lia merasa yakin akan hal itu, dia percaya diri karena dia adalah sahabatnya.

“Bukunya aneh,” kata Rani dua hari kemudian saat mengembalikannya. Matanya sedikit merah.

“Aneh gimana?” tanya Lia bingung.

“Kayak… nyentuh hal yang nggak pernah aku ceritain ke siapa pun. Aku jadi sadar, selama ini aku hidup cuman buat nyenengin orang lain saja.”

Lia terdiam. Dia yakin bagian yang dibaca Rani bukan bagian yang paling mengena baginya.

Buku itu lalu berpindah tangan ke ayah Lia, seorang pensiunan guru yang kini lebih sering duduk diam di teras rumah. Setelah beberapa hari membaca, ayahnya mulai membuka kembali lemari lama dan mengeluarkan sebuah tumpukan kertas kosong.

“Ayah mau nulis lagi?” tanya Lia saat menjelang pagi, dengan wajah tersenyum kecil.

“Buku itu bikin Ayah ingat, hidup nggak berhenti. Bukan karena cuman sebuah satu peran selesai” kata ayah.

Semakin banyak orang membaca buku itu, semakin dia merasa ada keanehan pada buku itu. Saat buku itu dia baca ulang, entah mengapa ceritanya terasa berbeda. Bukan berubah isi, tetapi dari maknanya. Kali ini, Lia menemukan sebuah kisah di buku tersebut tentang sebuah keberanian yang menerima dari arti kegagalan dan berdamai dengan diri sendiri, makna itu adalah sesuatu hal yang dari dulu selalu dia hindari.

Buku itu bahkan sampai ke tangan ibunya, yang menemukan makna tentang kesabaran. Dan adiknya, yang melihatnya sebagai sebuah cerita tentang harapan. Setiap orang mengembalikannya dengan ekspresi yang berbeda-beda ada yang lebih tenang, lebih berani, bahkan lebih jujur pada diri sendiri.

Hingga suatu malam, Lia membuka halaman terakhir dan menemukan tulisan kecil yang sebelumnya dia tidak menyadarinya.

“Buku ini tidak memberi jawaban. Tetapj hanya membantu pembacanya menemukan pertanyaan yang selama ini disembunyikan.”

Lia tersenyum, matanya berkaca-kaca. Dan Lia pun akhirnya mengerti. Buku itu bukan tentang sebuah cerita di dalamnya, melainkan tentang ruang yang dia ciptakan bagi siapa pun yang membacanya.

Beberapa minggu kemudian, Lia kembali ke kios buku bekas itu. Lia pun meletakkan buku bersampul biru pudar di tempat yang semula dia mengambilnya. Sebelum pergi, dia menyelipkan secarik kertas di halaman pertama.

“Jika kau membaca ini, semoga engkau menemukan maknamu sendiri.”

Hujan kembali turun, membasahi jalan. Lia melangkah pergi dengan hati yang lebih ringan. Lia tahu, satu buku mungkin hanya sebuah benda sederhana yang hanya terdiri dari lembaran kertas dan tinta. Namun di tangan orang yang berbeda dan hatinya yang berbeda, dia mampu menyimpan seribu makna, sebanyak kehidupan hati yang di sentuhnya.

*Penulis adalah Fitra Qamariyah, mahasiswi program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan anggota yang saat ini aktif menulis di LPM Retorika

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here