Minimnya Kesadaran Mahasiswa Terkait Kebersihan Lingkungan Sekitar

0
377
Ilustrasi by Ivan/Mediaretorika.com

Saat mendengar kata lingkungan, tentunya di benak kita terlintas bayangan mengenai gunung, lautan, dan pemandangan indah lainnya. Pernahkah kita berpikir bahwa alam sekitar kita juga termasuk kategori lingkungan?

​Memang benar, pegunungan, lautan, dan keindahan alam lainnya merupakan lingkungan yang spesifik pada alam atau bisa disebut lingkungan alami serta merupakan bagian dari sistem yang lebih luas yang mencakup semua komponen hidup, meliputi tumbuhan dan hewan yang hidup di pegunungan atau lautan, atau komponen tidak hidup yang mencakup faktor fisik seperti air, tanah, bebatuan, udara, serta sinar matahari. Singkatnya, pegunungan, lautan, dan pemandangan alam merupakan lingkungan karena mereka merupakan wadah fisik dan biologis yang mendukung kehidupan, interaksi, dan perkembangan.

​Namun, secara umum lingkungan adalah semua benda dan situasi yang ada di sekitar kita dan dapat memengaruhi orang-orang yang berada di dalamnya. Seperti yang ditegaskan dalam Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) Pasal 1 ayat 1 yang berbunyi, “Lingkungan hidup adalah satu kesatuan ruang yang mencakup segala benda, tenaga, kondisi, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan tindakan-tindakannya, yang saling memengaruhi satu sama lain, menjaga kelangsungan hidup, serta kebahagiaan manusia dan makhluk hidup lainnya.”

​Berdasarkan penegasan di atas, jelas bahwa kampus termasuk dalam kategori lingkungan yang perlu dipelihara oleh makhluk-makhluk di dalamnya. Maka dari itu, sebagai mahasiswa kita harus mencintai lingkungan kampus kita supaya tetap asri dan terawat, baik dari segi alami maupun lingkungan lainnya. Seperti halnya menjaga kebersihan, merawat tanaman, dan mematuhi segala peraturan dan larangan yang berlaku.

​Berdasarkan fakta yang sering kali dapat kita lihat setiap kali datang ke kampus tercinta UPI Sumenep, dari gerbang hingga ke ujung barat, lingkungan alaminya masih asri dan menyejukkan pandangan karena kerindangan dari pohon-pohon cemara yang ditanam berjejer sepanjang jalan. Namun, ada fakta terbalik saat kita berkunjung ke sudut lapangan. Di sana justru yang disuguhkan bukan keindahan melainkan sampah dedaunan dan sampah plastik yang berserakan. Dari fakta tersebut, kita bisa menganalisis faktor banyaknya tumpukan sampah, termasuk dari kelalaian cleaning service atau kesadaran mahasiswanya yang rendah.

​Meskipun tidak se- branding kampus-kampus lain, kampusku tidak kalah menarik. Kampus yang dulunya bernama STKIP PGRI Sumenep kini telah beralih status ke Universitas PGRI Sumenep, yang di dalamnya sama sekali tidak ada perubahan dari segi bangunan dan fasilitas. Namun, dari segi struktur pengelola, kampus ini sudah menyesuaikan dengan universitas lainnya meskipun masih sekian persen. Hal tersebut tidak menjadi masalah serius karena kampus kita ini masih dalam tahap transformasi. Keindahan alam justru menjadi daya tarik dan aset utama yang menjadi pembeda di kampus UPI.

​Keindahan kampus yang sudah terpampang sejak menapaki kaki di gerbang, mata kita sudah dimanjakan dengan pemandangan asri yang menyejukkan. Mulai dari jejeran pohon cemara, taman mini, dan bangunan-bangunan yang megah menjadi tolak ukur keindahan lingkungan kampus UPI tercinta. Sepanjang jalan dipenuhi pohon-pohon cemara yang rindang. Pohon tersebut bukan sekadar pajangan, melainkan bisa menjadi pelindung di tengah panas matahari yang menyengat serta dapat dijadikan lahan parkir praktis yang teduh bagi kendaraan mahasiswa. Selain itu, terdapat taman mini yang terletak di bagian barat samping pos keamanan juga tak kalah menarik. Di sana sering menjadi spot foto favorit mahasiswa untuk mengabadikan momen dan sering kali dijadikan tempat konten karena berlatar belakang yang sempurna dengan menyatunya elemen bangunan, pepohonan, dan langit dalam satu bingkai menjadi penyempurna dari berbagai foto dan konten yang diinginkan.

​Namun, sayangnya keindahan yang menjanjikan kenyamanan dan ketenangan malah dirusak oleh realitas kebersihan yang memprihatinkan. Kebersihan lingkungan yang bisa dibilang masih 60% sebab banyaknya tumpukan sampah yang berserakan di beberapa sudut tertentu. Maka dari itu, kalian jangan tertipu dengan hal tersebut karena keindahan lingkungan di halaman depan tidak sebanding dengan kondisi asli di dalamnya, di mana setiap harinya ada banyak sampah berserakan di sudut tertentu. Kesenjangan ini sangat memprihatinkan, keindahan yang memukau dan sampah yang berserakan.

​Salah satu tempat yang rawan tumpukan sampah adalah di area sekitar lapangan yang sering menjadi tempat ternyaman mahasiswa untuk nongkrong, untuk berdiskusi ringan, atau sekadar mabar (main bareng). Di sana terdapat sampah dari daun-daun cemara yang kering, sampah plastik, dan puntung rokok yang ditinggalkan oleh mahasiswa. Dari tumpukan sampah ini muncul pertanyaan mendasar mengenai akar dari masalah tersebut. Apakah disebabkan oleh kesadaran mahasiswanya yang minim dan merasa malas membuang sampahnya ke tempat sampah yang jaraknya terlalu jauh, atau karena kelalaian layanan cleaning service yang kurang merata dalam menjalankan tugas kebersihan? Masalah ini cukup genting, karena jika masalah ini disebabkan oleh jauhnya jarak tempat sampah, maka ini termasuk kesalahan infrastruktur dan harus segera diperbaiki. Jika disebabkan oleh pola pikir mahasiswanya yang malas untuk membuang sampah pada tempatnya, maka ini menjadi masalah etika dan kedisiplinan yang harus diatasi.

​Namun, bukti lain menunjukkan bukan disebabkan oleh jarak, karena di area kantin pun tidak luput dari masalah sampah padahal sudah menyediakan tempat sampah yang sangat dekat, tepat di pojok dekat kursi. Namun, masih sering kita dapati bungkus makanan dan minuman masih tertinggal di atas meja, bukan dibuang ke tempat yang telah tersedia.

​Masalah kebersihan tidak hanya pada lingkungan terbuka dan tempat umum, bahkan juga terjadi dalam ruang kelas. Bukti nyata bisa kita lihat saat pergantian kelas, sering kali ditemukan sampah di bangku-bangku bekas mahasiswa yang menggunakan kelas tersebut sebelumnya. Seperti halnya sampah bekas botol minuman, makanan ringan, sobekan kertas. Membuang sampah tersebut seharusnya mudah karena tempat sampah tersedia di depan kelas dan searah dengan jalan pulang. Hal ini menjadi tantangan yang serius karena kita sebagai kaum pelajar seharusnya lebih disiplin dan cinta terhadap lingkungan, bukan malah ikut mencemari lingkungan.

​Selain masalah sampah, pelanggaran terhadap peraturan yang lain juga sering terjadi, salah satunya larangan merokok di dalam kelas atau ruangan yang bebas asap rokok (tertutup). Meskipun telah banyak terpampang imbauan “No Smoking”, kebiasaan ini masih sangat sering terjadi.

​Pelanggaran tersebut tidak hanya mencemari udara tetapi juga mengganggu kenyamanan mahasiswa lain. Terutama bagi mereka yang memiliki masalah pernapasan atau alergi, serta berpotensi menjadi perokok pasif. Hal ini menunjukkan bahwa sanksi atau imbauan yang berlaku hingga saat ini belum mampu memberikan dampak yang signifikan, sehingga diperlukan evaluasi kembali terhadap mekanisme pengawasan dan penindakan yang ada.

​Masalah lingkungan yang kotor ini memiliki dampak yang luas, yakni bisa mengganggu kenyamanan belajar dan menjadi tempat bersarangnya penyakit, serta tidak mencerminkan perilaku akademis yang bijak. Oleh karena itu, solusi yang sesuai dengan masalah ini: pertama, pihak cleaning service atau manajemen kampus bisa menambahkan beberapa tempat sampah di titik tertentu yang rawan menjadi tempat tumpukan sampah. Kedua, pihak kampus mengadakan kolaborasi antara mahasiswa dan cleaning service untuk bergotong royong membersihkan lingkungan kampus. Selain membersihkan kampus, kegiatan ini juga membangun rasa tanggung jawab bersama. Ketiga, kampus harus mengadakan edukasi lingkungan terhadap mereka yang melanggar, baik pembuang sampah sembarangan atau perokok, serta bisa memberikan sanksi yang mendidik supaya ada efek jera.

​Kebersihan kampus bukan hanya tanggung jawab cleaning service, melainkan tanggung jawab semua pihak, mulai dari mahasiswa, dosen, staf, pengelola, dan semua yang ada di dalamnya juga mengemban tanggung jawab yang sama. Karena kita semua termasuk dalam bagian lingkungan kampus UPI Sumenep. Prinsip tersebut selaras dengan ajaran agama seperti hadis Imam Tirmidzi yang menegaskan bahwa, “Sesungguhnya Tuhan itu indah dan menyukai keindahan, bersih dan menyukai kebersihan.” Atau dalam sebuah frasa yang sering kali kita dengar dengan ungkapan, “Kebersihan adalah sebagian dari iman.”

 

Penulis bernama lengkap Siti Zainiyah mahasiswa prodi PPKn yang kini aktif menulis di LPM Retorika.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here