Oleh : Inka Gusti Fahriansyah*
Sastra merupakan karya tulis yang memerlukan kekayaan kandungan nilai-nilai, pada umumnya nilai filsafat, nilai lokalitas, dan nilai religius yang berperan penting dalam karya sastra. Aneh rasanya ketika mendengar khalayak yang gemar menulis sastra namun gagu dan hampa akan nilai-nilai tersebut (bukan berarti setiap karya sastra yang mengandung nilai filsafat, lokalitas, dan religius itu dikatakan sastra yang berhasil). Masih ada beberapa unsur yang harus menempati tubuh sastra. Selain itu, seorang sastrawan juga bukan berarti harus menjadi ahli dalam ketiga bidang itu.
Sastra yang baik akan mengandung nilai-nilai kehidupan, seperti nilai filsafat, lokalitas, dan religi. Analoginya, kita tak perlu menjadi pelacur untuk menuliskan tentang prostitusi. Karl Marx pernah mengatakan, materi bergerak sesuai jamannya itu tidak salah.
Sesuai dengan perkembangan sastra masa kini yang kerap setiap hari mencetak ribuan penulis. Namun dari apa yang menjadi kebiasaan penulis masa kini adalah meletakkan nilai romantisme yang sangat kental. Hal tersebut adalah dampak dimana era sekarang para penulis khususnya dalam bidang sastra kurang dalam membaca buku yang menyimpan nilai filsafat, lokalitas, dan religi.
Perkembangan sastra begitu terpengaruh juga dengan keadaan khalayak, penilaian yang kerap tertimbun negatif Seperti yang dicontohkan oleh Dihlyz Yasir dalam berdikaribook.red tahun 2018, dirinya berpendapat “Ketika seseorang nongkrong di kafe dengan buku puisi di tangannya, terlebih lagi jika seseorang itu adalah laki-laki berambut gondrong yang juga kebetulan seorang perokok aktif, maka suara spontan yang muncul dari sekitarnya adalah:
“Bacaanmu kok puisi, sih, lagi galau ya?”
“wajahnya sangar kok bacaannya puisi?”
“Kok mau sih baca puisinya orang?”, atau respon paling parah yang biasa diberikan oleh si penanya setelah tahu bahwa seseorang yang ditanya itu membaca buku puisi hanya sekedar: “Oh..”, lalu ditutup dengan raut wajah yang seolah-olah menganggap puisi itu tak lebih dari sekedar kumpulan kata-kata indah yang hanya cocok dikonsumsi laki-laki baperan,”
Itu berupa bukti bahwa sastra masa kini sangat menyemerbak harum romantisme dari pada nilai-nilai filsafat, lokalitas, dan religius. Selain tergesernya ketiga nilai tersebut, merosotnya kualitas sastra dapat kita lihat dari banyaknya karya yang terbit tanpa proses pengoreksian terlebih dahulu (maraknya self publishing servis). Dimana penerbit hanya terobsesi atau terpengaruh oleh suasana kapitalisme dari pada kandungan karya yang mereka terbitkan.
Terlebih lagi penerbit yang tak tertulis sejarahnya yang kemudian berbondong-bondong memberikan diskon melimpah, lebih miris lagi mencantumkan nilai gratis bagi semua tulisan. Hal tersebut merupakan sistem awal pemasaran penerbit agar mempunyai nama baik secara nasional bahkan global.
Dampak yang membumbui tak lepas dari tangan-tangan kapitalis yang telah mengubah wajah sastra masa kini. Karya sastra dilihat dari tekun tidaknya karya tersebut dipromosikan dengan aspek-aspek unik yang meracuni minat baca, seperti halnya karya romantisme.
Banyak pembaca yang tidak mau mengenal karya sastra seperti karya Pramoedya Ananta Toer yang menyimpan nilai kehidupan realistis. Sehingga hal tersebut tumbuh penulis-penulis sastra yang tidak memegang teguh nilai-nilai dan unsur sastra yang sebenarnya. Di benak kapitalis, yang terpenting adalah terbit dan berpenghasilan.
Dari apa yang terpapar di atas, sangat nampak sekali pergeseran karya sastra. Tangan kapitalis terus meraba minat pembaca sehingga karya sastra baik dibekam oleh sastra yang tiba-tiba sastra.
*Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumenep, Semester I.












