
Kini duduk melingkar ditemani secangkir kopi dengan kepulan asap rokok menyelimuti suasa agar tetap hangat tak dapat dilakukan dengan konsistensi yang sama, dimulai dari obrolan ringan hingga berat ketika menuju tengah malam rasanya sudah asing sekali. Sejak diberlakukannya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) menikmati hari tidak seperti biasanya, berdiam diri di rumah meratapi nasib betapa hebatnya negeri ini melakukan setiap lakon dangan sangat apik. Terus berlarut-larut dengan keadaan sampai tiba saatnya kesadaran sedikit mengusik ternyata diri ini sudah lama berhibernasi, jauh dari kata produktif bahkan untuk menyadari bahwa banyak hal yang menarik sedang menunggu untuk diulas dan disampaikan lewat tulisan. Selama situasi itu diri ini tidak mampu melakukannya karena kenyataan yang dihadapi sangat memprihatinkan, saraf di otak seakan-akan enggan untuk menggerakkan jari-jari ini. Entahlah, mungkin penyebabnya karena terlalu lelah, jengah dengan drama yang terjadi di negeri tercinta ini.
Media massa menggaungkan hal yang sama mengumumkan pemberlakuan PPKM kembali, lengkap dengan berbagai pendapat dan dukungan para ahli segala bentuk dampak yang ditimbulkan baik dari sisi positif maupun negatif, selaras dengan hal itu, meme dengan beberapa gambar yang syarat akan kritik sosial tak terhitung jumlahnya juga santer beredar di media sosial. Kondisi sempat chaos, penolakan dari beberapa kalangan para pedagang yang menggantungkan hidupnya sehari-hari dari hasil berjualan terjadi di mana-mana. Penertiban dilakukan dengan penjeratan beberapa pasal yang terkadang tidak sesuai dengan konteks yang terjadi di lapangan, lebih parahnya lagi para pedagang rela menerima hukuman dipenjara sekalipun karena mereka menganggap apa yang mereka langgar semerta-merta hanya untuk melanjutkan hidup, begitu sederhana tetapi inilah promblematika yang terjadi. Berbicara tentang PPKM ingatan tertuju pada salah satu gambar meme yang beredar di media sosial cukup menarik perhatian, terpampang dalam satu frame terdapat dua kondisi dengan strata sosial yang berbeda, kondisi pertama menunjukkan betapa senangnya seorang ibu sedang menjelaskan kepada anaknya bahwa papanya akan dinas lagi di rumah tetapi gaji tetap cair sedangkan kondisi yang kedua seorang ibu yang menjelaskan kepada anaknya yang lapar untuk bersabar karena odong-odong bapaknya dilarang beroperasi sehingga untuk makan hari ini tidak ada uang sepeserpun, sungguh miris beginilah kenyataan yang sedang terjadi di negeri ini. Kita yang miskin dipaksa untuk berdamai dengan keadaan sedangkan yang kaya menikmati ini tanpa adanya rasa kekhawatiran.
Sebernarnya tidak ada kebijakan yang ujug-ujug disahkan atau diberlakukan kepada masyarakat, melaikan melalui proses pertimbangan yang sangat panjang. Tetapi, dari pertimbangan yang panjang itu mengapa kemungkinan yang satu ini tidak terbaca jika pemerintah dengan tujuan awal menekan pertumbuhan penyebaran covid-19 dengan cara PPKM, lantas mengapa rakyat harus dikorbankan? Seperti melempar batu sembunyi tangan, rakyat kecil yang tertindas merintih kelaparan sedangkan para elit kekuasaan memerankan lakonnya dengan baik dan seolah-olah abai dengan nasib rakyatnya. Mereka enak menikmati PPKM ditemani dengan sinetron kesukaannya, lalu apa kabar para tukang odong-odong yang dapurnya dari pagi belum mengebulkan asap?, bukannya ingin menjadi pembelot atau rakyat yang tidak patuh terhadap pemerintahnya, hanya saja ingin meminta belas kasihan kepada para petinggi untuk bisa melihat ke bawah, ingat kami rakyatmu jangan sampai egosetrisme kalian menjadikan kami bangkai terbengkalai. Covid-19 musuh kita bersama tetapi tolong perhatikan kami, rangkul kami, dan jangan injak kami namun selamatkan kami. Lao zi dengan quotenya “Kebaikan dalam kata-kata menciptakan keyakinan, kebaikan dalam berpikir menciptakan kebesaran hati, kebaikan dalam tindakan menciptakan cinta”. Keharmonisan dan keselarasan akan didapat ketika kebaikan itu dengan tulus menyertai kami para rakyat kecil, kita akan patuh dengan kebijakan apapun asalkan kebijakan itu tidak menindas kami, utopis memang. Namun sistem demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat apakah kini hanya kata-kata saja, siapa yang tahu?.
*Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) STKIP PGRI Sumenep, semester II.











